Rabu, 08 Desember 2010

pinpin


Namaku Pipin. Dulu aku tinggal di sebuah desa di Kecamatan Rongrong. Umurku delapan tahun, belum lulus sekolah dasar. Tetapi, aku sekarang tidak sekolah lagi karena yang kelihatan dari sekolahku cuma kerangka atap. Selebihnya, yang terlihat cuma genangan bubur mendidih yang menjadi kolam. Setiap hari bubur itu semakin meluber seakan-akan sudah tidak cukup tertampung panci. Sekarang, bahkan sudah mencapai jalan raya dan menggenangi rel kereta api.
Orang tuaku juga tidak bekerja lagi. Dulu ayahku punya sepetak sawah kecil yang ditanami padi. Cuma sepetak kecil, tetapi cukup untuk mengisi perut dan menyekolahkanku serta kedua kakakku. Kalau menjelang musim panen, sawah ayah kelihatan cantik sekali dengan bulir-bulir padi yang sarat menunduk berwarna keemasan. Padahal, daun padi cuma seperti ilalang. Ayah menyebut padi adalah buah ilalang. Ayah bilang, jangan meremehkan ilalang. Kelihatannya cuma seperti belukar, tetapi ada buah yang menjadi hidup manusia di sana .
Di bagian depan pematang sawah, sejak dahulu ada pipa-pipa raksasa tertanam membujur dari ujung ke ujung desa satu ke desa lain. Aku tidak pernah tahu pipa apa itu. Kata ayah, itu milik Tuan Bakir. Tetapi, aku tidak pernah melihat Tuan Bakir. Ayah bilang, Tuan Bakir tinggal di nirwana. Kalau ayah menanam padi, Tuan Bakir menanam pipa. Ketika aku bertanya kenapa Tuan Bakir menanam pipa? Bukankah lebih baik seperti ayah, menanam padi saja? Aku tidak mengerti apa gunanya menanam pipa. Ayah berkata, tetapi tidak memberikan jawaban, "Belajarlah yang rajin, supaya bisa menanam pipa seperti Tuan Bakir sehingga tinggal di nirwana. Tidak tinggal di desa."
Lalu ketika suatu hari, pipa-pipa Tuan Bakir mendesis mengeluarkan asap berbau busuk, aku jadi teringat mulut bayi tetangga yang dipenuhi bubur sampai belepotan ke pipi, ke hidung, ke seluruh wajahnya. Seperti itulah wajah desaku sekarang. Perut bumi meledak memuntahkan semua isinya. Ada kerikil, tanah, lumpur yang melebar dari sawah, rumah, masjid, sekolah, menenggelamkan satu desa. Tidak cukup satu desa. Lumpur itu seperti ular yang merayap menjelajah ke desa lain. Menenggelamkannya lagi.
Kata ayah, itu ular peliharaan Tuan Bakir yang sedang kelaparan setelah bertapa sekian ribu tahun. Awalnya, ia cuma pipa besi. Lama-kelamaan menjadi ular bersisik api yang kelaparan. Maka, keluar menelan apa saja sampai enam desa amblas karena dua desa masih belum cukup mengenyangkannya. Ia membuat mulut-mulut terngangga karena tidak mampu menahan laju semburannya, karena kehilangan sawah, ladang, rumah, semua yang dipunyai, karena kelaparan.

***

Awalnya, aku senang sekali sekolahku ditenggelamkan lumpur. Karena aku tidak perlu bangun pagi dan terburu-buru ke sekolah. Aku paling benci pelajaran matematika. Kupikir, sekarang bisa bebas bermain seharian tanpa harus belajar untuk menghadapi ulangan.
Akan tetapi, aku sekarang heran. Kalau tidak salah hitung (karena nilai matematikaku selalu di bawah lima), aku sudah tidak sekolah lebih dari 365 hari. Sudah setahun lebih! Aku mulai rindu ke sekolah. Karena di sekolah ada pelajaran menyanyi. Aku paling suka menyanyi. Cita-citaku ingin jadi penyanyi yang masuk televisi.
Pok Ami-ami, belalang kupu-kupu. Siang makan nasi kalau malam minum susu. "Pok Ami-ami" adalah lagu kesukaanku.
Sekarang bukan saja aku tidak tahu harus sekolah di mana. Yang lebih membingungkan adalah kami harus tinggal bersama banyak orang. Amat banyak orang. Kami bukan tinggal di rumah besar, tetapi tinggal di petak los sebuah pasar.
Petak los kami hanya berukuran sekitar empat kali empat meter. Di petak ini, tinggallah ayah, ibu, aku, dan kedua kakakku — Olap dan Ndo, namanya. Petak los kami hanya disekat kain terpal atau kain lebar seadanya untuk memberi batas dengan petak los di kanan, kiri, dan belakang kami. Di dalam petak los ini hanya ada sebuah televisi kecil dan kipas angin. Hanya dua benda itu yang sempat kami selamatkan ketika ular lapar itu menerjang rumah kami. Selebihnya tidak ada apa-apa. Kami tidur berhimpit-himpit beralaskan tikar-tikar yang diberikan orang lain. Untuk mandi atau buang hajat, kami harus antri berjam-jam di kamar mandi umum yang hanya ada beberapa. Padahal, yang tinggal di petak los pasar ini lebih dari 5000 orang.
Menjelang magrib, pasukan nyamuk mulai datang. Mereka juga kelaparan. Mereka menyerbu kami dengan suara mendenging, seperti bunyi pesawat terbang. Mereka menusuki wajah, telinga, kaki, dan tangan kami dengan jarum-jarum mereka yang tajam. Bila seekor kenyang, yang seekor lagi datang. Gatal dan panas ada di tiap jengkal pori-pori kami sampai pagi menyembul.
Ndo kakakku selalu mengomel kalau aku rewel. "Ini namanya pengungsian!"
"Jangan kepingin yang enak-enak. Rumah kita sudah tenggelam. Makanya kita mengungsi," kata Olap ikut menggerutuiku.
Aku jadi mengerti bahwa mengungsi itu adalah pindah tempat tinggal beramai-ramai. Ternyata, di tempat pengungsian, aku baru tahu bahwa orang-orang dewasa punya banyak cara untuk membunuh waktu. Mereka tidak sekadar bermain catur, duduk menghisap rokok, menjemur kerak nasi, tetapi mereka juga suka bermain pok ami-ami dan petak umpet.
"Olap, Pipin, Ndo, kalau kain-kain sekat sedang tertutup, kalian jangan membuka atau mengintip ya...," tutur ibu berpesan kepada kami.
"Kenapa?" Aku memang yang paling rewel bertanya.
"Karena kami sedang bermain pok ami-ami," kata ibu.
Aku tidak habis pikir. Kenapa kalau orang tua bermain pok ami-ami harus bersembunyi? Sedangkan aku, Olap, dan Ndo bermain di tengah lapangan.
Aku juga heran. Sejak kami di sini, setiap hari ada yang mengirim banyak nasi bungkus. Kalau nasi itu datang, semua orang di tempat ini berebut mengambil nasi bungkus itu. Padahal, nasinya keras dengan lauk, seiris telor, setipis kulit bawang. Tidak jarang sudah setengah berbau basi.
"Sudah, makan saja! Jangan cerewet!" kata Olap melahap nasi bungkus yang dibagikan itu.
"Sudah syukur ada yang memberi makan!" ujar Ndo.
Sejak itu aku jadi terbiasa menelan nasi bungkus jatah itu. Aku juga terbiasa ikut antri bila ada mobil datang membawa bermacam-macam kebutuhan mulai dari mi instan, sabun, odol, sampai biskuit. Padahal dahulu, ibu bisa membelinya di warung, di depan rumah. Walau bukan barang-barang mewah seperti yang kulihat di televisi, tetapi tidak perlu antri berebut jatah. Namun, lambat laun aku terbiasa merasa gembira ketika menerima pemberian jatah. Juga terbiasa dengan berperang melawan pasukan nyamuk. Terbiasa pula mengintip orang dewasa yang bermain petak umpet dan pok ami-ami di tengah hari bolong.
Semua yang terjadi di tempat pengungsian ini sudah bukan hal yang luar biasa.
Sama halnya dengan kami, sudah terbiasa ketika para pejabat bermobil hilir mudik keluar masuk pengungsian, bertanya makanan kami bagaimana (sepertinya bersimpati), manggut-manggut mendengarkan keluh kesah kami, lalu mereka pulang.
Kami juga terbiasa dengan para wartawan yang memotret kelusuhan kami lalu memajangnya di halaman depan koran atau muncul di televisi. Ternyata tidak harus menjadi artis terkenal untuk bisa mejeng di koran atau televisi. Menjadi pengungsi pun dihujani lampu cahaya.
Ketika ada rombongan artis datang ke pengungsian, kami berbondong-bondong menempel sedekat mungkin dengan mereka. Agar potret kemiskinan kami sama berharganya dengan keindahan yang mereka punya. Semua orang lari berebut menyalami artis pujaannya. Lupa dengan kerak nasi yang dijemur, lupa antri di kakus umum, lupa pasukan nyamuk, lupa ular lapar yang memuntahkan lumpur. Kami lupa penderitaan. Padahal itu hanya beberapa menit. Setelah rombongan itu menghilang, kami kembali dimanjakan kemiskinan.
"Siapa bilang kita miskin? Aku punya uang! Ayo, kita jajan!" begitu kata Olap dan Ndo mencela pikiranku.
Aku baru tahu kalau mereka sekarang banyak uang jajan tanpa perlu minta kepada ayah yang setiap hari termangu di depan bidak catur atau ibu yang setiap hari menjemur kerak nasi. Ndo mengatakan bahwa ia menjadi joki penunjuk jalan kepada mobil-mobil yang melalui gang kampung, karena jalan raya sepanjang Kecamatan Rongrong sudah ditutup. Sedangkan, Olap menjadi tukang parkir di lokasi sarang ular lapar memuntahkan lumpur. Olap mengatakan bahwa banyak mobil dan motor di sana. Mereka seakan sedang berdarmawisata menonton musibah.
"Kita bukan orang miskin! Ayo, kita menuntut hak kita! Rumah, sawah, ladang, dan harta benda kita semua tenggelam karena ular raksasa peliharaan Tuan Bakir memuntahkan lumpur. Kita harus meminta ganti rugi! Kita harus memperjuangkan nasib kita sendiri karena tidak ada yang memperjuangkan kita. Apa Tuan Bakir mau disuruh merasakan nasi jatah? Sudikah para pejabat yang hilir mudik itu menjadi mangsa nyamuk? Televisi, koran, dan para artis jangan cuma pasang aksi prihatin, tetapi mendapat keuntungan dari penderitaan kita. Kita tidak butuh sumbangan. Kita perlu kehidupan!" Entah dari mana mendadak para penduduk desa yang lugu menjadi pintar berkobar-kobar membawa spanduk. Mereka berteriak-teriak di jalanan, di depan kantor bupati, di depan kantor gubernur, di depan gedung wakil rakyat. Katanya mereka hendak berbondong-bondong menghadap ke istana presiden.
Aku tidak tahu bagaimana ceritanya, mendadak ayah, ibu, dan para pengungsi itu menjadi pintar. Yang kutahu penderitaan memang membuat manusia menjadi pintar. Seperti Olap dan Ndo yang sekarang pintar mendapatkan uang jajan.
Aku juga tidak tahu kenapa suara jerit begitu banyak pengungsi hanya bisa sampai di depan pintu kantor para petinggi negeri? Cuma sampai di depan! Suara kami tidak bisa terdengar ke dalam. Apakah teriakan kami kurang keras atau mereka sudah tidak bertelinga?
Suatu hari ayah pulang dengan suara yang sudah parau karena lelah berteriak-teriak. Bukan saja suaranya hilang, tetapi sinar matanya juga hilang. Padahal, ada beberapa dari para pengungsi pulang dengan wajah berbinar sumringah dan senyum lebar. Ia mengatakan, besok disuruh tanda tangan mendapatkan ganti rugi sehingga bisa langsung meninggalkan pengungsian. Meninggalkan nasi jatah, pasukan nyamuk, dan tidak perlu bermain pok ami-ami lagi di dalam sekat los. Ganti ruginya berlipat ganda, bisa untuk membeli rumah baru, sawah baru, motor baru, baju baru, karena ada yang mencapai 500 juta rupiah. Aku tidak bisa membayangkan bisa mendapat berapa telur puyuh kesukaanku dengan uang sebanyak itu.
"Mereka mendapat rezeki nomplok. Mereka bisa menunjukkan sertifikat bukti tanah," kata ayah dengan pandangan kosong melompong. "Padahal, kepala desa tahu kita adalah warganya, tahu kita punya rumah, tahu kita punya sawah. Tetapi, bagaimana mungkin sempat memikirkan mengambil surat tanah pada saat lumpur panas menenggelamkan semua milik kita? Bisa menyelamatkan selembar nyawa di badan pun sudah bersyukur," tutur ayah sambil menitikkan kristal bening.
Ibu menadahkan tangannya ketika kristal bening itu meluncur jatuh. "Kalau begitu, kita memang perlu bersyukur untuk seutas napas yang masih ada. Olap, Pipin, dan Ndo adalah harta kita yang paling berharga," katanya.
"Tapi, kita jadi orang miskin. Kita tidak punya uang," kristal beningnya tumpah berlelehan seperti lumpur yang terus meluber. Seperti itulah tangis yang hanya tersimpan dalam sedu sedan.
"Kita tidak miskin!" ujar Olap.
"Kita punya uang!" seru Ndo.
Lalu kedua kakakku itu menumpahkan semua isi sakunya yang berisi uang receh dan lembar seribuan.
"Kita bisa tetap jajan!" seruku gembira bertepuk tangan.
Olap dan Ndo menggandengku ketika ada suara penjual telor puyuh keliling di depan halaman pasar penampungan pengungsi.
Aku berlari sambil bernyanyi, "Pok ami-ami, belalang kupu-kupu, siang makan lumpur kalau malam minum lumpur!" ©



BIODATA PENULIS

Lan Fang, lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Penulis perempuan berdarah Tionghoa ini merupakan pengarang senior yang telah mempublikasikan karyanya pada berbagai media cetak nasional. Ia kerap menjuarai lomba menulis cerber di majalah Femina, dan LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang. Novel maupun noveletnya sudah banyak yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Ia juga merupakan salah satu pengarang perempuan yang sering menerbitkan cerita bertema pembauran dan antidiskriminatif gender perempuan di Indonesia.

jangan main-main dengan perempuan

Ada tabir yang menghalang serupa halimun
lindap cahaya bersembunyi malu-malu
dalam jubah perempuan beraura putih
: kilau cahya sepasang matanya menjelma bintang
gulita tersingkap bagai gergasi nan kapar
"Biarkan ia terbang seperti merpati,
singkap pintu dari kerangkeng emas
dan sangkar madu yang terbuat dari kristal berlian!"

Perempuan yang dilentuk dari cahaya surga
biarkan aku terkurung dalam empat tembok gawir
merenungi tindakku yang keliru
dalam penjara hati yang telah kucipta
setinggi binara menjulang langit

Perempuan, oh perempuan
: bunuh aku dengan kilau matamu yang setajam pedang
untuk menebus dosa-dosa kaumku,
terhadapmu
cahaya yang dilentuk sesempurna surga!

(Effendy Wongso —
Bunuhlah Aku, Perempuan!)

***

Malam ini aku sungguh terkejut ketika melihat perempuanku berdiri di depanku. Ia bebas!
"Apa yang kau tulis? Apa kau menulis tentang perempuan lagi?" Mendadak saja ia sudah mendelik di depanku.
"Kenapa?" tanyaku acuh tak acuh dengan rasa tidak senang.
Menurutku apa yang akan aku tulis adalah urusanku sendiri. Karena apa yang akan aku tuangkan dalam kata-kata adalah apa yang ada di dalam otak dan kepalaku! Jadi bukan wewenang perempuanku untuk melakukan intervensi terhadap apa yang akan aku tulis.
Jujur saja, aku tidak suka dengan kehadirannya di saat aku menulis. Ia selalu mengusikku dengan segala kenyinyirannya sehingga apa yang aku tulis tidak murni dari jari-jemariku sendiri.
Karena ketidaksukaanku itulah, maka ia kupasung selama lima tahun!
Lima tahun yang lalu, bibirnya yang indah kujahit, gigi geliginya kucabut, dan lidahnya kupotong. Lalu bibirnya yang indah itu, gigi geliginya, dan lidahnya, kusimpan di dalam toples yang berisi air keras. Kuawetkan di dalam toples itu! Tidak hanya itu! Kalau boleh aku meminjam istilah Agatha Christie ketika menggambarkan otak Hercule Poirot adalah"sel-sel kelabu"-nya dan semangatnya kukunci di dalam gudang gelap. Dan rongga matanya yang kerap kali mengeluarkan butir-butir ai mata, aku cungkili lalu kubekukan di dalam frezer.
Sehingga dalam lima tahun terakhir ini, perempuanku tidak bisa berkata-kata, tidak mempunyai semangat karena sel-sel kelabu di kepalanya tidak berjalan normal, dan tidak bisa mengeluarkan airmata sama sekali! Ia benar-benar seperti robot. Ia tertawa tetapi tidak bisa menyeringai. Ia menangis tetapi tanpa airmata. Ia tubuh tanpa jiwa. Ia bergerak hanya berdasarkan perintahku ketika aku membutuhkannya untuk menyiapkan segelas kopi untukku. Seluruh roda hidupnya kubuat jalan di tempat.
Setiap hari perempuanku sibuk dengan dirinya sendiri. Ia sibuk mencari mulut yang memuat lidah, bibir, dan giginya, juga memunguti kristal-kristal airmatanya di dalam frezer, atau merenda sel-sel kelabu di dalam kepalanya dan menyulam semangatnya yang hilang.
"Apa kau menulis tentang perempuan lagi?" Suara perempuanku mengelegar kali ini.
Aku tengadah karena terkejut. Jari-jemariku berhenti menari di atas keyboard tuts-tuts laptopku. Dan aku terperanjat tidak kepalang tanggung ketika aku menyadari perempuanku berdiri di depanku dengan begitu perkasa! Jahitan di bibirnya sudah rentas. Gigi geliginya sudah menjadi taring semua. Dan... lidahnya berapi!

***

Karena ia adalah makhluk lemah sekaligus kuat, ia direndahkan tetapi dibutuhkan, ia tidak berarti apa-apa tetapi sangat berharga!

Astaga!
Aku larikan pandanganku ke toples berisi air keras di mana aku mengawetkan organ-organ mulut perempuanku. Semua masih lengkap di dalam toples itu....
"Bah! Kau kira kau bisa memasung mulutku untuk selamanya?" Ia bertanya dengan ketus.
Aku berlari ke gudang gelap di mana aku menyekap sel-sel kelabu otak dan semangatnya. Semua masih ada di tempatnya.
"Kau pikir aku tidak bisa mendapatkan sel-sel kelabu dan semangat baru?" Ia bertanya dengan nada mencemooh.
Aku berlari lagi membuka frezer. Kulihat butir-butir airmatanya yang membeku masih menjadi stalagnit dan stalagtit di sana. Tidak ada yang berubah.
"Kau mau aku tidak bisa tertawa dan menangis untuk selamanya, kan? Kau kira semudah itu?" Suaranya terdengar sampai di tempat aku berdiri.
"Lalu apa maumu?" Kudengar nada suaraku setengah putus asa.
Aku berjalan gontai dengan bahu lesu kembali ke tempat dudukku. Aku merasa seperti ada sebuah bahaya laten yang mengancamku. Naluriku mengatakan bahwa perempuanku sekarang lebih berbahaya dibanding lima tahun lalu.
"Jangan main-main dengan perempuan!" jawabnya cepat dan tegas.
"Apa?!"
"Jangan main-main dengan perempuan!" Ia mengulangi kalimatnya.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu...."
"Baik. Sekarang giliranmu untuk duduk dan mendengarkan kata-kataku. Tutup laptopmu. Karena aku muak dengan semua tulisanmu yang gentayangan di dunia perempuan. Sekarang aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!" perintahnya seperti seorang juragan.
Nah, nah, nah... inilah salah satu alasan kenapa aku memasungnya lima tahun lalu. Ia benar-benar seperti seorang juragan, seorang bos, seorang atasan, seorang direktur, kalau sudah mengeluarkan kata-kata. Ia perempuan yang bisa membuat kebanyakan orang mengiyakan semua kata-katanya.
Tetapi, tidak aku!
Justru aku adalah orang yang membuatnya mati dari kata-kata. Memasungnya mati dari emosi. Membuatnya tidak peduli dengan dunia sekitarnya. Kusibukkan ia dengan mencari mulut, sel-sel kelabu, semangat, dan airmatanya.
Perempuanku mengambil posisi duduk di depanku. Ia pandangi aku dengan matanya yang berapi. Lalu mulai bicara lagi dengan lidahnya yang berapi pula.
"Aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!" Ia mengulangi kata-katanya.
"Aku tidak bisa...."
"Harus bisa!" potongnya cepat."Sudah terlalu banyak dan sudah terlalu lama perempuan dipermainkan dari segala segi. Coba kamu lihat semua iklan di televisi, mulai makanan, sabun, elektronik, pakaian dalam, obat datang bulan sampai obat panu kadas dan kurap, semua memakai perempuan," ia mulai nyerocos dengan intonasi suara yang semakin lama semakin tinggi.
"Itu namanya perempuan mempunyai nilai jual karena indah dan menarik."
"Bah! Perempuan mempunyai nilai jual? Apa maksudnya perempuan itu menarik? Lalu dengan alasan menarik itu kalian, kaum laki-laki, dengan seenaknya saja mempelajari dan membedah perempuan bukan saja secara visual tetapi juga secara riil. Dokter-dokter kandungan mengobok-obok perempuan mulai dari labia mayora, labia minora, saluran falopii, uterus, bahkan menjadikannya kelinci percobaan untuk proses inseminasi, bayi tabung, bahkan mungkin program cloning di kemudian hari, dengan alasan kemajuan ilmu kedokteran."
"Itu namanya kodrat. Karena itu perempuan berharga...."
"Apa katamu?" Ia seperti harimau meradang.
Matanya semakin berapi. Lidahnya semakin membara.
"Perempuan berharga?! Kalau perempuan berharga kenapa undang-undang perkawinan hanya mengatur tentang poligami? Kenapa tidak mengatur tentang poliandri? Kenapa kalau perempuan tidak bisa memberikan keturunan bisa menjadikan alasan bagi laki-laki untuk kawin lagi? Bagaimana dengan laki-laki yang impoten, azospermia, ejakulasi dini, atau apa saja namanya... bisakah dijadikan alasan buat perempuan kawin lagi? Di mana hukum perkawinan kita menempatkan bahwa perempuan itu berharga?"
"Ah... kau lebih baik menjadi aktivis perempuan dan ikut demo di bundaran Hotel Indonesia saja sambil membawa spanduk besar-besar membela hak asasi perempuan," aku mulai kalah omong.
Nah, nah, nah... wajar kan kalau perempuanku kupasung lima tahun lalu? Memang semua yang dikatakannya benar dan masuk akal. Tetapi juga benar-benar membuat posisi laki-laki berbahaya.
"Kalian, kaum laki-laki, masih belum cukup puas dengan itu. Semua wartawan koran masih saja menulis tentang perempuan yang diperkosa dengan visum et repertum vagina sobek dan selaput dara rusak, lalu dibunuh, dipotong-potong dan dibuang. Kenapa tidak pernah ada berita seperti ini... .hm...." Ia kelihatan berpikir sejenak."Begini:: Telah ditemukan mayat seorang laki-laki di atas tempat tidur dalam keadaan telanjang dengan bagian-bagian tubuh terpotong-potong, kepala lepas dari tubuhnya, dan menggigit penis yang dijahitkan ke mulutnya sendiri. Bagaimana?"
Huek!
Tetapi perempuanku justru tertawa terkekeh-kekeh sampai airmatanya meleleh.
Setelah lima tahun, baru kali ini aku melihat matanya mengeluarkan airmata lagi, bibirnya menyeringai tertawa, dan ada nada suara yang keluar dari labirin tenggorokannya.
Aku tidak tahu apa makna tertawanya. Ia sukakah? Gelikah? Getirkah? Atau mungkin aku terlalu lama memasung perempuanku sehingga aku sendiri tidak mengenal makna tertawanya dan tidak bisa membaca arti airmatanya? Aku tidak kenal dengan perempuanku sendirikah?
Sehabis tertawanya yang cukup lama, ia menarik nafas panjang. Mengambil sebatang rokokku di atas meja, menyulutnya dengan lidahnya yang berapi. Ia memang tidak memerlukan korek api lagi karena lidahnya sudah berapi.
"Sekarang, kalian yang mengaku penulis, juga beramai-ramai menulis tentang perempuan. Kalian telanjangi perempuan di atas kertas sampai tidak ada ruang untuk sembunyi lagi untuk perempuan. Kalian geluti dan perkosa perempuan beramai-ramai dari visualnya, haknya, organnya, emosinya, airmatanya, juga kelaminnya!"
"Ng... karena perempuan menarik. Ia marah menarik, ia tertawa menarik, ia menangis juga menarik, ia telanjang... apalagi. Menarik sekali!"
"Ya, kalian telanjangi perempuan habis-habisan."
"Karena menelanjangi perempuan itu nikmat."
"Kenapa tidak menelanjangi pemikirannya, ide-idenya, semangatnya, kekuatannya, atau telanjangi penderitaan dan rasa sakitnya?" kata-katanya seperti peluru keluar dari moncong senapan.
Sementara itu asap rokoknya mengepul sambung-menyambung seperti asap lokomotif kereta api.
Aku terdiam.
"Atau... karena kalian cuma main-main dengan perempuan...." Ia menutup kata-kata dengan nada sumbang.
Mungkin, ya.
Mungkin?
Ya. Mungkin.
Perempuan memang obyek yang menarik untuk dijadikan mainan kata-kata, mainan imajinasi, mainan emosi, juga mainan inspirasi. Tetapi jika ternyata"permainan" dengan perempuan itu akhirnya menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan seperti yang dirasakan oleh perempuanku, aku masih tidak tahu harus meletakkan masalahnya di mana.
Apakah memang perempuan adalah obyek lemah yang mudah dipakai sebagai mainan? Atau memang perempuan justru obyek kuat yang menikmati dirinya ketika dipergunakan sebagai mainan? Apakah perempuan memang begitu menarik dan berharga dari segala segi sehingga menjadi komsumsi pasar, teknologi, sampai kepada para pujangga dan seniman? Atau sebaliknya, perempuan justru sangat rendah sehingga tidak mempunyai persamaan hak di dalam hukum dan seks?
Tetapi bagaimanapun perempuan, apakah ia kuat atau lemah, apakah ia berharga atau rendah, ternyata ia tetap menjadi"obyek". Karena begitu ia ingin mengganti posisinya menjadi"subyek", maka seperti aku, kaum laki-laki akan memasungnya. Karena sebagaimana yang kupikirkan, jika perempuan menjadi"subyek" maka ia akan membahayakan posisi laki-laki.
Karena ia adalah makhluk lemah sekaligus kuat, ia direndahkan tetapi dibutuhkan, ia tidak berarti apa-apa tetapi sangat berharga!
Tengah aku masih sibuk dengan debat kusirku sendiri, perempuanku mendekat dan berkata,"aku ingin bercinta denganmu malam ini...."
Ia hembuskan sebuah udara dari mulutnya yang merupakan campuran dari nafasnya yang wangi dan kepulan asap rokok. Begitu seksi dan menggoda. Tetapi aku lebih merasakan itu sebagai sebuah perintah daripada sebuah permintaan.
Aku gemetar.
"Tidak, aku tidak berani main-main dengan perempuan...." ©

(Untuk Segumpal Rose: Terima kasih, kamu tidak pernah main-main. Saya percaya!)
*) Inspired by: Jangan Main-Main (dengan) Kelaminmu karya Djenar Maesa Ayu.



BIODATA PENULIS

Lan Fang, lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Penulis perempuan berdarah Tionghoa ini merupakan pengarang senior yang telah mempublikasikan karyanya pada berbagai media cetak nasional. Ia kerap menjuarai lomba menulis cerber di majalah Femina, dan LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang. Novel maupun noveletnya sudah banyak yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Ia juga merupakan salah satu pengarang perempuan yang sering menerbitkan cerita bertema pembauran dan antidiskriminatif gender perempuan di Indonesia.

cinta dalam gelas

Aku menunggu bis di halte sambil merenung. Setiap saat, rutinitas yang kujalani ini demikian menjemukan. Aku harus bertahan. Pengalaman telah mengajariku banyak hal.
Namaku Nessya. Nessya Julia Chandra. Aku masih menyimpan kenangan usang. Kenangan lawas yang mungkin dapat dijadikan pelajaran bagi kita untuk bertindak bijak. Sebuah pemberontakan dari anak gadis yang tersisih akan menimbulkan prahara. Mungkin ini terlalu naif. Mungkin ini terlalu klise. Tetapi tidak bagiku. Sebab, aku, Nessya Julia Chandra, akan selalu berserah kepada Tuhan, agar tidak salah melangkah. Agar tidak terjatuh dalam limbah dosa!
Entah aku harus melamunkan apa lagi hari ini?
Memikirkan apa hari ini?
Mengharap ada keajaiban yang datang dalam kehidupanku, dan mengubah pikiran kedua orangtuaku yang melulu memikirkan bisnisnya!
Mungkin.
Tetapi sampai sekarang semuanya hanyalah angan-angan, dan dalam kenyataannya, mereka memang menganaktirikan aku, putri tunggalnya, dan lebih mementingkan bisnis mereka sebagai anak favorit!
Aku menggigil dalam dingin. Hujan mulai menitik, dan perlahan menjadi tirai lebat seperti rumbai raksasa.
Bis yang menuju arah rumahku datang, dan aku akhirnya menaiki bis itu. Aku duduk di tempat duduk pojok paling belakang. Saat itu bis begitu sepi, dan hanya menyisakan beberapa orang. Entah kenapa rasa-rasanya aku ingin menangis. Menangis mengingat kenangan lawas saat dingin menyergap dalam sunyi. Airmata hampir jatuh menetes, tetapi masih berusaha kutahan. Sambil melihat ke arah kaca bis, aku melihat hujan yang menderas. Sepertinya alam bernyanyi pilu, mengikuti isi hatiku yang belah dalam giris luar biasa.

***

"Duh, anak Mama kok basah kuyup kayak begini? Sebentar kalau sakit bagimana?" sambut Mama sambil menyambut tasku, dan mengambil handuk kecil berwarna hijau muda untukku. "Memangnya hari ini kamu tidak bawa payung? Padahal, Mama dan Papa kan sudah menyiapkan mobil, supir dan fasilitas lain. Mengapa kamu tidak mau, sih?" tanya Mama dengan nada heran.
"Ini adalah hidupku! Pilihanku! Aku pikir Mama sudah tahu alasannya," jawabku dengan nada sinis, dengan tubuh agak gemetaran karena suhu tubuh yang dingin.
Ya, Tuhan!
Ampuni atas segala kesalahan.
Aku memang sudah jadi anak yang pemberontak. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke kamar dan cepat-cepat mandi air hangat agar bisa membersihkan tubuhku dari air hujan.
Tadinya aku sudah merencanakan untuk menangis sepuas-puasnya di kamar, tetapi entah mengapa aku berubah pikiran. Aku berusaha bersikap tegar menghadapi masalah yang kuhadapi. Aku malu menjadi gadis yang cengeng, yang melulu berurai airmata. Dan aku harus mampu menghadapi semua itu dengan kepala terangkat, bukannya dengan cairan bening bernama airmata.
Keluargaku adalah keluarga yang bisa dikatakan sangat berada. Ayahku memiliki tiga perusahaan garmen besar dan beberapa anak cabang di Tanah Air. Teman-temanku sangat iri terhadap kondisi keuangan keluargaku. Namun, bagiku itu hanya sebuah fatamorgana. Aku benci dilahirkan di keluarga ini. Aku benci menjadi orang yang sangat kaya. Status itu sungguh tidak kuinginkan. Aku hanya butuh perhatian. Aku hanya butuh kasih sayang. Itu saja. Bukannya segala harta materi yang fana itu!
Makanya tidak heran jika aku lebih memilih naik bis, hidup sederhana dan bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji.
Hah, bagi anggapan orang, bodoh memang.
Aku melihat ke luar jendela kamarku setelah usai membersihkan diri. Ternyata hujan sudah mulai reda, dan tiba-tiba terlintas dalam pikiranku: Bandung. Di tempat itulah hidupku terlentuk. Ada bahagia dan duka yang membaur menjadi satu. Di sana, aku banyak belajar dari pengalaman dan kesalahan. Dan di sana pula, ada orang yang kusayangi. Sekarang, kehidupanku berubah total. Di Jakarta, aku serasa sendiri. Tidak ada lagi orang-orang yang kusayangi. Mereka semua sibuk dengan rutinitasnya. Aku muak dengan semua ritual itu. Perlahan antipati terhadap orangtuaku sendiri berubah menjadi benci!

***

Saat-saat di Bandung....
"Hahaha... Ness, duh, akhirnya kita bisa ya, mengubur botol ini buat kenang-kenangan persahabatan kita seumur hidup," ujar Vania setelah terbahak riang.
Aku tersenyum lebar, dan mulai membayangkan masa depan kami, lima sampai enam tahun mendatang, ketika kami bertemu kembali di tempat ini. Tempat yang sangat jarang dikunjungi ketika anak-anak berada di sekolah. Memang, tempatnya sangat tidak nyaman dan terasa angker, namun kami tidak percaya pada mitos-mitos yang sering dijadikan buah bibir. Kami berdua tertawa sambil merasa jijik ketika kami melihat cacing-cacing tanah yang terdapat pada pinggir pagar pekarangan. Tidak ada orang yang mengetahui kalau kami sering ke tempat ini dan saling curhat mengenai masalah pribadi kami, sampai masalah pemuda idaman.
Ya, memang saat itu kami membuat janji persahabatan di dalam sebuah botol bekas berwarna hijau yang sudah seperti barang rongsokan, dan dikuburkan di dalam tanah dekat pekarangan sekolah. Kami pun berjanji akan menggali kembali tanah itu setelah kami lulus kuliah. Pada saat itu kami masih duduk di kelas dua SMA. Konyol memang. Tetapi kupikir, inilah cara unik kami mengungkapkan janji setia persahabatan walaupun kedengarannya sedikit jadul. Lalu kami menutup kegiatan penguburan tersebut dengan tempelan jempol kami masing-masing yang telah dicelupi tinta, dan disambut dengan pelukan persahabatan. Aku merasa hidupku sangat sempurna. Di rumah, aku memang hanya anak tunggal, dan tak memiliki saudara lain selain kedua orangtua, yang sangat menyayangiku. Namun biar begitu, aku tidak merasa kesepian karena memiliki banyak sahabat di sekolah. Dan aku bersyukur karena memiliki teman baik seperti Vania.

***

Siang itu, Vania memberikanku hadiah ultah yang dibungkus kertas kado Winnie the Pooh. Aku pun membuka kado tersebut pelan-pelan, dan isinya adalah surprais: sebuah sulaman slayer buatan tangannya sendiri yang terdapat tulisan namaku: 'Nessya'. Aku mencobanya dengan wajah riang sambil memandangi tubuhku di depan kaca bufet di kamarku.
"Ehm... cocok juga," ungkapku dalam hati.
Seperti biasa, aku selalu menuliskan buku diari setiap malam sambil tidur-tiduran di atas ranjang.
Malam ini, aku menuliskan isi buku diariku dengan kalimat yang sangat panjang. Banyak cerita yang aku tuang. Menurutku, hidupku sudah sangat bahagia dan sempurna kala itu. Apalagi, aku selalu masuk rangking sepuluh besar siswa di kelasku. Aku terus berpikir, apa yang sebenarnya kurang dalam hidupku.
Tiba-tiba saja terlintas dalam benakku. Rasa-rasanya aku ingin punya seorang pacar. Mungkin seorang pemuda bisa mengisi kekosongan dalam hidupku. Yang dapat menyayangiku lebih dari sekedar pertemanan. Namun, kutepis jauh-jauh rasa itu. Bukankah persahabatanku dengan Vania lebih dari cukup? Mungkin juga aku masih kanak-kanak, dan belum saatnya memikirkan 'calon pendamping' hidupku kelak. Aku masih terus menuliskan perjalanan hidupku, hari itu, sampai akhirnya tak sadar dan tertidur pulas di atas tempat tidur....

***

Aku dibangunkan oleh silau teriknya sinar matahari ketika tirai jendelaku yang dibuka oleh Mamaku. Rutinitas. Dan itulah salah satu cara Mama membangunkan aku jika malas bangun dari tidur.
"Huaaap, duh, Mama! Memangnya sekarang jam berapa? Kok sudah membangunkan aku?" tanyaku setelah menguap dan menggeliatkan badan
"Sudah jam sembilan. Tidak biasanya kamu lambat bangun begini meskipun hari libur. Jadi, Mama pikir membangunkan kamu saja," jawab Mama sambil memberiku minum segelas air putih dan segelas susu yang sudah disiapkannya sedari tadi. Sebuah ritualitas dan bentuk kasih sayangnya padaku.
"Untung hari ini hari Minggu," ujarku dalam hati. Aku baru ingat kemarin, aku lupa menyetel alarm untuk aku bangun. Aku pun segera mandi. Padahal....
"Ness, cepetan turun! Vania sudah datang, katanya mau ngobrol-ngobrol sama kamu," sahut Mama seperti terlonjak, lupa pada niatnya yang semula untuk menyampaikan padaku tentang kedatangan Vania.
Aku menepuk dahiku. "Ya, ampun. Aku lupa kalau Vania mau datang. Mama, suruh Vania masuk ke kamar saja, aku segera mandi."
Perempuan muda berparas aristokrat itu mengangguk. Meniruskan punggungnya dari pandanganku, dan menuruni undakan anak-anak tangga.
Dari dalam kamar mandi di kamarku, aku mendengar seruan Vania yang memanggil namaku. "Ness, cepatan mandinya. Dasar pemalas!"
Aku tersenyum. "Iya, Nona Nyinyir!" balasku separo berteriak di antara guyuran air dari pancuran.

***

"Apa?! Kamu sudah jadian sama si Andrew?!" tanyaku spontan dengan nada kaget sembari mengeringkan rambutku dengan handuk. Aku seperti kesetrum listrik saat ia menyampaikan keterusterangannya dengan nada bersalah.
"Iya, sori banget baru bilang. Sebenarnya aku malu. Hehehe..." jujur Vania dengan gaya sok imut.
Sebenarnya, aku kesal mengapa ia baru menceritakan hal ini kepadaku. Bukankah kami sudah pernah berjanji untuk tidak saling menutupi suatu masalah. Kami akan saling terbuka. Saling membantu. Tapi sekarang....
Huh, pandai nian ia menyembunyikan perihal cowok jangkung berbola mata bagus itu kepadaku! Padahal sudah dua minggu lebih cowok itu 'nembak'. Seharusnya, ia langsung menceritakannya—sesuai dengan perjanjian kami dalam botol hijau itu.
Tiba-tiba aku jadi teringat pada buku diariku. Semalam, ketika mengisi buku diari, ada keinginan hatiku untuk memiliki seorang pacar, seorang pemuda yang dapat mengisi hari-hariku selain sahabat tentunya. Aku ceritakan pada Vania, dan kontan ia terbahak!
"Kenapa tertawa?"
"Tidak apa-apa!"
"Pasti ada apa-apa kalau kamu tertawa seperti orang gokil begitu!"
"Lucu saja melihat Nessya punya pacar...."
"Memangnya kenapa?"
"Selama ini, setahu aku, Nessya hanya pacaran sama...."
"Sama siapa?!"
"Sama bonyok-nya!"
Aku timpuk ia dengan bantal!
Asem! Aku jujur, malah ditertawakan. Tetapi ia mendukung niatku untuk memiliki pacar, dan berjanji untuk mengenalkan kawan-kawan Andrew kepadaku. Mungkin ada yang nyantol, begitu katanya!

***

Kalau selama ini aku selalu cuek dan tidak pernah memberi harapan pada semua cowok yang melakukan pendekatan, kali ini agak berbeda. Aku sudah tidak terlalu cuek lagi, bahkan aku sudah sangat siap untuk membuka 'pintu' hatiku, meski masih sangat selektif dan tidak sembarangan memberi hati pada seseorang. Waktu pun berlalu. Ada satu orang yang selama ini membuatku kelimpungan. Bukan teman Andrew, cowoknya Si Vania. Bukan. Tetapi ia adalah orang yang selama ini mencuri perhatianku. Namanya Kosasih. Teman sekolah lain kelas. Tanpa sadar, aku telah jatuh cinta padanya. Aku tidak pernah tahu, apakah ini jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, dan seterusnya. Namun yang pasti, ia mampu meluluhkan jiwaku—seperti es di Kutub Utara yang mencair dan meleleh akibat efek Global Warming!
Orangnya sangat baik, tampan, perhatian, pintar, humoris dan simpatik. Ia sangat empati terhadap perempuan. Dan ini! Ternyata, ia juga menyukaiku.
Aku sangat bahagia. Tuhan selalu mengabulkan apa yang aku mau. Yang paling berkesan adalah ketika Kosasih menyatakan perasaannya kepadaku di Valley, Bandung, tepat di bawah lampu-lampu warna-warni yang menyerupai pohon natal. Aku tidak bisa melupakan ketika ia berkata:
"Nessya, maukah kamu menjadi orang yang terpenting dalam hidupku?"
Kala itu, ia menyodorkan setangkai bunga mawar putih ke arahku dengan gaya berlutut. Rupanya, selama ini ia sudah mencari tahu warna kesukaanku—hm, pasti ia mengorek informasi dari Vania! Aku tidak ragu untuk mengatakan 'ya'!
Karena inilah saat yang juga sudah kutunggu-tunggu.

***

Tentu saja orang yang pertama kali aku ceritakan adalah Vania. Ia sangat senang mendengar kabar ini. Kami berempat, aku, Vania, Andrew dan Kosasih, sejak itu sering jalan bareng—kumpul-kumpul dan juga belajar bersama. Kosasih sangat sayang kepadaku. Ia memperlakukan aku layaknya seorang ratu. Sehingga, aku tidak sanggup menolak berbagai keinginannya. Kami sering mengungkapkan perasaan sayang kami lewat perhatian lebih. Via sms atau telepon bila tidak berada di sekolah.
Namun Lucifer senantiasa menggoda kami. Aku dan Kosasih nyaris terjatuh ke dalam lembah nista. Kami dibiusnya dengan gejolak darah muda dan birahi sehingga hampir melakukan hal yang belum pantas sebelum menginjak gerbang pernikahan. Sehingga pada suatu ketika, kami berdua nyaris hancur oleh zinah. Aku menarik diriku dari pelukan pemuda itu. Berlutut dan bersimpuh. Memohon segala ampun.
"Ya, Tuhan. Jaga hati kami. Jangan sampai kami dikotori oleh cinta badani, kami masih terlampau mentah untuk mengarungi kehidupan yang mahaberat ini!" doaku spontan kala itu.
Sejak saat itu, aku dan Kosasih menjalani hubungan kami secara alami. Kami senantiasa berusaha menjaga norma, mengingat Tuhan, dan menjaga kesucian cinta kami yang putih.

***

Tidak ada orang yang bisa kupercaya untuk menyampaikan semua kenanganku, manis maupun pahit. Senang maupun susah. Riang maupun sedih. Dan, hanya Vania-lah wadah curhatku yang paling safety. Lagipula, aku merasa sudah cukup lama kami tidak mengunjungi tempat rahasia kami, dekat pekarangan sekolah. Aku tidak sabar mengutarakan kejadian buruk semalam yang nyaris saja terjadi antara aku dan Kosasih, tentu saja di tempat penguburan botol bekas tempat menyimpan ikrar kami.
Namun, mengapa hari ini ia tidak kelihatan di kelas? tanyaku cemas dalam hati. Tidak seperti ia begini. Toh jika ia tidak masuk sekolah karena sakit, ia pasti memberitahu aku lewat sebaris kalimat SMS atau telepon. Aku berkali-kali melihat HP-ku. Tidak ada SMS darinya. Aku juga sudah SMS dan telepon berkali-kali, tetapi tidak ada balasan atau jawaban telepon darinya. Hatiku cemas luar biasa. Perasaanku tidak enak. Aku tidak bisa konsentrasi dalam belajar hari ini.
Pulang sekolah, aku langsung buru-buru menyetop taksi dan pergi menuju rumah Vania. Kosasih? Ah, dalam keadaan cemas seperti ini, aku tidak sempat memikirkannya, bahkan SMS dan telepon darinya tidak aku tanggapi. Pintu pagar rumah Vania ternyata tidak dikunci begitu aku turun dari taksi dalam gerak gegas.
Aku masuk disambut pembantu perempuan tuanya. Dan aku langsung terkapar shock! Hatiku belah ketika menyaksikan ada dokter dan suster yang baru saja keluar dari kamarnya. Ditambah lagi orangtuanya yang menangis tersedu-sedu, duduk di sofa. Aku masuk ke kamar Vania dengan gundah tanpa menegur kedua orangtuanya yang berpelukan dan menangis bersama.
Aku nyaris pingsan. Kusanggah badanku yang lemas di dinding samping kiri tempat tidur Vania. Kulihat wajah belia Vanya yang pasi, terbujur kaku dan tidak bernapas, di atas ranjangnya yang penuh darah.
Airmataku tak terbendung. Aku menjerit dalam nada parau. Kupanggil nama Vania berkali-kali dengan kerongkongan perih. Rasanya seperti mimpi!
Aku berlari keluar masih berburai airmata.
"Tan-Tante, mengapa Vania mengalami ini semua?" tanyaku dengan suara tersekat.
"Va-Vania ternyata... ha-hamil, dan dia baru saja melakukan aborsi di sebuah klinik ilegal tanpa sepengetahuan Tante dan Oom. Dia tiba di rumah ketika Tante dan Oom masih di kantor. Kami ditelepon oleh Mbok Minah, katanya, Vania mengalami pendarahan hebat ketika pulang siang tadi," jawab Mama Vania ambil menangis terisak-isak. "Kami langsung menelepon dokter, dan langsung pulang rumah. Ta-tapi... nyawa Vania sudah tidak dapat diselamatkan. Dia kehilangan banyak darah!"
Aku menggigil dalam diam. Tangisku membuncah. Sahabatku telah pergi untuk selama-lamanya. Vania yang malang! Vania yang telah menjadi korban kebiadaban zaman. Vania adalah korban pergaulan bebas. Aku tidak menyangka, ia dan Andrew telah jatuh ke dalam limbah dosa!

***

Kabar mengenai kematian Vania karena aborsi sudah tersebar luas di sekolah. Ada yang mencibir tetapi banyak pula yang simpati karena Vania hanyalah korban pergaulan bebas, yang sedikit banyaknya turut menyeret orangtuanya yang terlalu sibuk mengurusi pekerjaan dan bisnis sehingga lalai mengasuh anak.
Sementara itu, Andrew dikeluarkan dari sekolah dan ia pindah sekolah di luar kota. Mulanya aku dendam pada Andrew, dan turut melampiaskan amarahku pada setiap laki-laki, termasuk Kosasih. Tetapi aku sadar, semua hal itu tidak akan membawa manfaat. Toh Vania tidak dapat hidup kembali. Dan dendam kesumat lantaran kehilangan seorang sahabat karena mati tak wajar tidaklah dapat menyelesaikan masalah. Mungkin itu adalah pengalaman hidup yang dipaparkan padaku agar aku dapat belajar bertindak bijak, meskipun gambaran tersebut adalah durja dan getir karena mengorbankan sahabat terbaikku, Vania.
Waktu pada akhirnya melamur semua kenangan sepat dalam hidupku. Kosasih, pemuda yang pernah masuk dalam kehidupanku sebagai seseorang yang paling istimewa, akhirnya menjauh dariku karena mengikuti orangtuanya yang dipindahtugaskan dari Bandung ke Medan. Aku sendiri pasrah ketika orangtuaku pun memutuskan untuk ekspansi perusahaannya yang berpusat di Kota Kembang, Bandung, ke Jakarta. Kami pindah. Kutinggalkan semua kenangan itu satu per satu. Seperti lembar demi lembar buku diariku yang usang dan tanggal satu per satu.
Namun aku tidak pernah kehilangan kenangan tentang Vania. Dan aku berjanji, suatu saat aku akan kembali ke Bandung. Menggali janji kami dalam sebuah botol bekas. Walaupun hanya sendiri. ©



BIODATA PENULIS

Nama saya, Mariska Uung. Saya hanyalah seorang mahasiswi biasa jurusan manajemen pemasaran di IBII, Jakarta. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah suka mengarang. Bermula dari keterpakasaan karena disuruh oleh guru, tetapi entah mengapa lama kelamaan saya bisa menikmati. Walaupun dengan EYD yang sangat berantakan. Saya berlatih sudah cukup lama untuk menulis, namun tidak pernah mempublikasikan kepada orang-orang. Lama-lama saya berani menunjukkan hobi saya yang akhirnya menjadi cita-cita. Tanpa diduga, banyak yang memuji dan menyukai tulisan saya. Termasuk guru dan dosen yang menyukai cara saya menulis dan menjawab soal ujian kuis. Hal ini sangat memacu semangat saya. Saya semakin giat untuk menulis dan pernah mengirimkan beberapa karya meskipun belum ada yang mempublikasikannya kecuali www.cafenovel.com. Seharusnya saya mengambil jurusan yang berhubungan dengan sastra ketika kuliah, namun waktu itu saya belum dapat memfokuskan masa depan saya. Terlebih ketika orangtua saya menganggap bahwa menulis itu tidak dapat menunjang dan menopang hidup. Ternyata saya salah besar, dan seharusnya saya bisa mempertahankan apa yang telah menjadi mimpi saya. Nasi sudah menjadi bubur. Saya tidak mungkin meninggalkan begitu saja kuliah ekonomi saya begitu saja. Apalagi saat ini sudah menginjak semester akhir dan sedang skripsi.

cinta di ujung waktu


Serapuh kelopak sang mawar
Yang disapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri
Diterpa dan luka oleh senja....

Shit!
rutukku dalam hati. Kenapa lagu ini sih? Aku menarik napas dalam-dalam dan menghelanya dengan perlahan. Ini lagu yang paling tidak ingin kudengar, apalagi saat sekarang ini. Saat dimana aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berbaring di atas ranjang dan mengistirahatkan kaki kananku yang patah karena kecelakaan mobil sialan tiga hari lalu itu. Ya, kecelakaan mobil gara-gara pacar 'tersayangku', si Karina, yang merengek-rengek minta dijemput karena supirnya tidak masuk kerja. Minta dijemput mau ke salon. Oh my God! Apa tidak bisa ya cuci rambut sendiri di rumah? Sudah bagus aku mau menjemputnya, eh masih saja dia menelepon ke handphone-ku saat aku sedang menyetir dan berteriak-teriak agar aku lebih cepat lagi sampai di rumahnya. Padahal dia tahu, aku paling tidak bisa ditekan seperti itu. Dan benar saja, pada saat aku sedang meladeni Karina di telepon, tiba-tiba sebuah mobil Kijang biru memotong jalur di depanku dan aku pun membanting setir agar menghindari tabrakan dengan mobil itu. Bodohnya lagi, aku malah menabrak pohon di sebelah jalan. Bagian depan mobilku hancur, kakiku pun patah, benar-benar hari yang sial! Parahnya lagi, gadis 'tersayangku' itu tidak bersikap simpatik sama sekali ketika mengunjungiku di rumah sakit, malah ngambek karena tidak bisa ke salon. Benar-benar menyebalkan!

***

Akhirnya aku menemukanmu
Saat kubergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah
berhenti
memilikiku....

"Kak Jason? Ada tamu buat kakak, nih. Cewek. Aku suruh masuk ya?" Tiba-tiba suara Sella membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati adik perempuanku sedang menjulurkan kepalanya ke celah pintu kamarku. Di belakangnya, aku samar-samar melihat bayangan seseorang berbaju merah.
Wah, pasti Karina nih, mau minta maaf! ujarku dalam hati. Dengan sedikit sebal aku pun menjawab, "Ya, suruh masuk saja Sel. Thanks, ya?"
Namun, setelah Sella mempersilahkan tamu tersebut masuk, aku mendapati diriku sedang duduk berhadapan dengan seseorang yang tidak pernah aku sangka akan aku temui lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Gadis yang berdiri di hadapanku sekarang ini bukanlah Karina, dan juga bukan teman-teman wanitaku lainnya—untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak bisa membaca apa yang dia pikirkan, dan aku tidak bisa lagi mengetahui isi hatinya dari raut wajahnya.

Semegah sang mawar dijaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada di sini
Dan pekat pun berakhir sudah....

"Mel. Tumben kamu ke sini?" sapaku dengan suara bergetar. "Sudah hampir lima tahun ya, sejak kita terakhir bertemu."
Melissa, gadis itu, hanya tersenyum tipis dan berjalan menghampiri ranjangku. "Ya, Jason. Apa kabar kamu? Aku dengar dari Roy, kamu kecelakaan mobil beberapa hari yang lalu? Kok bisa?" tanyanya sembari menarik kursi dari belakang meja belajarku dan duduk di sebelah ranjangku, menghadapiku.
Aku menghela napas dan berujar, "Ceritanya panjang Mel, pokoknya ini semua gara-gara pacarku, Karina. Entah mau apa perempuan itu...."
Dengan tertawa getir, aku menatapnya dalam-dalam, namun ekspresi Melissa tidak berubah, tetap tak dapat dibaca. "Sejak kapan kamu di Indonesia, Mel? Terakhir aku dengar... kamu kerja di luar negeri?"
Melissa menganggukkan kepalanya. "Iya, aku sekarang kerja di Jepang, jadi konsultan ekonomi di sebuah perusahaan multinasional di sana. Lumayan, aku betah juga. Ini juga aku sedang ambil cuti, makanya aku bisa pulang. Dan kebetulan aku dengar kamu sedang rawat jalan, makanya aku mampir, sekalian menanyakan kabar kamu. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya?"
"Aku baik-baik saja, sekarang sudah dapat kerjaan sebagai asisten dokter di Gleneagles. Yah, doakan saja ya semoga sukses nantinya, seperti kamu," sahutku sambil bercanda.
Melissa tertawa lebar, dan untuk sesaat aku bagaikan terbawa kembali ke masa lalu, dimana senyum dan canda tawanya hanyalah untukku seorang....
"Bisa saja kamu. Aku juga belum sukses, kan kamu tahu sendiri cita-citaku adalah...."
"... to eliminate world poverty," potongku dengan cepat.
Melissa membelalakkan matanya dan menatapku dengan aneh.
"Kok kamu bisa ingat? Kan sudah lama sekali!" sahutnya bingung.
"Yaaa, bagaimana aku lupa sih. Kamu kan sudah beratus-ratus kali mengatakannya padaku. Kalau sudah sebanyak itu, tentulah aku pasti ingat!" ujarku, lalu menderaikan tawa dan memberanikan diri untuk mengusap rambutnya. Aliran listrik bagaikan menjalar dalam tubuhku saat aku menyentuh dirinya. Sudah lama sekali....

Akhirnya aku menemukanmu
Saat kubergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah berhenti memilikiku....


"Ah, masa sih!" Melissa tersipu malu. "Kamu selalu begitu deh, ingat hal-hal yang aneh mengenai aku. Tidak pernah ingat yang bagus-bagus."
"Tentu saja aku ingat yang bagus, Mel! Mau bagaimanapun juga, kamu kan cinta pertamaku!" protesku dengan ekspresi lucu.
Melissa berhenti tersenyum dan menundukkan kepalanya, ekspresinya lagi-lagi sulit dibaca. Duh, salah lagi deh.... Harusnya memang tidak boleh bawa-bawa masa lalu lagi! sesalku dalam hati.
"Mel...." ucapku dengan halus, mencoba untuk memperjelas situasi.
"Jas, sepertinya kamu haus ya, aku ambilkan minum ya!" potongnya dengan ekspresi ceria yang seperti dibuat-buat.
Sebelum aku mampu mengatakan hal-hal lain lagi, dia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju meja belajarku untuk mengambil gelas minumku. Namun, pada saat itu, bukan dialah yang aku perhatikan, melainkan bayangan kerlipan sesuatu yang bersinar di tangannya. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya—mungkinkah?
"Ini Jas, minum ya? Kamu kan lagi sakit, harus banyak minum air!" ujarnya sembari kembali duduk dan memberikan gelas kepadaku.
Dengan senyum lemah aku menurut dan meneguk air yang ada di dalam gelasku dan meletakkannya di meja sebelah ranjangku setelahnya. Sambil tersenyum Melissa meletakkan kedua tangannya di atas lututnya dan kali ini aku dapat melihat secara jelas cincin emas putih berhias berlian yang melingkari jari manis tangan kanannya.
"Mel. Kok tumben kamu pakai cincin? Bukannya seingatku, kamu paling tidak suka ya?" tanyaku sambil mencoba biasa-biasa saja, padahal hatiku sudah tidak enak setengah mati.
Tiba-tiba ekspresi Melissa berubah, rona merah menghiasi wajahnya dan dia menundukkan kepalanya. Aku terdiam, tidak tahu harus berucap apa. Setelah terdiam untuk beberapa lama, akhirnya dia pun bicara.
"Ini cincin tunanganku, Jas. Aku akan menikah bulan depan dan setelah menikah, aku akan pindah kembali ke Jakarta. Salah satu alasan aku datang hari ini adalah untuk memberitahukan hal tersebut kepadamu, dan untuk mengundangmu ke hari pernikahanku." Suaranya bergetar. "Kamu harus datang, ya?"
Pada saat itu aku dapat merasakan wajahku memucat. Aku merasa mual sekali. Pada saat itu, semua kenangan yang pernah aku lalui bersama Melissa kembali membayangiku secara bergantian....
Saat kami bertengkar untuk pertama kalinya, setelah dua bulan kami berpacaran. Aku sedang marah, marah sekali waktu itu, dan aku berteriak kepadanya agar pergi dariku, agar tidak menggangguku lagi. Aku ingat pada saat itu dia kaget sekali melihatku seperti itu, airmata mengalir di kedua belah pipinya dan dia lari menjauhiku sembari menangis tersedu-sedu. Pada saat itu, pada saat aku melihatnya menangis karena aku, hatiku bagaikan terkoyak dan aku pun mengejarnya, ingin menarik semua kata-kataku yang telah melukai hatinya, untuk mengatakan padanya bahwa aku mencintainya!
Saat kami berciuman untuk pertama kalinya, setelah hampir setahun kami berpacaran. Itu adalah saat-saat di mana aku sedang merasa benar-benar jatuh, benar-benar depresi dan benar-benar sendiri. Namun Melissa tidak pernah meninggalkanku, dengan sejuta kata-kata penghiburan ia mampu menyejukkan hatiku, dan segala yang ia lakukan membuktikan kepadaku bahwa ia benar-benar mencintaiku. Saat bibir kami bersentuhan, pada saat itulah aku tahu, bahwa memang dialah satu-satunya gadis untukku!
Saat kami mengucap janji untuk saling mencintai selamanya, saat aku menyematkan cincin di jari manisnya. Cincin murah yang aku beli dari hasil kerja sambilanku, cincin yang menandakan bahwa Melissa adalah gadis milikku, dan hanya milikku seorang. Pada saat itu aku benar-benar yakin bahwa masa depan kami tidak mungkin dipisahkan, bahwa kami akan menikah suatu saat nanti dan bila saat itu tiba, Melissa akan menjadi milikku sepenuhnya.
Saat kami berpisah, saat aku meninggalkannya tanpa sekali pun menoleh lagi ke belakang. Aku harus mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya agar dia pergi dan menjauh dariku. Dia tidak tahu bahwa pada saat itu hatiku sama hancurnya dengan dirinya, dia tidak tahu betapa sulitnya bagiku untuk menyakitinya. Namun aku benar-benar berengsek, bahkan setelah putus pun aku terus menyakitinya, aku melakukan hal-hal yang tidak pernah dapat dia lupakan. Aku tahu, bahwa aku tidak pantas baginya. Tapi aku tidak bisa mengenyahkan perasaan ini, bahwa masih ada suatu tempat di hatiku untuknya bahkan hingga sekarang.

Hingga ujung waktu
Setenang hamparan Samudra
Dan tuan burung camar
Tak 'kan henti bernyanyi....


Namun gadis yang sekarang duduk di hadapanku bukanlah Melissa yang dahulu milikku. Dia bukanlah Melissa yang selalu memanjakanku, yang selalu menomorsatukanku, yang selalu mencintaiku. Wajahnya tidak berubah, bibirnya masih menyunggingkan senyum yang sama seperti lima tahun lalu, matanya masih memancarkan cahaya yang sama, cahaya penuh cinta. Hanya saja, tatapan itu bukanlah ditujukan kepadaku lagi. Apakah egois bila aku masih ingin memilikinya?
Ekspresi wajah Melissa perlahan berubah dari malu menjadi bingung. "Jas? Kamu tidak apa-apa? Kamu masih sakit?" ujarnya khawatir sembari menyipitkan matanya. "Mau aku panggil Mama kamu?"
Aku berusaha tersenyum, walaupun sulit. "Aku tidak apa-apa kok, Mel. Kaget saja, tahu-tahu kamu sudah mau menikah. Padahal sepertinya baru kemarin kita berpacaran...."
Melissa tertawa. Tawa yang tulus. "Iya ya, sebenarnya kita berpacaran lama juga ya, hampir tiga tahun waktu masa SMA dulu. Yah, semuanya tinggal kenangan manis. Betul, tidak?" candanya.
Aku terdiam. Mungkin bagi Melissa, semua itu hanya kenangan. Namun bagiku tidak. Sampai detik ini, masih ada bagian dari hatiku yang kusimpan hanya untuk dia. Mungkin untuk selamanya, mungkin hingga ujung waktu. Sudah lima tahun kita tidak bertatap muka, ataupun saling memberi kabar, namun ketika kami bertemu, aku merasa diriku terbawa kembali ke masa lalu, masa-masa yang bahagia, masa-masa di mana dia adalah milikku seorang. Gadis-gadis yang aku pacari setelah dirinya, bahkan Karina pun, tidak akan pernah bisa menggantikan Melissa. Dia cinta pertamaku, dan akan tetap menjadi cinta pertamaku selamanya....
Hanya Melissa satu-satunya gadis yang paling mengerti diriku. Hanya dia yang mengerti betapa besar gengsiku, betapa moody diriku apabila sedang dilanda masalah, betapa besar tekananku bagi diriku sendiri. Saat Melissa memutuskan untuk pergi lima tahun lalu dari hidupku, saat dia bahkan tidak mau menjadi sahabatku, aku merasa bahwa aku telah kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Seseorang yang telah membuatku menjadi diriku yang sekarang ini. Aku tidak ingin kehilangan Melissa, tidak dahulu, tidak sekarang, tidak selamanya.
"Mel..." mulaiku. Aku ingin mengatakan padanya, bahwa aku masih mencintainya, bahwa hanya dialah satu-satunya gadis yang pernah benar-benar aku cintai. Gadis yang ingin aku jadikan sebagai istriku, sebagai pendamping hidupku, hingga ujung waktu....
Namun dia memotong ucapanku setelah dengan kaget melihat jam dinding di atas ranjangku. "Wah, sudah jam tiga siang, Jas! Aku harus pergi nih, ada janji sama Adam, tunanganku. Dia mau ngajak aku lihat-lihat property di komplek rumah orangtuanya. Yah, aku lega kamu baik-baik saja, Jas." Melissa tersenyum. "Kamu harus datang ya, bulan depan! Aku benar-benar harap kamu bisa datang." Dia bangkit dari kursinya dan meluruskan roknya.
Aku menatapnya tanpa dapat berkata apa-apa. Da mengembalikan kursi yang dia duduki ke tempatnya semula dan mengulurkan tangan kanannya kepadaku.
Aku ingin sekali menarik tangan tersebut dan memeluknya, mengatakan padanya bahwa aku tidak mau dia menjadi milik pria lain, bahwa hanya akulah pria yang paling tepat untuknya. Namun... aku tak sanggup. Aku tahu, inilah kebahagiaannya, bersama Adam, dan aku tidak akan pernah dapat memberikannya kebahagiaan yang sama, betapa keras aku mencoba. Pada akhirnya, aku menyambut uluran tangannya dan menyalaminya.
"Selamat ya Mel. Aku bahagia untukmu." Kata-kata palsu tersebut meluncur dari bibirku. Aku tidak dapat menyangkal bahwa hatiku sakit sekali ketika mengucapkannya. "Aku dan Karina pasti akan datang."
Melissa tersenyum hangat dan menepuk bahuku. "Begitu dong, Jas. Oke deh, nice seeing you again. Take care, ya?" Dia pun beranjak pergi, berjalan menuju pintu kamarku dan membukanya. Sebelum menutup pintu kamarku, Dia menjulurkan kepalanya di celah pintu dan berucap, "Cepat sembuh ya, Jas!" Kemudian, dia menutup pintu dan... dia telah pergi. Meninggalkanku, seperti aku meninggalkannya lima tahun silam.
Aku tidak sadar bahwa pada saat itu, setetes airmata mengalir di pipiku dan jatuh di atas telapak tangan kiri yang sedang memeluk bantal di pangkuanku. Lantunan lagu masih membayangiku, dan mendengarnya aku tidak lagi terbuai, namun bercampur antara rasa sakit dan kekosongan yang mengisi relung hatiku pada saat ini.

Saat aku berkhayal denganmu
Dan berjanji pun terukir sudah
Jika kau menjadi istriku nanti
Pahami aku saat menangis

Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu....

(Sheila On 7) ©



BIODATA PENULIS

Joanna Octavia, lahir di Jakarta, 18 Oktober. Mahasiswi Jurusan Ekonomi dan Ilmu Politik Tingkat IV, University of British Columbia di Kanada ini sangat menggemari dunia tulis menulis. Gadis alumni SD-SMU Sekolah Pelita Harapan Karawaci Indonesia ini pula, sudah menunjukkan eksistensinya sebagai penulis berpotensi. Ia pernah meraih penghargaan sebagai Juara IV Kompetisi Analisa Sastra Tingkat SMA (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2005). Ia juga pernah menjabat sebagai wartawan untuk koran kampus The Ubyssey, menjadi Juri Kompetisi Analisa Sastra Tingkat SMA untuk Bulan Bahasa di Sekolah Pelita Harapan Karawaci (2005), dan Penulis Tetap Rubrik Cerpen untuk koran sekolah bernama PH Explosion. Gadis manis ini memiliki hobi membaca buku-buku sastra dan novel Indonesia, politik dan sejarah, serta baru saja menciptakan blog sendiri (joannaoctavia.wordpress.com). Ia sangat memuja karya Pramodya Ananta Toer dan Soe Hok Gie. Saat ini ia tengah merampungkan kuliahnya yang tinggal sebentar, mendengarkan lagu-lagu Mandarin terutama Jay Zhou, dan mempelajari bahasa serta sejarah China.

wabah


Mula-mula tak ada seorang pun di rumah keluarga besar itu yang berterus terang. Masing-masing memendam pengalaman aneh yang dirasakannya dan curiga kepada yang lain. Masing-masing hanya bertanya dalam hati, “Bau apa ini?” Lalu keadaan itu meningkat menjadi bisik-bisik antar “kelompok” dalam keluarga besar itu. Kakek berbisik-bisik dengan nenek. “Kau mencium sesuatu, nek?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab nenek.
“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin anakmu.”
“Belum tentu; boleh jadi cucumu!”

“Atau salah seorang pembantu kita.”
Ayah berbisik-bisik dengan ibu. “Kau mencium sesuatu, Bu?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab ibu.
“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin ibumu.”
“Belum tentu; boleh jadi menantumu.”
“Atau salah seorang pembantu kita.”

Demikianlah para menantu pun berbisik-bisik dengan istri atau suami masing-masing. Anak-anak berbisik antarmereka. Para pembantu berbisik-bisik antarmereka. Kemudian keadaan berkembang menjadi bisik-bisik lintas “kelompok”. Kakek berbisik-bisik dengan ayah atau menantu laki-laki atau pembantu laki-laki. Nenek berbisik-bisik dengan ibu atau menantu perempuan atau pembantu perempuan. Para menantu berbisik-bisik dengan orang tua masing-masing. Ibu berbisik-bisik dengan anak perempuannya atau menantu perempuannya atau pembantu perempuan. Ayah berbisik-bisik dengan anak laki-lakinya atau menantu laki-lakinya atau pembantu laki-laki. Akhirnya semuanya berbisik-bisik dengan semuanya.

Bau aneh tak sedap yang mula-mula dikira hanya tercium oleh masing-masing itu semakin menjadi masalah, ketika bisik-bisik berkembang menjadi saling curiga antarmereka. Apalagi setiap hari selalu bertambah saja anggota keluarga yang terang-terangan menutup hidungnya apabila sedang berkumpul. Akhirnya setelah semuanya menutup hidung setiap kali berkumpul, mereka pun sadar bahwa ternyata semuanya mencium bau aneh tak sedap itu.

Mereka pun mengadakan pertemuan khusus untuk membicarakan masalah yang mengganggu ketenangan keluarga besar itu. Masing-masing tidak ada yang mau mengakui bahwa dirinya adalah sumber dari bau aneh tak sedap itu. Masing-masing menuduh yang lainlah sumber bau aneh tak sedap itu.

Untuk menghindari pertengkaran dan agar pembicaraan tidak mengalami deadlock, maka untuk sementara fokus pembicaraan dialihkan kepada menganalisa saja mengapa muncul bau aneh tak sedap itu.

Alhasil, didapat kesimpulan yang disepakati bersama bahwa bau itu timbul karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan. Oleh karena itu diputuskan agar semua anggota keluarga meningkatkan penjagaan kebersihan; baik kebersihan diri maupun lingkungan. Selain para pembantu, semua anggota keluarga diwajibkan untuk ikut menjaga kebersihan rumah dan halaman. Setiap hari, masing-masing mempunyai jadwal kerja bakti sendiri. Ada yang bertanggung jawab menjaga kebersihan kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan seterusnya. Sampah tidak boleh dibuang di sembarang tempat. Menumpuk atau merendam pakaian kotor dilarang keras.

Juga disepakati untuk membangun beberapa kamar mandi baru. Tujuannya agar tak ada seorang pun anggota keluarga yang tidak mandi dengan alasan malas. Siapa tahu bau itu muncul justru dari mereka yang malas mandi. Di samping itu, semua anggota keluarga diharuskan memakai parfum dan menyemprot kamar masing-masing dengan penyedap ruangan. Semua benda dan bahan makanan yang menimbulkan bau seperti trasi, ikan asin, jengkol, dan sebagainya dilarang dikonsumsi dan tidak boleh ada dalam rumah. Setiap jengkal tanah yang dapat ditanami, ditanami bunga-bunga yang berbau wangi seperti mawar, melati, kenanga, dan sebagainya.

Ketika kemudian segala upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil dan justru bau aneh tak sedap itu semakin menyengat, maka mereka menyepakati untuk beramai-ramai memeriksakan diri. Jangan-jangan ada seseorang atau bahkan beberapa orang di antara mereka yang mengidap sesuatu penyakit. Mereka percaya ada beberapa penyakit yang dapat menimbulkan bau seperti sakit gigi, sakit lambung, paru-paru, dan sebagainya. Pertama-tama mereka datang ke puskesmas dan satu per satu mereka diperiksa. Ternyata semua dokter puskesmas yang memeriksa mereka menyatakan bahwa mereka semua sehat. Tak ada seorang pun yang mengidap sesuatu penyakit. Tak puas dengan pemeriksaan di puskesmas, mereka pun mendatangi dokter-dokter spesialis; mulai dari spesialis THT, dokter gigi, hingga ahli penyakit dalam. Hasilnya sama saja. Semua dokter yang memeriksa tidak menemukan kelainan apa pun pada kesemuanya.

Mereka merasa gembira karena oleh semua dokter –mulai dari dokter puskesmas hingga dokter-dokter spesialis– di kota, mereka dinyatakan sehat. Setidak-tidaknya bau aneh dan busuk yang meruap di rumah mereka kemungkinan besar tidak berasal dari penyakit yang mereka idap. Namun ini tidak memecahkan masalah. Sebab bau aneh tak sedap itu semakin hari justru semakin menyesakkan dada. Mereka pun berembug kembali.

“Sebaiknya kita cari saja orang pintar;” usul kakek sambil menutup hidung, “siapa tahu bisa memecahkan masalah kita ini.”
“Paranormal, maksud kakek?” sahut salah seorang menantu sambil menutup hidung.

“Paranormal, kiai, dukun, atau apa sajalah istilahnya; pokoknya yang bisa melihat hal-hal yang gaib.”
“Ya, itu ide bagus,” kata ayah sambil menutup hidung mendukung ide kakek, “Jangan-jangan bau aneh tak sedap ini memang bersumber dari makhluk atau benda halus yang tidak kasat mata.”

“Memang layak kita coba,” timpal ibu sambil menutup hidung, “orang gede dan pejabat tinggi saja datang ke “orang pintar” untuk kepentingan pribadi, apalagi kita yang mempunyai masalah besar seperti ini.”

Ringkas kata akhirnya mereka beramai-ramai mendatangi seorang yang terkenal “pintar”. “Orang pintar” itu mempunyai banyak panggilan. Ada yang memanggilnya Eyang, Kiai, atau Ki saja. Mereka kira mudah. Ternyata pasien “orang pintar” itu jauh melebihi pasien dokter-dokter spesialis yang sudah mereka kunjungi. Mereka harus antre seminggu lamanya, baru bisa bertemu “orang pintar” itu. Begitu masuk ruang praktik sang Eyang atau sang Kiai atau sang Ki, mereka terkejut setengah mati. Tercium oleh mereka bau yang luar biasa busuk. Semakin dekat mereka dengan si “orang pintar” itu, semakin dahsyat bau busuk menghantam hidung-hidung mereka. Padahal mereka sudah menutupnya dengan semacam masker khusus. Beberapa di antara mereka sudah ada yang benar-benar pingsan. Mereka pun balik kanan. Mengurungkan niat mereka berkonsultasi dengan dukun yang ternyata lebih busuk baunya daripada mereka itu.

Keluar dari ruang praktik, mereka baru menyadari bahwa semua pasien yang menunggu giliran ternyata memakai masker. Juga ketika mereka keluar dari rumah sang dukun mereka baru ngeh bahwa semua orang yang mereka jumpai di jalan, ternyata memakai masker.

Mungkin karena beberapa hari ini seluruh perhatian mereka tersita oleh problem bau di rumah tangga mereka sendiri, mereka tidak sempat memperhatikan dunia di luar mereka. Maka ketika mereka sudah hampir putus asa dalam usaha mencari pemecahan problem tersebut, baru mereka kembali membaca koran, melihat TV, dan mendengarkan radio seperti kebiasaan mereka yang sudah-sudah. Dan mereka pun terguncang. Dari siaran TV yang mereka saksikan, koran-koran yang mereka baca, dan radio yang mereka dengarkan kemudian, mereka menjadi tahu bahwa bau aneh tak sedap yang semakin hari semakin menyengat itu ternyata sudah mewabah di negerinya.

Wabah bau yang tak jelas sumber asalnya itu menjadi pembicaraan nasional. Apalagi setelah korban berjatuhan setiap hari dan jumlahnya terus meningkat. Ulasan-ulasan cerdik pandai dari berbagai kalangan ditayangkan di semua saluran TV, diudarakan melalui radio-radio, dan memenuhi kolom-kolom koran serta majalah. Bau aneh tak sedap itu disoroti dari berbagai sudut oleh berbagai pakar berbagai disiplin. Para ahli kedokteran, ulama, aktivis LSM, pembela HAM, paranormal, budayawan, hingga politisi, menyampaikan pendapatnya dari sudut pandang masing-masing. Mereka semua –seperti halnya keluarga besar kita– mencurigai banyak pihak sebagai sumber bau aneh tak sedap itu. Tapi –seperti keluarga besar kita–tak ada seorang pun di antara mereka yang mencurigai dirinya sendiri.

Hingga cerita ini ditulis, misteri wabah bau aneh tak sedap itu belum terpecahkan. Tapi tampaknya sudah tidak merisaukan warga negeri –termasuk keluarga besar itu– lagi. Karena mereka semua sudah terbiasa dan menjadi kebal. Bahkan masker penutup hidung pun mereka tak memerlukannya lagi. Kehidupan mereka jalani secara wajar seperti biasa dengan rasa aman tanpa terganggu

elegi cinta


Bahagianya aku setelah lelah bermain bersama sahabat karib dan gadis cantik pujaanku. Kehangatan yang begitu mendalam masih saja tertanam di hatiku walau waktu telah lama berlalu. Aku masih ingat semua detil cerita ini dari awal hingga akhir. Karena cerita ini memang bukan cerita sembarangan yang biasanya hinggap di hari-hariku yang membosankan. Cerita ini adalah pengalaman luar biasa yang semakin mengukuhkan perasaanku kepada Sunny, gadis impianku.
Jam menunjukkan pukul duabelas siang di hari yang berawan. Aku keluar dari kelas Fenomena Gelombang dengan sangat lesu karena Pak Mertayasa berjanji akan memberikan kuis hari Kamis besok. Aku masih belum bisa mengerjakan soal-soalnya dan belum belajar apa-apa buat bekal nanti. Untungnya, kegelisahan itu belum menjadi derita yang tak berkesudahan bagiku. Paling tidak hingga tujuh hari ke depan.
Aku pun terus berlalu menjauhi ruang kuliah. Berusaha meninggalkan kenyataan bahwa diriku selalu dibicarakan dosen-dosen setiap Rapat Hari Jumat di jurusan. Bukan karena prestasi, melainkan karena kasus dan masalah akademik lainnya. Semuanya terasa sangat menyakitkan apabila teringat kembali di dalam benakku. Bahkan Dosen Wali yang seharusnya membimbingku kini berusaha menjaga jarak dari permasalahanku.
Langkah-langkahku diiringi pemandangan gedung-gedung kampus yang nampak jenuh. Semuanya berwarna putih tetapi tidak bergairah. Padahal gedung itu selalu dicat ulang setiap tahun. Mungkin karena cuaca yang sedang berawan atau karena pikiranku yang sedang kusut. Kemungkinan-kemungkinan yang ada sepertinya tak mampu memberi kepastian jawaban atas pertanyaanku sendiri.
"Win, jalan-jalan, yuk?!" Di gerbang kampus, Toki menegurku dengan nada spontan. Membuatku terkejut karena ia menerjang badanku dari belakang dengan kedua tangannya seperti pegulat yang tengah menelikung lawannya.
"Aduh... aku lagi pusing banget, Ki. Malas!"
"Yah, pusing dipiara... padahal di dekat SR ada pemandangan bagus."
"Pemandangan apa? Tak mungkin ada pemandangan yang lebih bagus dibandingkan hamparan kasur empuk yang bisa meluruskan tulang belakangku."
"Tuh, lihat itu. Siapa yang lagi jalan sendirian di parkiran SR?"
Saat melihat Sunny dari kejauhan, aku spontan terbangkit dari kehampaan. Wow! Ini baru namanya pemandangan!
"Hehehe... jadi tambah pusing atau bagaimana? Kalau memang niat, ajak saja jalan-jalan. Now or never, Man!"
Toki benar. Kepalaku menjadi semakin berat. Terasa pusing karena harus mengambil sikap tegas atas pemandangan bagus itu.
"Ya, sudah. Doakan ya, Ki. Kalau sukses, aku traktir satu minggu di Gelap Nyawang."
"Amin, Win." Toki antusias, bertepuk tangan.
Lalu, aku mendekati Sunny dengan perasaan baur. Kutegarkan diriku dalam langkah satria. Ia belum menyadari kehadiranku yang berjalan lambat dan meragu. Ia kelihatan lesu, dan melangkah dengan kepala tertunduk. Aku sedikit ragu untuk menegurnya. Tidak etis menegur seseorang yang mungkin sedang ingin sendiri atau tengah berpikiran kalut.
Tetapi Tuhan tidak akan mengubah nasib makhluk ciptaan-Nya. Tidak jika tidak diubah oleh dirinya sendiri. Kerja keras merupakan usaha nyata yang wajib dilakukan oleh setiap individu. Jika ingin jadi pacarnya, aku harus berusaha mendekatinya. Mudah-mudahan usahaku ini ada hasilnya. Semoga!

***

"Halo, Sun."
Ia melirikku sekilas namun tidak menjawab.
"Apa kabar?" tegurku lagi.
Ia masih saja terus berjalan lambat tanpa respon apapun terhadap teguranku.
"Sun, jalan-jalan, yuk?!"
Kali ini ada sedikit respon dari kedua kakinya yang berhenti melangkah seketika. Diikuti gelengan kepala, dan diakhiri pergerakan langkah yang kembali menjauhiku.
Ia menolak!
Wajar! Seorang gadis pasti akan berusaha menjaga jarak dari lawan jenisnya. Kita hidup di Indonesia yang katanya sih, berbudaya. Sepertinya aku harus bersikap lebih tegas lagi untuk meminta penjelasan dan alasan darinya. Sebagai penganut agama yang patriarkis, sudah seharusnya seorang pria memberi ketegasan pada kaum Hawa. Aku terus menerus berusaha menghalangi langkahnya dengan tujuan agar ia tidak lagi menjauhiku. Dan akhirnya berhasil!
Ia berhenti melangkah. Wajahnya terangkat tegak dan matanya beralih menatapku. "Sori, Win... aku tidak bisa. Banyak pekerjaan...."
"Ayolah! Sudah capek kuliah kok, malah pingin mengerjakan PR? Tidak takut gegar otak, Sun?" Aku memotong kata-katanya yang belum tuntas
Tiba-tiba ia mengerutkan keningnya. Mungkin karena merasa tersinggung. Aku jadi takut. Jangan jadi benci, jangan jadi benci! Aku berdoa seperti itu dalam hati.
Ia berjalan ke arahku dengan perlahan tanpa ekspresi dan melemparkan tasnya kepadaku. Dengan spontan, respon tanganku berusaha meraih tas tersebut. Sunny menatap mataku tajam seakan-akan ingin menantangku berduel. Ia berdiri tegak dengan lengan yang terlipat angkuh.
"Oke, kamu mau ajak aku ke mana?"
Mau ke mana, ya?! Si Toki belum bilang apa-apa tentang perjalanannya. Aku mencoba berpikir keras. Pandanganku menatap langit di angkasa, berusaha menjaring sebuah kalimat tujuan dengan mengonsentrasikan pikiranku. Ke mana, ya?! Sementara itu Sunny terlihat semakin tidak sabar. Mati aku!
"Ke tempat rahasia. Dimana kendaraan belum ditemukan dan prasasti Sunda menerangkan keadaan negerinya." Tiba-tiba saja Toki mengagetkanku dengan jawaban yang datang menghampiri kami secara mendadak seperti hantu. Menerangkan tentang perjalanan ke tempat rahasianya.
Aku menghela napas panjang. Beruntung bisa mendapatkan jawaban itu. Akhirnya kita tahu ke mana kita akan pergi. Ke tempat dimana raja-raja Sunda masih berjaya. Ya, ke tempat purba!
Ke tempat raja-raja? Dimana kendaraan dan teknologi mutakhir belum ada?
Aku dan Sunny saling berpandangan. Zaman raja-raja? Hei, ini Bandung masa kini! Apakah memang sudah ada mesin waktu?! Aku belum pernah lagi berkunjung ke Laboratorium Fisika semenjak lulus TPB, kira-kira setahun yang lalu.
"Serius, kamu?! Kayaknya keren, tuh!" Mendengar ocehan Toki, Sunny langsung tertarik. Ia jadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Senyuman yang muncul di wajahnya bisa menggambarkan gairah pada tubuhnya. Sementara aku masih saja bingung. Ke mana arah perjalanan kita? Di mana profesor hebat itu menyimpan reaktornya?
"Tenang saja, Win. Yang penting kalian berdua ikut dulu."
Walau ragu, kami terus berjalan kaki mengikuti langkah Toki ke pelosok Kota Bandung. Medan yang kami tempuh semakin lama semakin berbukit-bukit. Dengan seksama, aku mengamati pemandangan di sekelilingku. Secara perlahan, deretan rumah yang padat beralih menjadi perkampungan Sunda yang lapang. Keadaan itu berubah-ubah sedemikian rupa secara perlahan sehingga akhirnya hanya beberapa gubuk dilatari hijaunya tetumbuhan saja yang terlihat di sana-sini. Berhektar-hektar kebun hasil olah kedua tangan para petani tradisional terbentang luas di kejauhan. Pemandangan itu terasa nyaman di pikiranku. Aku melirik ke arah Sunny, dan mendapatkan kekaguman yang sama. Ia pasti belum pernah merasakan keindahan alam yang asri seperti ini sebelumnya.

***

Diam-diam aku terus memperhatikan pesona Sunny yang sangat menawan. Saat ekspedisi ini mulai terasa melelahkan, kehadirannya terus memaksa kakiku untuk tetap berjalan di dekatnya. Ya, Tuhan! Tak sedetik pun aku melihat ada cela di tubuhnya. Sungguh Mahabesar Gusti Tuhan yang mampu menciptakan kecantikan tiada batas dari bidadari-bidadari-Nya. Sampai akhirnya, Toki berkata bahwa kita telah sampai di tempat tujuan.
Saat kakiku berhenti melangkah, barulah aku merasa nyeri dan lelah. Sendi-sendiku terasa ngilu telah melewati kapasitas kerja normalnya. Aku belum sempat mengambil posisi duduk berselonjor atau berbaring ketika Toki kembali memanggil kami berdua untuk ikut dengannya. Ia memperlihatkan pemandangan yang aneh di balik rimbun tanaman liar yang telah menjalar setinggi pohon kelapa.
Akhirnya, ketika tabir wahana semakin jelas, aku melihat bukit yang berbentuk parabola sempurna dan tampak seperti wajan terbalik. Tanahnya terlihat gersang, hanya beberapa jenis rumput tertentu saja yang mampu tumbuh. Ditemani pepohonan tua dengan akar yang sangat panjang menjulur ke mata air yang terlihat jernih dan menyegarkan.
Di salah satu perbukitan terdapat sebuah kompleks gua. Dan di puncak salah satu bukit terdapat sebuah arca batu. Di sebelah baratnya terdapat batu bersusun tiga yang di atasnya terlihat sungai bawah tanah, mengalir menuju kompleks gua, membasahi lantai gua dan membentuk sebuah kolam dengan diameter yang besar. Dinding di beberapa sudut kolam berwarna seperti pelangi. Mungkin hal itu terjadi karena pembiasan dan penguraian berkas-berkas sinar matahari yang masuk ke dalamnya.
Kami semua terpukau, dan menyembulkan senyuman terpesona. Nuansa mahaindah tidak dapat kami gambarkan saat itu juga. Rasanya bahagia melihat pemandangan yang sangat indah yang menghampar di hadapan kami. Dan spontan tanpa teraba, kami menerjang hamparan bukit yang teduh. Kami langsung berlari dan mengguling-gulingkan badan ke bantaran padang rumput nan hijau. Kami semua berbahagia. Alangkah damainya berada di dalam nuansa teduh dan sejuk begini.
Toki meraih sebuah akar besar dan bergantungan seperti layaknya hewan primata. Sementara Sunny tertawa malu ketika melihat Toki meniru gerakan orangutan. Aku berada di sampingnya saat itu. Melihatnya bahagia, simpatiku membuncah. Gadis itu memang lentukan langit yang mahasempurna. Aku jatuh hati padanya melebihi segala. Dan menyimpan satu harapan bahwa ia akan menyambut cintaku suatu saat.
Giliran Sunny mengambil akar besar dari pohon yang lain. Ia melilitkan akar besar itu di pinggangnya seperti sebuah tali. Lalu mengayunkannya dengan dorongan yang sangat kuat. Ia mengikuti liuk gerakan, dan berayun sesuka hati. Kadang-kadang, posisinya terbalik dengan kepala berada di bawah dan rambutnya yang hampir menyentuh tanah. Dengan wajah yang tersenyum puas, ia sesekali memandangku. Sesekali melihat pemandangan indah dari balik ketinggian saat ayunan meninggi. Sampai akhirnya ayunan itu seperti lelah dan berhenti bergoyang.
Aku mengikuti aksi mereka berdua di akar pohon yang lain. Kami semua tenggelam dalam riak riang. Aneh. Kami tak merasakan beban hidup yang senantiasa membebat dalam kehidupan kami. Di sini, kami merasa bebas, bahagia, dan tak dirundung masalah pelik duniawi. Raga kami serasa begitu ringan. Tak ada prasangka dan gelisah terhadap hari esok. Tak ada lagi kejomplangan yang menjadi momok kami antara si Miskin dan si Kaya. Si Miskin yang belum makan, dan si Kaya yang berhamburan sandang-pangan. Tak ada pengangguran. Tak ada kekerasan. Semuanya terasa damai seperti di surga.
Setelah puas bermain, Toki mengajak kami ke puncak kompleks gua. Di atas sana terdapat sebongkah batu besar yang telah kami lihat sebelumnya dari kejauhan. Batu itu berbentuk tugu bersegi-segi dengan sebuah prasasti yang dipahat secara teratur. Ukurannya setinggi manusia dewasa yang melebar pada bagian dasar dan mengecil di bagian puncak. Segenap keingintahuan meruap, dan kami mencoba untuk menelaah arca yang berbentuk menhir dan tertulisi, sepertinya, dengan huruf Sunda kuno. Sunny, yang berdarah Jawa-Sunda, mengamati satu persatu huruf yang terukir di permukaannya. Ia mengikuti jenjang pendidikannya semenjak SD di Bogor. Berarti huruf kuno tersebut pernah menjadi makanan wajib baginya sekali seminggu.
"Semoga selamat bagi ia yang percaya, undang-undang dewata yang mengawali permulaan segala sumpah!" Kalimat pembuka itu begitu religius, dilafalkan oleh Sunny dengan pencerapan makna yang dalam. Gadis manis itu merendahkan posisi badannya untuk kembali mencerna kalimat yang baru "Seyogyanya alam... berguna untuk keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, dan kelimpahan segalanya bagi semua negeri mereka. Tetapi... orang-orang merasa bangga dan tersanjung sehingga semua perbuatannya jahat, dan tidak berbakti serta setia pada dewa. Luhur nilai para prabu, dihilangkan nafsu dan kemenangan perang. Orang-orang saling mengganggu dan merusak, membunuh agar mendapat harta serta pesta-pesta."
Sunny mengeja detil, agak terputus. Ada beberapa baris yang ia lewati. Mungkin karena pahatannya telah lamur akibat proses erosi alam. Tiga baris berikutnya, Sunny kembali melanjutkan bacaannya.
"Sementara dewa... yang membuat hidup, akan membuat pelaku perbuatan tersebut mati kena kutuk. Sehingga bumi rusak dan semua negeri mereka kembali jadi percaya. Dibuat pada tahun Saka 608. Hari pertama, paruh terang, bulan Waisaka." Sunny menyudahi ejaannya, dan memberi penjelasan tentang prasasti. "Pahatan ini diucapkan oleh para pemuda dan pemudi dari desa sekitarnya."
Sunny berhasil membaca sembilan dari duabelas baris kalimat yang ada. Walaupun tidak semuanya bisa dipahami dengan baik tetapi tujuan ditulisnya prasasti ini cukup jelas. Tulisan yang khas kuna itu sepertinya adalah prasasti sebelum Kerajaan Pajajaran. Mungkin, di tempat ini, kaum terpelajar saat itu sering berdiskusi tentang keadaan alam yang setiap harinya mengalami kehancuran akibat kebiadaban manusia. Rakyat meninggalkan ajaran mulia agamanya dan berusaha mencari materi sebanyak-banyaknya. Sementara raja-rajanya kian hari kian menambah selir serta menghambur-hamburkan uang pajak untuk pesta dan peperangan. Akhirnya kekacauan datang silih berganti. Mereka telah menghalalkan nafsu keinginan ketimbang nurani.
Aku terduduk setelah sekian lama menelaah arti kata-kata itu dan menatap kosong arca yang tak bernyawa. Toki masih berdiri tanpa ekspresi. Sementara Sunny merebahkan tubuhnya ke tanah sembari melihat angkasa dan tampak berpikir. Saat itu aku merasakan kehadiran para arwah yang ikut bersila dalam permenungan. Mereka semakin ramai berdatangan dan berkumpul untuk bertobat. Karena ilmu mereka tak sanggup melawan arus zaman yang lebih menggoda untuk dinikmati.
"Bijak benar orang zaman dahulu."
Toki memecah konsentrasi seperti ingin mengajak kami berdiskusi. Tetapi tak ada sepatah kata pun dibalas oleh yang lain. Sunny hanya tersenyum, sementara aku mengalihkan pandanganku ke padang rerumput. Begitu lama kami dalam permenungan sampai akhirnya waktu berlalu, dan matahari mengubah sudutnya ke bujur horison. Siang berganti dalam petang jingga sore.
Saatnya kami berpisah, dengan hati bergemuruh bahagia. Sebuah keajaiban rasa yang tak dapat kami pahami dan ungkapkan dengan kata-kata. Raga kami masih seringan kapas, dan tak ada bebat beban yang membelenggu. Kami menikmati nuansa damai dengan khidmat. Setelah itu, aku pun berpamitan pada 'sang ahli purbakala', Sunny.
"Sun! Besok-besok kita main-main lagi, ya?"
Sunny tersenyum ke arahku sebelum kembali berjalan ke arah yang berlawanan. Bagiku, saat itu waktu berlalu begitu cepat, dan dimensi enggan melambat. Agar aku dan Sunny dapat berlama-lama di dalam kedamaian itu. Semuanya harus berakhir. Anugerah indah dalam wujud perempuan bernama Sunny itu harus menirus lantas menghilang dari hadapanku. Seperti lambaian sayap kupu-kupu yang menjauh, terbang lalu menghilang di balik angkasa.

***

"Win! Mau makan tidak?!"
"Lho, kok...?! Toki? Mana Sunny?"
"Sunny? Sunny kepalamu!"
Astaga! Aku bermimpi!
ASTAGA! AKU BERMIMPI!
Sebenarnya hari ini aku punya jadwal untuk bertemu dengan Sunny, seorang mahasiswi yang aktif di berbagai kegiatan kampus, untuk membicarakan masalah kegiatan organisasi. Sekarang sudah pukul tujuh malam dan matahari telah hilang dari pandangan semua orang. Seharusnya kami bertemu dua jam yang lalu di pojok kampus, di markas organisasi itu.
Sesaat setelah kesadaranku mulai pulih, aku langsung beranjak menuju tempat yang telah disetujui. Aku berlari tanpa mempedulikan efek tubuhku yang belum siap dengan ancang-ancang ini. Tetapi aku tidak peduli. Meskipun pada akhirnya semua persendianku ngilu karenanya. Entah kenapa kakiku bisa melangkah begitu cepat meninggalkan Toki yang masih bingung melihat tingkahku yang tergesa-gesa.
Namun semuanya sudah terlambat. Tempat itu sudah begitu sepi dan gelap sementara semua orang sudah tak tampak lagi dalam rutinitas dan kegiatan. Sumpah! Aku begitu geram karena sikapku sendiri yang telah melalaikan janji. Setengah jam telah berlalu dan aku kembali lagi ke tempat Toki di pedalaman Cisitu dengan tubuh yang lesu. Melihat keadaanku, Toki mencoba untuk menghiburku dengan menawarkan sedikit saran.
"Makan dulu, Win! Biar segar."
Aku hanya terdiam, dan memandang kosong tanpa ekspresi Toki yang berdiri di bingkai pintu kamarnya. Kali ini Toki hanya bisa menatapku dengan iba tanpa mampu berkata apa-apa. Aku masih terus berharap agar semua yang kualami saat ini adalah mimpi, sehingga masih memiliki kesempatan untuk bertemu Sunny!
Namun....
Ah, mungkin nasi sudah menjadi bubur. Aku memang sedang tidak bermimpi.
Semua karena Sunny....
Dan aku akui, memang telah jatuh hati kepadanya. Sunny adalah jelita yang mampu meluluhkan jiwaku. Adalah kekerdilanku sendirilah selama ini yang membuat aku bagai pesakit, dan menjadi pecundang cinta yang hanya dapat meratapi nasib buruk cintanya. Aku kalah sebelum berperang. Aku terlalu pengecut. Padahal, cinta memerlukan perjuangan. Perjuangan yang selama ini aku lalaikan, serta hanya pasif mengenangnya tanpa aplikasi dan wujud kasih yang nyata.
Ya, Tuhan!
Aku mesti belajar untuk bersikap satria. Sebelum kekerdilan melamur segalanya.
Mumpung masih ada waktu....©



BIODATA PENULIS

Hamdi Widyawan Rotib, akrab disapa Widy, mahasiswa Teknik Fisika ITB angkatan 2004. Masih aktif di Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT), Institut Sosial Humaniora "Tiang Bendera" ITB, dan Unit Kesenian Sulawesi Selatan (UKSS). Jabatan terakhir (2007) adalah Koordinator Kajian 'Rencana Anggaran ITB 2008' di Tim MWA Wakil Mahasiswa KM ITB. Salah satu cerpennya masuk dalam sepuluh besar Pekan Baca Tulis (PBT) ITB 2008 barusan.

rindu seluas langit biru

"Hidup ini kuletakkan pada mezbahMu ya Tuhan.
Jadilah padaku seperti yang Kau ingini."
(Sepenggal Syair Lagu 'Seperti yang Kau Ingini', composed by Jonathan Prawira - singer by Nikita)



Natal senantiasa membawa kenangan....
Jari-jari lentik Ibu Theresia sedang melagukan Amazing Grace ketika Kania mengambil air suci dan menyentuhkan ke dahi, hati, dan kedua belah bahunya. 'Sangat Besar Anugerah-Mu' adalah salah satu lagu kebangsaannya. Sambil mengisi rongga dadanya penuh-penuh dengan udara sejahtera, ia mengambil tempat duduk di bawah jendela deretan bangku sebelah kiri. Diletakkannya tas dan Bible-nya, lalu perlahan berlutut.
Amazing Grace mencapai nada-nada akhir, Kania memejamkan mata. Ia serasa dibuai angin surga dan terbang ke negeri Antah Berantah.
Negeri Antah Berantah? Negeri dengan seribu macam bunga dan sejuta warna kembang? Dengan padang luas berwarna hijau dan bunga-bunga kecil berwarna putih menyembul di antara dedaunannya? Ah, Kania menghela napas diam-diam. Sebenarnya, tidak patut mengeluh pada saat-saat begini. Tapi, tanpa dikehendaki, tiba-tiba saja, sebilah tombak dengan ujung sangat tajam menghunjam ulu hatinya.
Perlahan sekali, dielusnya dadanya dan menunduk dengan mata terpejam pasrah. Semenit kemudian, ia membuka matanya dan meraba 'Madah Bhakti' di pangkuannya, membuka halaman doa selembar demi selembar sepenuh perasaan.
"Bapa di Surga yang Mahapengasih...," diejanya doa yang entah sudah berapa kali didengungkannya sepenuh hati. "Dalam kebijaksanaan-Mu yang tak terselami, Engkau telah menetapkan seorang pemuda menjadi jodohku. Ia akan mencari aku supaya menjadi teman hidupnya. Ialah yang akan menjadi pelindungku serta ayah bagi anak-anakku.
Ya, Bapa, Engkau tahu tempat tinggal pemuda itu. Jagalah ia dalam rahmat-Mu, supaya ia selalu hidup suci dan tahu mengendalikan diri.
Semoga ia selalu berlaku sopan, ramah dan satria. Jauhkanlah ia dari segala bahaya dan teguhkanlah ia dalam kebaikan. Jagalah dan lindungilah aku juga, supaya ia menemukan aku dalam keadaan yang pantas baginya. Garaplah 'ladang hati' kami, dan taburilah dengan benih-benih sabda-Mu, supaya selama masa penantian ini hati kami disucikan dan kehendak kami dikokohkan.
Ya, Bapa, kami berharap, kalau tiba saatnya nanti, kami berdua bersama-sama membangun rumah tangga yang memancarkan kasih sayang kebapaan-Mu kepada semua orang di sekitar kami. Amin."
Amin, Kania berbisik panjang lagi dan menegakkan kepalanya. Di tengah-tengah pilar di depan altar, Bunda Maria dengan gaun biru langitnya tersenyum lembut. Kania merasakan betul, ada angin damai bertiup mengembusi serambi jantungnya. Saat-saat begini, selalu, ia merasa yakin Bapa Surgawi dan Bunda Terkasih itu mendengarkan dengung doanya dan pasti akan mengabulkan pinta hatinya.
Dengan gerakan tanpa menarik perhatian orang di sekitarnya, Kania memalingkan wajahnya dan memandang ke sebelah kanannya. Beberapa orang tampak berseliweran mencari tempat duduk. Para ibu-ibu biasanya lebih senang duduk di barisan belakang. Kania tersenyum samar dan secara refleks menoleh ke bangku belakang.
Setelah menoleh, kembali rasa nyeri itu menyerang jantungnya. Ia sudah tahu pasti. Daniel tidak akan berada di antara jemaat di belakang sana. Tapi, entahlah, dalam ilusinya yang menembus langit lapis tujuh, ia selalu berharap Daniel tiba-tiba muncul dengan mata coklatnya. Atau ilusi yang lebih gila lagi, ia membayangkan Daniel akan berjalan dan duduk di sebelahnya, setelah terlebih dahulu memamerkan senyum menawannya.
Uhhgg, Kania menunduk dan membatin sedih. Di manakah Daniel saat-saat ini? Sedang berbuat apa cowok keren dan gagah itu sekarang? Adakah senar-senar di hatinya mendatangkan irama yang sama dengan yang mengalun di hatinya? Oh, Kania menggigit bibir bawahnya dan menunduk lebih dalam lagi. Jika kasih dan kerinduan ini adalah karunia dari Atas, adakah Dia menghadirkan kasih dan rindu yang serupa di bilik hati lainnya?
Lonceng berdentang nyaring, Kania mencoba mengusir bayangan yang menari-nari di pupil matanya dengan memperbaiki duduknya. Hari ini kotbah akan dibawakan oleh Pastor Simon Xaverius, yang selalu menarik serta kocak. Kania tidak mau pulang dengan hati hampa nantinya. Dicobanya berpikir dan meyakinkan diri, bahwa Sang Gembala Baik itu mendengarkan seruan domba-Nya.

***

Angin di penghujung musim kemarau bertiup kering. Lina menaikkan rambutnya dan mengipas kuduknya dengan majalah yang disambarnya dari atas meja. Diliriknya Kania yang sedang mengembara ke negeri di mana bidadari tinggal. Heh, Lina mengangkat bahunya. Persoalannya sebenarnya mudah dan sepele sekali, pikirnya gemas. Namun masalahnya, yang mengalaminya adalah Kania. Dan, anak itu memilih terbelenggu daripada melepaskan diri darinya.
"Yesus memang bilang, kalau kita meminta, kita akan mendapat," Lina menepuk lengan Kania untuk membawanya kembali ke alam manusia.
"Tapi...."
"Tapi Ia juga bilang...." Lina cepat-cepat memotong sambil menatap sahabatnya setengah iba setengah marah. "Ia juga bilang kita harus mencari dan mengetuk pintu. Begitu kan, Kania?"
Kania menatap dengan matanya yang bertelaga.
"Tuhan kan, maha segala maha, Lin," Kania membantah dengan suara patah. "Dia akan mengabulkan apa saja yang kita doakan, bukan?"
"Yak!" Lina menegaskan. "Tapi di samping berdoa, kita dituntut untuk berusaha juga, kan? Ora et labora. Lalu Ia akan menyertai usaha kita. Begitu logikanya yang sehat, kan?"
"Yaahh...." Kania mendesah dan menunduk. Disimpannya seulas senyum samar-samar di balik bibirnya. "Saya tidak berani berusaha, Lin," katanya dengan suara setengah putus asa. "Saya suka membayangkan, Daniel akan menolak saya. Atau menertawakan saya. Atau menceritakan ke teman-teman bahwa ada seorang gadis yang tak tahu diri yang mati-matian mencintai dia. Dan... ia tidak pernah mencintai gadis tolol itu."
"My, God!" Lina memekik dan mengelus dadanya. "Sintingkah ketua OSIS yang kau cintai setengah mati setengah hidup itu? Atau otaknya sedikit miring? Atau ia abnormal, sehingga menganggap jatuh cinta itu sesuatu yang aneh, yang perlu ditertawakan dan disebarkan seantero jagat lewat Seputar Indonesia?"
Kania hampir tertawa mendengar kalimat-kalimat Lina yang bagai air bah itu. Ia mengatupkan bibirnya, menyembunyikan kegelian hatinya. Sejenak kemudian ia berpikir, mungkin Lina benar. Mungkin ia tertawa terbawa oleh perasaan takutnya sendiri.
Jika ia membungkus perasaan cintanya rapat-rapat dengan selimut ketidak-acuhan dan kebisuan, bagaimana mungkin Daniel akan menemukan kunci menuju pintu hatinya? Berharap angin yang bertiup berbisik ke telinga Daniel terlebih dahulu mendekatinya?
Ah, ia memang berharap, Daniel akan memulai mengambil langkah pertama. Rasanya ia sudah capek menunggu keajaiban itu datang. Rasanya ia sudah lelah menerka-nerka, ada apa sebenarnya di balik mata teduh berwarna coklat milik Daniel yang menghunjam ke sanubarinya ketika mereka bertabrakan pandang. Apakah riak-riak pengharapan yang sama bersenandung di keping hatinya?
"Hei! Sudah ke langit mana khayalmu singgah?"
Perlahan dengan enggan, Kania menoleh, dan memandang sepasang mata bulat di depannya dengan pandangan tak bercahaya.
"Kalau kamu jadi saya, Lin, apa yang akan kamu perbuat?" tanyanya dengan suara lemah.
"Saya?!" Lina melotot dan menunjuk dadanya dengan gagah. Didongakkannya dagunya. "Tentu saja saya akan melihat peluang-peluang saya, apa mungkin dia juga menyimpan feeling yang sama dengan saya. Tidak ada hal yang mustahil, kan? Siapa tahu, Daniel juga diam-diam mempunyai perasaan yang sama. Dan ia juga tipe pemuda yang introvert, sehingga menyimpan perasaan itu rapat-rapat di hatinya."
"Aahh," Kania tertawa sumbang. "Hidup bukan dongeng, Lin. Hidup juga bukan cerpen-cerpen manis seperti yang sering kita baca. Seorang cowok naksir seorang cewek, seorang gadis jatuh cinta pada seorang pemuda, dan kemudian happy."
"Lho, siapa tahu, kan?" Lina melotot Lagi. "Seringkali yang membatasi kemungkinan-kemungkinan besar dalam hidup ini adalah diri kita sendiri. Kamu selalu mengatakan 'tidak mungkin-tidak mungkin', sehingga kamu tidak melihat peluang-peluang lagi. Padahal, mungkin selama ini Daniel juga mau mendekati kamu, tapi dia mengurungkan niatnya untuk mendekati kamu, karena kamu selalu berubah diam dan gagu kala ada dia di sekitar kamu. Mungkin malah ia berpikir kamu membencinya, atau tidak suka berteman dengannya. Iya, kan?"
Kania menunduk jengah. Apa yang dikatakan Lina memang benar adanya. Ia selalu mendadak jadi orang yang aneh kalau ada Daniel. Selalu sibuk mencatat ini dan itu. Baru setelah bayangan Daniel berlalu, didapatinya bahwa kertas di atas mejanya hanya berupa coretan-coretan tanpa bentuk atau inisial cowok terkasih itu.
Melihat Kania terdiam, Lina mendapat angin.
"Kalau senyummu selalu mendadak tenggelam di dasar bumi setiap bayangan Daniel muncul, lama-lama ia bisa mengira kamu muak atau membenci dia. Laki-laki juga punya prasangka dan perasaan, kan? Apalagi orang yang sedang jatuh cinta selalu perasa."
"Kamu tahu sendiri saya tidak sebel atau membenci dia," bela Kania sedikit sengit. "Kamu toh tahu, saya selalu mendadak salah tingkah kalau ada dia. Sebelum dia datang, biasanya saya sudah menyiapkan senyum atau sebaris kalimat. Tapi begitu ia datang, saya selalu lupa akan senyum yang sudah saya siapkan maupun kalimat yang sudah saya rangkai. Seharusnya, sebagai cowok ia bisa menerka-nerka ada apa di balik sikap saya. Seharusnya ia mengerti, hanya orang yang jatuh cinta yang bisa bertingkah aneh begitu."
"Kania...." Lina mengeluh setengah putus asa. "Kalau kamu mengharap Daniel menjelma menjadi malaikat yang bisa menembus dan melihat seluruh isi jantungmu, itu mimpi paling konyol sepanjang segala abad."
Kania menatap Lina, sambil mencernakan kata-katanya. Lalu, perlahan, ia tersenyum samar, kemudian menghela napas diam-diam. Terkadang, ia juga sangat membenci dirinya sendiri. Kalau saja ia berani memastikan arti pandang mata dan senyum teduh Daniel. Kalau saja ia berani mengajuk hati pemuda gagah dengan bahu kokoh itu. Kalau saja ia bertekad merealisir impiannya untuk melangkah bergandeng tangan dengan cowok gantengnya itu. Kalau saja ia berani memperjuangkan hasrat hatinya. Kalau saja....
Tapi, ia hanya membisu. Hanya pada Bible dengan ayat penghibur, pada hening doa tengah malam, ia bercerita tentang mimpi birunya.

***

Pernah, Lina merasa bosan dengan cerita yang itu-itu saja dari Kania. Tentang mimpi birunya. Tentang hasrat jingganya. Tentang angannya merajut masa depan bersama Daniel. Tentang kegilaannya membeli baju dan segala macam dengan warna biru dan hijau, warna favorit Daniel. Tentang puisi-puisi cintanya yang pada bagian bawah semuanya bertuliskan pour: Daniel. Segalanya tentang Daniel Putra Kurniawan.
Lina mulai sebel, dan bertekad untuk mendatangi Daniel untuk menceritakan segalanya. Ia selalu berprinsip, lebih baik sakit sesaat daripada terbelenggu dalam waktu tak bertepi. Tapi apa reaksi Kania? Lina mendengus jengkel mengingatnya.
Gadis tolol itu memohon, sambil menangis, agar Lina tidak melaksanakan ide yang menurutnya sinting itu. Tersendak-sendat, ia membeberkan semua pesimismenya. Bagaimana kalau Daniel tidak mencintai saya? Bagaimana kalau Daniel tidak menyukai saya? Bagaimana kalau saya hanya salah mengartikan sikap baiknya, pandang mata teduh dan senyum manisnya? Bagaimana kalau sesudah Daniel tahu saya mencintainya diam-diam, ia malah membenci saya? Bagaimana...? Bagaimana...? Dan sepuluh bagaimana yang semuanya berbau skeptis. Ujung-ujungnya, ketika Lina membulatkan tekad untuk mengupas semua pertanyaan bagaimana, yang menggalaukan hati itu langsung dari Daniel, Kania mengancam akan memutuskan tali persahabatan mereka.
Mengapa di dunia ini ada orang yang begitu tolol? pikir Lina tidak mengerti. Menciptakan beribu tanda tanya tanpa mau mencari jawab yang setepatnya. Untuk apa melangkah dalam kegelapan kalau ada pelita yang menjadi penerang jalan? Apa enaknya hidup dalam lingkaran tanda tanya?
Angin musim kemarau merontokkan daun-daun kering dari pohon jambu air, jatuh di atas tanah berkumpul dengan bunga-bunganya yang berwarna putih. Lina menoleh dan mendapati Kania tengah melamun lagi.
Lina mengangkat bahunya. Mungkin Kania sedang mengangankan tiba-tiba Daniel datang dan menjemputnya pulang. Atau dering telepon dari Daniel yang bertanya dengan cemas, 'Lina, apa Kania ada di rumahmu? Ada? Oh, syukurlah. Bilang sama Kania lima menit lagi saya ke sana menjemputnya'. Atau lebih gila dan lebih sinting lagi, mungkin Kania membayangkan, kalau ia sampai di rumah nanti, Daniel menunggunya dengan pijar-pijar kerinduan. Lina menghela napas dan merasakan iba yang amat sangat. Gadis rapuh yang tolol dan bodoh, pikirnya sengit.
"Janganlah terus hidup dalam dunia angan-angan, Kania Sayang," ditepuknya pipi Kania untuk membangunkan gadis itu dari mimpi siangnya. "Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak mencoba sema sekali. Daripada terkatung-katung seperti sekarang ini, kan? Taruhlah Daniel hanya menganggap kamu kawan biasa, tidak mempunyai arti apa-apa di balik pandang matanya yang teduh dan sikapnya yang terkadang aneh itu. Taruhlah kalau Daniel menolak kamu mentah-mentah, itu reaksi yang paling buruk dan tak beradab. Tapi, setidaknya, kamu sudah tahu cinta kamu sia-sia dan tidak perlu diperpanjang umurnya, kan? Bayangkan bagaimana kalau sebaliknya? Kalau ternyata Daniel punya perasaan yang sama, tapi juga diam-diam sepert kamu? Tidak semua cowok bisa mengungkapkan perasaannya secara lugas, Kania. Cerita yang amat tragis kalau itu benar adanya, kan? Bahwa dua orang yang saling mencintai harus patah hati hanya karena salah paham dan tidak saling terbuka."
Kania tertawa tanpa suara. Dikerjapkannya kelopak matanya dan menatap angkasa. Betulkah hidup bisa sama seperti cerita-cerita romantis dalam novel-novel dan cerpen-cerpen? Tentang dua buah hati yang sama-sama mengandung magnet, tapi terbungkus oleh tirai malu dan gengsi, lalu akhirnya berakhir bahagia sampai selama-lamanya?
"Dunia tidak akan kiamat kalaupun ia menolak cintamu, Kania," Lina mengelus pipi tirus sahabatnya. Ia tertawa untuk membangkitkan keberanian Kania. "Setidaknya, masih ada Markus yang menunggumu sungguh-sungguh. Kamu mau mencoba kan, Kania? Janji?"

***

Kania sedang menyibukkan diri membaca hasil rapat OSIS bulan lalu berupa laporan mengenai pertandingan-pertandingan yang diusulkan dalam Class Meeting ketika tiba-tiba saja ia merasa dadanya berdebar kencang. Cukup beranikah ia melaksanakan rencananya hari ini? Kemarin malam, dalam kotbah tentang 'Nabi Nuh', Pastor Suwandoko menekankan, bahwa dalam iman segala pengharapan itu penggenapannya sempurna. Sepulang dari gereja kemarin, Kania sudah berdoa kalang kabut, agar Yesus menyertai ia hari ini untuk memberikan seulas senyum pada Daniel.
Senin minggu pertama, Daniel biasanya datang satu jam sebelum bel berbunyi. OSIS mengadakan rapat, dan sebagai Ketua yang baik, ia harus menanyakan pada Sekretaris OSIS, apakah materi rapat sudah disiapkan dengan baik. Kania sudah mempersiapkannya dengan amat sangat baiknya. Dan kali ini, Kania telah datang lima menit lebih awal dari satu jam sebelum bel. Setidaknya, Kania berencana, ia akan memberikan salam selamat siang dengan seulas senyum kepada Daniel kalau cowok itu masuk ke aula nanti. Mencoba bersikap lincah dan manis. Seperti dulu-dulu, ketika perasaan aneh itu belum singgah dan menetap di hatinya.
Kania mencoba menaikkan sudut bibirnya, lalu menatap langit luar jendela. Putih bersih dan biru jenih. Di sana, di atas segumpal mega-mega, ada bayang seorang pemuda gagah. Dengan bahunya yang lebar kokoh. Dengan badannya yang tinggi tegap. Dengan rambutnya yang setengah ikal dan matanya yang berwarna coklat. Dengan sepasang alis hitam. Yang pandai main basket, jago aerobik, juara karate tingkat kotamadya, dan selalu mendapat rangking setiap semesteran. Ah, Daniel memang cowok yang sangat menawan.
Salahkah kalau Kania menyimpan kagum itu setengah tahun terakhir ini? Salahkah kalau ia ingin bersaing dengan begitu banyak gadis yang ingin memiliki kunci hati Daniel?
Terdengar suara sepatu kets di koridor depan kelas samping aula. Kania merasa jantungnya berdetak kencang. Ia menegakkan punggungnya, memperbaiki duduknya, dan mencoba mengendurkan urat ketegangan di lehernya. Terdengar gerendel pintu di luar, lalu harum minyak rambut menyentuh ujung hidung.
"Halo, Kania!" Terdengar suara Daniel menyapa riang dan ramah. "Kamu cepat betul datangnya hari ini?"
Kami tersenum resah.
"Siang, Daniel," ujarnya perlahan sambil memandang wajah cowok gagah yang sedang duduk di kursi di seberangnya. Lalu mendadak saja, Kania merasakan jantungnya ditikam belati tajam. Mendadak ia merasa sangat gelisah. Ia memperbaiki lagi duduknya yang sudah rapi. Bibirnya terbuka, hendak mengalirkan serangkaian kata-kata yang sudah dihafalkannya tadi malam. Ditatapnya wajah dengan rahang bagus itu sekilas, dan pada saat yang bersamaan Daniel mengangkat mukanya dan memandang Kania dengan sepasang mata coklatnya yang teduh.
"Ada apa, Kania?" Suaranya lembut bertanya.
"Oh, ti-ti...," Kania menelan ludahnya dengan susah payah. "Ti-tidak ada apa-apa Daniel," dustanya gugup sambil menunduk. Sekilas, ia merasa telah menangkap sinyal kecewa di mata Daniel. Tapi, entahlah, ia tidak berani memastikannya. Ia serasa melayang-layang dengan mimpi-mimpi berhamburan.

***

EPILOG

"Bapa Pengasih...," batinnya hampir menangis sambil menatap map di atas meja. "Bisikkanlah ke telinganya, bahwa saya mencintainya. Dengan amat sangat."
Suasana hening. Kania mengerjapkan matanya yang terasa hangat. Nyanyian rindu berkumandang di relung hatinya, tanpa ia ketahui, kapan suaranya akan menembus ke udara. ©


BIODATA PENULIS

Dharmawati Tst., lahir di Jakarta pada tahun 1969. Bersama Donatus A. Nugroho - penulis asal Solo, Kurnia Effendi - penulis asal Bandung, Aan Almaidah Anwar - penulis asal Bogor, ia merupakan salah satu cerpenis paling gemilang di eranya karena kerap memenangi LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang, yang kala itu menjadi barometer kehandalan seorang pengarang remaja. Ia juga termasuk salah satu pengarang yang sering menelurkan cerpen berbobot dan 'sastra'.