Tampilkan postingan dengan label Mimpi Terindah Sebelum Mati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mimpi Terindah Sebelum Mati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Desember 2010

jangan dustai aku

Malam adalah retas sembilu
ketika cinta terburai
dan remah dusta bagai duri
sakit luar biasa

Aku berlari bersama gamang
gergasi gulita mengejarku
salahkah aku terlahir dalam raga
yang tak sepurna rembulan?
ketika sinarnya tak lagi melindap indah
dan pasi bagai halimun
di kawah dan gigir jurang hati

— Cinta Tak Lagi Melindap Indah
Effendy Wongso


Ari Sayang (Wina memang terbiasa menyebut diari berwarna hijau lumut miliknya itu dengan sebutan Ari), mungkin kamu mulai bosan mendengar ceritaku akhir-akhir ini yang melulu mengenai Teguh. Habis bagaimana, aku memang sedang jatuh cinta pada cowok itu.
Kata teman-teman, dia anak orang miskin. Tapi aku tidak perduli dengan semua itu. Teguh kelihatan dewasa, tenang dan pintar. Pokoknya, aku cinta setengah mati sama dia.
Kamu tahu tidak, Ri! Sekarang aku lagi hepi berat. Tadi istirahat sekolah, tanpa sengaja aku tabrakan sama Teguh di pintu perpustakaan. Salahku juga memang, mau keluar terburu-buru dan nggak ngeliat jalan. Makanya aku menabrak Teguh yang mau masuk. Waduh, senangnya. Soalnya wajahku terbenam di dadanya. Seru, deh!
Teguh nggak marah. Malah dia tersenyum. Manis banget. Aku cuma bisa melongo. Sedikit menyesal kenapa aku nggak pura-pura terjatuh. Barangkali saja Teguh akan mengulurkan tangan, memapahku untuk berdiri. Hihihi... agak norak ya, Ri?! Tapi biarin, deh! Namanya juga lagi kasmaran.
Wina berhenti sejenak. Membaca ulang tulisan di buku hariannya. Ia tercenung sambil berusaha merangkai kata apa yang akan ditulisnya lagi.
Tapi kira-kira Teguh mau nggak ya, Ri, sama aku. Aku kan nggak cantik. Mana pendek dan gemuk lagi. Kadang aku suka sedih, kenapa aku terlahir tidak cantik. Tidak seperti kakakku itu. Hingga akhirnya tak satu pun cowok yang berusaha mendekatiku. Padahal teman-temanku sudah punya pacar semuanya.
Ah, andai saja Teguh mau jadi pacarku....
Tulisan Wina berhenti lagi. Kali ini diraihnya boneka panda yang sedari tadi membisu di samping. Wina terlentang dengan boneka dipelukan. Menatap langit-langit kamar yang berwarna biru muda. Di sana ia seperti melihat Teguh tersenyum padanya.
Tidak ada sejam kemudian, kedua mata Wina telah terpejam. Di bibirnya ada senyuman. Barangkali ia tengah bermimpi indah.
Pintu kamar terbuka. Mama melangkah masuk. Kepala Mama menggeleng-geleng melihat Wina yang ketiduran. Diselimutinya tubuh Wina. Sebelum mematikan lampu, mata Mama tertumbuk pada buku harian Wina yang terbuka.

***

Dan menurut majalah yang pernah dia baca, tidak semua pria tertarik kepada wanita karena kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik karena inner beauty-nya.

Istirahat pertama. Biasanya saat seperti ini Wina pasti berada di perpustakaan. Maka Teguh mengayun langkah ke sana. Dari pintu perpustakaan ia lihat Wina duduk pada salah satu bangku, menekuri buku yang terbuka di depannya dengan serius.
Tanpa suara Teguh mengambil tempat di depan. Ditatapnya gadis yang tetap tidak bereaksi dengan kehadirannya itu.
"Hai...."
Wina mengangkat wajah. Terbersit sebuah senyuman di bibirnya begitu tahu kalau Teguh yang duduk di depannya.
"Serius sekali. Baca apa?"
Wina mengangkat buku di tangannya. Hem, sebuah novel sastra dari angkatan Balai Pustaka.
"Berniat jadi sastrawati?"
"Cukup jadi pengarang cerpen remaja saja."
"Honor pengarang itu kecil."
"Uang bukan segalanya, kan?"
Teguh mendegut ludah.
"Kamu mau baca buku juga?"
"Pengen ngobrol sama kamu aja."
Wina melengak. Jawaban Teguh barusan bagai anak panah yang menohok tepat di ulu hatinya. Hingga ia rasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dadanya kembang kempis. Tapi ia suka dengan debaran itu.
"Tentang apa?"
"Tentang apa, ya?" Mengerut kening Teguh. Hingga alis mata yang hitam dan lebat itu saling beradu. "Pokoknya pengen ngobrol saja."
Merona kedua pipi Wina. Ia jengah. Teguh tidak seperti biasanya. Kali ini dia terasa berbeda. Sangat perhatian dan lembut. Sementara sorot matanya kala menatap, membuat dengkul Wina bergetar dan lemas.
"Kamu nggak ke kantin?"
"Nggak lapar."
"Gimana kalau kita ngobrol di taman sekolah saja? Di sini udaranya terasa pengap. Belum lagi orang merasa terganggu dengan suara kita."
Oh, Tuhan! Apa yang Kau bisikkan ke telinga Teguh hingga dia begitu manis padaku, bisik Wina dalam hati.
"Bagaimana, Win?"
"Boleh."
Wina bangkit duluan. Lalu Teguh menyusul dari belakang. Tapi tiba-tiba Teguh mensejajari langkahnya dan dengan memberanikan diri menggenggam jemari tangan Wina yang kayak jempol semua.

***

Wina berdiri di depan cermin besar dalam kamar. Dengan seksama, ia pandang tubuhnya yang terlihat dari atas kepala sampai kaki, dalam cermin.
Tinggi tubuhnya hanya 150 cm dengan berat hampir 70 kilo. Meski kulitnya putih mulus, dia tidak terlihat menarik. Mungkin karena pipinya terlalu bulat. Ditambah dengan tumpukan lemak di leher dan pinggangnya.
Harus ia akui, kalau dia tidak cantik. Sangat berbeda dengan kakaknya yang pacar seorang pengarang cerpen itu.
Tapi Wina coba menghibur diri sendiri. Seperti kata orang-orang di tivi, kecantikan tidak hanya dipandang dari fisik semata. Ada kecantikan yang terpancar dari dalam hati, yang biasa disebut dengan inner beauty.
Dan menurut majalah yang pernah dia baca, tidak semua pria tertarik kepada wanita karena kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik karena inner beauty-nya.
Mungkin Teguh termasuk yang terakhir tadi. Yah, setelah hampir dua minggu melakukan pendekatan, akhirnya sore tadi Teguh menyatakan cinta padanya.
"Mungkin bagimu terlalu cepat kalau aku mengatakan sangat menyukaimu. Tapi dua minggu mengenalmu lebih dekat, aku sudah tahu kalau ternyata kau sangat istimewa. Hatimu sangat lembut. Bersamamu, aku merasa damai dan bahagia. Akan lebih menyenangkan kalau kita merajut hari depan bersama," kata Teguh seraya meremas jemari tangan Wina. "Maukah kau menjadi pacarku?" lanjutnya kemudian dengan menatap mata Wina amat mesra.
Coba bayangkan, perempuan mana yang tidak runtuh hatinya dipuja sedemikian rupa oleh cowok ganteng. Dan perempuan mana yang tidak pasrah saja ditatap sedemikian mesra oleh cowok sekelas bintang film.
Wina mengangguk malu-malu. Dan kursi di taman kota menjadi saksi betapa bahagianya mereka sore tadi. Di saat Teguh bermaksud mencium bibirnya, Wina mengelak halus. Hingga bibir Teguh menempel di pipinya yang gembul.

***

"Tinggalkan dia!"
"Apa maksudmu?"
"Dia hanya ingin memerasmu."
"Kamu tak berhak menuduh Teguh sehina itu," meninggi suara Wina.
Rere tertawa sinis, membuat rasa dongkol Wina menjadi berlipat.
"Lihat saja, semenjak pacaran sama kamu dia berubah drastis. Punya banyak baju baru, sepatu mahal, jam tangan selalu berganti-ganti dan sangat royal kepada teman-teman. Malah yang aku dengar, dia tidak lagi jualan rokok di lampu merah sepulang sekolah."
"Kamu menuduh aku yang membandari dia?"
"Siapa lagi?"
"Jangan sembarangan, Re! Aku tak setolol dugaanmu," ujar Wina, sebelum meninggalkan sahabatnya itu.
Rere mengikuti dari belakang.
"Win...."
Wina mengibas tangan.
"Kalau bukan kamu, dari mana dia mendapat uang sebanyak itu."
"Dia masih punya orangtua."
"Aku tahu keadaan keluarga mereka."
Wina menghentikan langkah. Garang ia menatap Rere. "Apa maumu sebenarnya?"
"Jangan berpikiran jelek. Aku hanya tidak ingin kamu diperalat."
"Teguh tulus mencintaiku."
"Mana mungkin."
"Aku memang jelek, Re! Tapi Teguh tidak seperti kamu, menilai seseorang hanya dari kulit saja. Satu hal yang perlu kamu tahu, sepeser pun Teguh tidak pernah meminta uang dariku."

***

Enam bulan yang lalu, Teguh pernah memasuki cafe mewah ini. Jadi ini kali kedua dia ke sini, untuk menemui wanita yang sama. Hanya bedanya, enam bulan yang lalu dia yang diundang kemari. Sedangkan hari ini, dia yang meminta wanita itu untuk datang kemari.
Mereka duduk berhadapan di meja yang sama seperti enam bulan yang lalu.
"Ada apa?"
"Saya mengundurkan diri, Tante!" kata Teguh pelan dengan kepala menunduk.
"Maksudmu?"
"Saya tidak mau lagi menerima uang dari Tante."
"Kenapa? Apa kurang banyak?"
Teguh mengangkat wajah dan menggeleng. Menatap Tante Mien dengan takut-takut.
"Jadi?"
"Saya... saya merasa berdosa kepada Wina, karena telah memanfaatkannya. Apalagi setelah enam bulan bersamanya, saya merasa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Wina begitu baik dan...."
"Masih ingat dengan perjanjian kita? Kamu Tante bayar dua juta perbulannya hanya untuk pura-pura jadi pacarnya, bukan untuk mencintainya. Karena Tante tahu, kamu tidak sebanding dengan anak Tante."
"Tapi...."
Ucapan Teguh terputus. Di depannya tiba-tiba Wina berdiri. Teguh terkejut. Begitu juga Tante Mien, mama Wina. Bagaimana Wina juga bisa berada di sini?
"Ternyata Rere benar, kamu hanya ingin memanfaatkanku," jeritnya sebelum berlari meninggalkan cafe itu.
Teguh bermaksud mengejar. Tapi Tante Mien menahan tangannya.
"Jangan coba-coba mendekati anak Tante!" desisnya tajam. Ia tinggalkan Teguh sendirian di tempat itu.

***

"Mama jahat!" pekik Wina sambil menelungkupkan wajah di balik bantal.
"Salah Mama memang. Tapi semua Mama lakukan semata-mata hanya ingin membahagianmu. Mama tahu kalau kamu begitu mencintainya. Berharap suatu hari ia menjadi milikmu. Lalu Mama selidiki latar belakangnya, setelah tahu semua, Mama yakin dia pasti mau disogok dengan uang."
Isak Wina terhenti. Kepalanya terangkat menatap Mama.
"Maafkan Mama karena tanpa sengaja pernah membaca buku harianmu."
Kembali Wina menelungkupkan wajahnya di bantal. Rasa marah, benci, sedih dan malu bergumul jadi satu di hatinya. ©


BIODATA PENULIS

T. Sandi Situmorang, lahir di Hutaraja, Sumatera Utara, 10 Desember 1978. Cerpen pertamanya dimuat di majalah Anita Cemerlang pada tahun 1994. Lebih dari seratus cerpen telah dipublikasikan pada sejumlah media, di antaranya: Anita Cemerlang, Aneka Yess!, Kawanku, Keren Beken, Ceria Remaja, Kompas Anak, Suara Pembaruan, Teen, dan lain-lain. Bukunya yang sudah diterbitkan berjudul Cewek Matre (Penerbit Andi, 2007). Sebuah cerpennya termuat dalam Antologi Cerpen Koran Medan (Dewan Kesenian Medan, 2006), dan sebuah cerpen remajanya juga termuat dalam buku Bahasa Indonesia untuk kelas dua SMP, Penerbit Erlangga.

wabah


Mula-mula tak ada seorang pun di rumah keluarga besar itu yang berterus terang. Masing-masing memendam pengalaman aneh yang dirasakannya dan curiga kepada yang lain. Masing-masing hanya bertanya dalam hati, “Bau apa ini?” Lalu keadaan itu meningkat menjadi bisik-bisik antar “kelompok” dalam keluarga besar itu. Kakek berbisik-bisik dengan nenek. “Kau mencium sesuatu, nek?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab nenek.
“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin anakmu.”
“Belum tentu; boleh jadi cucumu!”

“Atau salah seorang pembantu kita.”
Ayah berbisik-bisik dengan ibu. “Kau mencium sesuatu, Bu?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab ibu.
“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin ibumu.”
“Belum tentu; boleh jadi menantumu.”
“Atau salah seorang pembantu kita.”

Demikianlah para menantu pun berbisik-bisik dengan istri atau suami masing-masing. Anak-anak berbisik antarmereka. Para pembantu berbisik-bisik antarmereka. Kemudian keadaan berkembang menjadi bisik-bisik lintas “kelompok”. Kakek berbisik-bisik dengan ayah atau menantu laki-laki atau pembantu laki-laki. Nenek berbisik-bisik dengan ibu atau menantu perempuan atau pembantu perempuan. Para menantu berbisik-bisik dengan orang tua masing-masing. Ibu berbisik-bisik dengan anak perempuannya atau menantu perempuannya atau pembantu perempuan. Ayah berbisik-bisik dengan anak laki-lakinya atau menantu laki-lakinya atau pembantu laki-laki. Akhirnya semuanya berbisik-bisik dengan semuanya.

Bau aneh tak sedap yang mula-mula dikira hanya tercium oleh masing-masing itu semakin menjadi masalah, ketika bisik-bisik berkembang menjadi saling curiga antarmereka. Apalagi setiap hari selalu bertambah saja anggota keluarga yang terang-terangan menutup hidungnya apabila sedang berkumpul. Akhirnya setelah semuanya menutup hidung setiap kali berkumpul, mereka pun sadar bahwa ternyata semuanya mencium bau aneh tak sedap itu.

Mereka pun mengadakan pertemuan khusus untuk membicarakan masalah yang mengganggu ketenangan keluarga besar itu. Masing-masing tidak ada yang mau mengakui bahwa dirinya adalah sumber dari bau aneh tak sedap itu. Masing-masing menuduh yang lainlah sumber bau aneh tak sedap itu.

Untuk menghindari pertengkaran dan agar pembicaraan tidak mengalami deadlock, maka untuk sementara fokus pembicaraan dialihkan kepada menganalisa saja mengapa muncul bau aneh tak sedap itu.

Alhasil, didapat kesimpulan yang disepakati bersama bahwa bau itu timbul karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan. Oleh karena itu diputuskan agar semua anggota keluarga meningkatkan penjagaan kebersihan; baik kebersihan diri maupun lingkungan. Selain para pembantu, semua anggota keluarga diwajibkan untuk ikut menjaga kebersihan rumah dan halaman. Setiap hari, masing-masing mempunyai jadwal kerja bakti sendiri. Ada yang bertanggung jawab menjaga kebersihan kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan seterusnya. Sampah tidak boleh dibuang di sembarang tempat. Menumpuk atau merendam pakaian kotor dilarang keras.

Juga disepakati untuk membangun beberapa kamar mandi baru. Tujuannya agar tak ada seorang pun anggota keluarga yang tidak mandi dengan alasan malas. Siapa tahu bau itu muncul justru dari mereka yang malas mandi. Di samping itu, semua anggota keluarga diharuskan memakai parfum dan menyemprot kamar masing-masing dengan penyedap ruangan. Semua benda dan bahan makanan yang menimbulkan bau seperti trasi, ikan asin, jengkol, dan sebagainya dilarang dikonsumsi dan tidak boleh ada dalam rumah. Setiap jengkal tanah yang dapat ditanami, ditanami bunga-bunga yang berbau wangi seperti mawar, melati, kenanga, dan sebagainya.

Ketika kemudian segala upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil dan justru bau aneh tak sedap itu semakin menyengat, maka mereka menyepakati untuk beramai-ramai memeriksakan diri. Jangan-jangan ada seseorang atau bahkan beberapa orang di antara mereka yang mengidap sesuatu penyakit. Mereka percaya ada beberapa penyakit yang dapat menimbulkan bau seperti sakit gigi, sakit lambung, paru-paru, dan sebagainya. Pertama-tama mereka datang ke puskesmas dan satu per satu mereka diperiksa. Ternyata semua dokter puskesmas yang memeriksa mereka menyatakan bahwa mereka semua sehat. Tak ada seorang pun yang mengidap sesuatu penyakit. Tak puas dengan pemeriksaan di puskesmas, mereka pun mendatangi dokter-dokter spesialis; mulai dari spesialis THT, dokter gigi, hingga ahli penyakit dalam. Hasilnya sama saja. Semua dokter yang memeriksa tidak menemukan kelainan apa pun pada kesemuanya.

Mereka merasa gembira karena oleh semua dokter –mulai dari dokter puskesmas hingga dokter-dokter spesialis– di kota, mereka dinyatakan sehat. Setidak-tidaknya bau aneh dan busuk yang meruap di rumah mereka kemungkinan besar tidak berasal dari penyakit yang mereka idap. Namun ini tidak memecahkan masalah. Sebab bau aneh tak sedap itu semakin hari justru semakin menyesakkan dada. Mereka pun berembug kembali.

“Sebaiknya kita cari saja orang pintar;” usul kakek sambil menutup hidung, “siapa tahu bisa memecahkan masalah kita ini.”
“Paranormal, maksud kakek?” sahut salah seorang menantu sambil menutup hidung.

“Paranormal, kiai, dukun, atau apa sajalah istilahnya; pokoknya yang bisa melihat hal-hal yang gaib.”
“Ya, itu ide bagus,” kata ayah sambil menutup hidung mendukung ide kakek, “Jangan-jangan bau aneh tak sedap ini memang bersumber dari makhluk atau benda halus yang tidak kasat mata.”

“Memang layak kita coba,” timpal ibu sambil menutup hidung, “orang gede dan pejabat tinggi saja datang ke “orang pintar” untuk kepentingan pribadi, apalagi kita yang mempunyai masalah besar seperti ini.”

Ringkas kata akhirnya mereka beramai-ramai mendatangi seorang yang terkenal “pintar”. “Orang pintar” itu mempunyai banyak panggilan. Ada yang memanggilnya Eyang, Kiai, atau Ki saja. Mereka kira mudah. Ternyata pasien “orang pintar” itu jauh melebihi pasien dokter-dokter spesialis yang sudah mereka kunjungi. Mereka harus antre seminggu lamanya, baru bisa bertemu “orang pintar” itu. Begitu masuk ruang praktik sang Eyang atau sang Kiai atau sang Ki, mereka terkejut setengah mati. Tercium oleh mereka bau yang luar biasa busuk. Semakin dekat mereka dengan si “orang pintar” itu, semakin dahsyat bau busuk menghantam hidung-hidung mereka. Padahal mereka sudah menutupnya dengan semacam masker khusus. Beberapa di antara mereka sudah ada yang benar-benar pingsan. Mereka pun balik kanan. Mengurungkan niat mereka berkonsultasi dengan dukun yang ternyata lebih busuk baunya daripada mereka itu.

Keluar dari ruang praktik, mereka baru menyadari bahwa semua pasien yang menunggu giliran ternyata memakai masker. Juga ketika mereka keluar dari rumah sang dukun mereka baru ngeh bahwa semua orang yang mereka jumpai di jalan, ternyata memakai masker.

Mungkin karena beberapa hari ini seluruh perhatian mereka tersita oleh problem bau di rumah tangga mereka sendiri, mereka tidak sempat memperhatikan dunia di luar mereka. Maka ketika mereka sudah hampir putus asa dalam usaha mencari pemecahan problem tersebut, baru mereka kembali membaca koran, melihat TV, dan mendengarkan radio seperti kebiasaan mereka yang sudah-sudah. Dan mereka pun terguncang. Dari siaran TV yang mereka saksikan, koran-koran yang mereka baca, dan radio yang mereka dengarkan kemudian, mereka menjadi tahu bahwa bau aneh tak sedap yang semakin hari semakin menyengat itu ternyata sudah mewabah di negerinya.

Wabah bau yang tak jelas sumber asalnya itu menjadi pembicaraan nasional. Apalagi setelah korban berjatuhan setiap hari dan jumlahnya terus meningkat. Ulasan-ulasan cerdik pandai dari berbagai kalangan ditayangkan di semua saluran TV, diudarakan melalui radio-radio, dan memenuhi kolom-kolom koran serta majalah. Bau aneh tak sedap itu disoroti dari berbagai sudut oleh berbagai pakar berbagai disiplin. Para ahli kedokteran, ulama, aktivis LSM, pembela HAM, paranormal, budayawan, hingga politisi, menyampaikan pendapatnya dari sudut pandang masing-masing. Mereka semua –seperti halnya keluarga besar kita– mencurigai banyak pihak sebagai sumber bau aneh tak sedap itu. Tapi –seperti keluarga besar kita–tak ada seorang pun di antara mereka yang mencurigai dirinya sendiri.

Hingga cerita ini ditulis, misteri wabah bau aneh tak sedap itu belum terpecahkan. Tapi tampaknya sudah tidak merisaukan warga negeri –termasuk keluarga besar itu– lagi. Karena mereka semua sudah terbiasa dan menjadi kebal. Bahkan masker penutup hidung pun mereka tak memerlukannya lagi. Kehidupan mereka jalani secara wajar seperti biasa dengan rasa aman tanpa terganggu

Mimpi Terindah Sebelum Mati


Cerpen Maya Wulan

RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.

Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.

NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.

Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?

Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.

"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."

Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.

Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.

Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.

Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.

Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"

"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."

"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"

Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.

"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.

"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"

Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.

AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.

Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.

Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?

Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.

Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.

Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***