Tampilkan postingan dengan label Cinta Sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta Sejati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Desember 2010

elegi cinta


Bahagianya aku setelah lelah bermain bersama sahabat karib dan gadis cantik pujaanku. Kehangatan yang begitu mendalam masih saja tertanam di hatiku walau waktu telah lama berlalu. Aku masih ingat semua detil cerita ini dari awal hingga akhir. Karena cerita ini memang bukan cerita sembarangan yang biasanya hinggap di hari-hariku yang membosankan. Cerita ini adalah pengalaman luar biasa yang semakin mengukuhkan perasaanku kepada Sunny, gadis impianku.
Jam menunjukkan pukul duabelas siang di hari yang berawan. Aku keluar dari kelas Fenomena Gelombang dengan sangat lesu karena Pak Mertayasa berjanji akan memberikan kuis hari Kamis besok. Aku masih belum bisa mengerjakan soal-soalnya dan belum belajar apa-apa buat bekal nanti. Untungnya, kegelisahan itu belum menjadi derita yang tak berkesudahan bagiku. Paling tidak hingga tujuh hari ke depan.
Aku pun terus berlalu menjauhi ruang kuliah. Berusaha meninggalkan kenyataan bahwa diriku selalu dibicarakan dosen-dosen setiap Rapat Hari Jumat di jurusan. Bukan karena prestasi, melainkan karena kasus dan masalah akademik lainnya. Semuanya terasa sangat menyakitkan apabila teringat kembali di dalam benakku. Bahkan Dosen Wali yang seharusnya membimbingku kini berusaha menjaga jarak dari permasalahanku.
Langkah-langkahku diiringi pemandangan gedung-gedung kampus yang nampak jenuh. Semuanya berwarna putih tetapi tidak bergairah. Padahal gedung itu selalu dicat ulang setiap tahun. Mungkin karena cuaca yang sedang berawan atau karena pikiranku yang sedang kusut. Kemungkinan-kemungkinan yang ada sepertinya tak mampu memberi kepastian jawaban atas pertanyaanku sendiri.
"Win, jalan-jalan, yuk?!" Di gerbang kampus, Toki menegurku dengan nada spontan. Membuatku terkejut karena ia menerjang badanku dari belakang dengan kedua tangannya seperti pegulat yang tengah menelikung lawannya.
"Aduh... aku lagi pusing banget, Ki. Malas!"
"Yah, pusing dipiara... padahal di dekat SR ada pemandangan bagus."
"Pemandangan apa? Tak mungkin ada pemandangan yang lebih bagus dibandingkan hamparan kasur empuk yang bisa meluruskan tulang belakangku."
"Tuh, lihat itu. Siapa yang lagi jalan sendirian di parkiran SR?"
Saat melihat Sunny dari kejauhan, aku spontan terbangkit dari kehampaan. Wow! Ini baru namanya pemandangan!
"Hehehe... jadi tambah pusing atau bagaimana? Kalau memang niat, ajak saja jalan-jalan. Now or never, Man!"
Toki benar. Kepalaku menjadi semakin berat. Terasa pusing karena harus mengambil sikap tegas atas pemandangan bagus itu.
"Ya, sudah. Doakan ya, Ki. Kalau sukses, aku traktir satu minggu di Gelap Nyawang."
"Amin, Win." Toki antusias, bertepuk tangan.
Lalu, aku mendekati Sunny dengan perasaan baur. Kutegarkan diriku dalam langkah satria. Ia belum menyadari kehadiranku yang berjalan lambat dan meragu. Ia kelihatan lesu, dan melangkah dengan kepala tertunduk. Aku sedikit ragu untuk menegurnya. Tidak etis menegur seseorang yang mungkin sedang ingin sendiri atau tengah berpikiran kalut.
Tetapi Tuhan tidak akan mengubah nasib makhluk ciptaan-Nya. Tidak jika tidak diubah oleh dirinya sendiri. Kerja keras merupakan usaha nyata yang wajib dilakukan oleh setiap individu. Jika ingin jadi pacarnya, aku harus berusaha mendekatinya. Mudah-mudahan usahaku ini ada hasilnya. Semoga!

***

"Halo, Sun."
Ia melirikku sekilas namun tidak menjawab.
"Apa kabar?" tegurku lagi.
Ia masih saja terus berjalan lambat tanpa respon apapun terhadap teguranku.
"Sun, jalan-jalan, yuk?!"
Kali ini ada sedikit respon dari kedua kakinya yang berhenti melangkah seketika. Diikuti gelengan kepala, dan diakhiri pergerakan langkah yang kembali menjauhiku.
Ia menolak!
Wajar! Seorang gadis pasti akan berusaha menjaga jarak dari lawan jenisnya. Kita hidup di Indonesia yang katanya sih, berbudaya. Sepertinya aku harus bersikap lebih tegas lagi untuk meminta penjelasan dan alasan darinya. Sebagai penganut agama yang patriarkis, sudah seharusnya seorang pria memberi ketegasan pada kaum Hawa. Aku terus menerus berusaha menghalangi langkahnya dengan tujuan agar ia tidak lagi menjauhiku. Dan akhirnya berhasil!
Ia berhenti melangkah. Wajahnya terangkat tegak dan matanya beralih menatapku. "Sori, Win... aku tidak bisa. Banyak pekerjaan...."
"Ayolah! Sudah capek kuliah kok, malah pingin mengerjakan PR? Tidak takut gegar otak, Sun?" Aku memotong kata-katanya yang belum tuntas
Tiba-tiba ia mengerutkan keningnya. Mungkin karena merasa tersinggung. Aku jadi takut. Jangan jadi benci, jangan jadi benci! Aku berdoa seperti itu dalam hati.
Ia berjalan ke arahku dengan perlahan tanpa ekspresi dan melemparkan tasnya kepadaku. Dengan spontan, respon tanganku berusaha meraih tas tersebut. Sunny menatap mataku tajam seakan-akan ingin menantangku berduel. Ia berdiri tegak dengan lengan yang terlipat angkuh.
"Oke, kamu mau ajak aku ke mana?"
Mau ke mana, ya?! Si Toki belum bilang apa-apa tentang perjalanannya. Aku mencoba berpikir keras. Pandanganku menatap langit di angkasa, berusaha menjaring sebuah kalimat tujuan dengan mengonsentrasikan pikiranku. Ke mana, ya?! Sementara itu Sunny terlihat semakin tidak sabar. Mati aku!
"Ke tempat rahasia. Dimana kendaraan belum ditemukan dan prasasti Sunda menerangkan keadaan negerinya." Tiba-tiba saja Toki mengagetkanku dengan jawaban yang datang menghampiri kami secara mendadak seperti hantu. Menerangkan tentang perjalanan ke tempat rahasianya.
Aku menghela napas panjang. Beruntung bisa mendapatkan jawaban itu. Akhirnya kita tahu ke mana kita akan pergi. Ke tempat dimana raja-raja Sunda masih berjaya. Ya, ke tempat purba!
Ke tempat raja-raja? Dimana kendaraan dan teknologi mutakhir belum ada?
Aku dan Sunny saling berpandangan. Zaman raja-raja? Hei, ini Bandung masa kini! Apakah memang sudah ada mesin waktu?! Aku belum pernah lagi berkunjung ke Laboratorium Fisika semenjak lulus TPB, kira-kira setahun yang lalu.
"Serius, kamu?! Kayaknya keren, tuh!" Mendengar ocehan Toki, Sunny langsung tertarik. Ia jadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Senyuman yang muncul di wajahnya bisa menggambarkan gairah pada tubuhnya. Sementara aku masih saja bingung. Ke mana arah perjalanan kita? Di mana profesor hebat itu menyimpan reaktornya?
"Tenang saja, Win. Yang penting kalian berdua ikut dulu."
Walau ragu, kami terus berjalan kaki mengikuti langkah Toki ke pelosok Kota Bandung. Medan yang kami tempuh semakin lama semakin berbukit-bukit. Dengan seksama, aku mengamati pemandangan di sekelilingku. Secara perlahan, deretan rumah yang padat beralih menjadi perkampungan Sunda yang lapang. Keadaan itu berubah-ubah sedemikian rupa secara perlahan sehingga akhirnya hanya beberapa gubuk dilatari hijaunya tetumbuhan saja yang terlihat di sana-sini. Berhektar-hektar kebun hasil olah kedua tangan para petani tradisional terbentang luas di kejauhan. Pemandangan itu terasa nyaman di pikiranku. Aku melirik ke arah Sunny, dan mendapatkan kekaguman yang sama. Ia pasti belum pernah merasakan keindahan alam yang asri seperti ini sebelumnya.

***

Diam-diam aku terus memperhatikan pesona Sunny yang sangat menawan. Saat ekspedisi ini mulai terasa melelahkan, kehadirannya terus memaksa kakiku untuk tetap berjalan di dekatnya. Ya, Tuhan! Tak sedetik pun aku melihat ada cela di tubuhnya. Sungguh Mahabesar Gusti Tuhan yang mampu menciptakan kecantikan tiada batas dari bidadari-bidadari-Nya. Sampai akhirnya, Toki berkata bahwa kita telah sampai di tempat tujuan.
Saat kakiku berhenti melangkah, barulah aku merasa nyeri dan lelah. Sendi-sendiku terasa ngilu telah melewati kapasitas kerja normalnya. Aku belum sempat mengambil posisi duduk berselonjor atau berbaring ketika Toki kembali memanggil kami berdua untuk ikut dengannya. Ia memperlihatkan pemandangan yang aneh di balik rimbun tanaman liar yang telah menjalar setinggi pohon kelapa.
Akhirnya, ketika tabir wahana semakin jelas, aku melihat bukit yang berbentuk parabola sempurna dan tampak seperti wajan terbalik. Tanahnya terlihat gersang, hanya beberapa jenis rumput tertentu saja yang mampu tumbuh. Ditemani pepohonan tua dengan akar yang sangat panjang menjulur ke mata air yang terlihat jernih dan menyegarkan.
Di salah satu perbukitan terdapat sebuah kompleks gua. Dan di puncak salah satu bukit terdapat sebuah arca batu. Di sebelah baratnya terdapat batu bersusun tiga yang di atasnya terlihat sungai bawah tanah, mengalir menuju kompleks gua, membasahi lantai gua dan membentuk sebuah kolam dengan diameter yang besar. Dinding di beberapa sudut kolam berwarna seperti pelangi. Mungkin hal itu terjadi karena pembiasan dan penguraian berkas-berkas sinar matahari yang masuk ke dalamnya.
Kami semua terpukau, dan menyembulkan senyuman terpesona. Nuansa mahaindah tidak dapat kami gambarkan saat itu juga. Rasanya bahagia melihat pemandangan yang sangat indah yang menghampar di hadapan kami. Dan spontan tanpa teraba, kami menerjang hamparan bukit yang teduh. Kami langsung berlari dan mengguling-gulingkan badan ke bantaran padang rumput nan hijau. Kami semua berbahagia. Alangkah damainya berada di dalam nuansa teduh dan sejuk begini.
Toki meraih sebuah akar besar dan bergantungan seperti layaknya hewan primata. Sementara Sunny tertawa malu ketika melihat Toki meniru gerakan orangutan. Aku berada di sampingnya saat itu. Melihatnya bahagia, simpatiku membuncah. Gadis itu memang lentukan langit yang mahasempurna. Aku jatuh hati padanya melebihi segala. Dan menyimpan satu harapan bahwa ia akan menyambut cintaku suatu saat.
Giliran Sunny mengambil akar besar dari pohon yang lain. Ia melilitkan akar besar itu di pinggangnya seperti sebuah tali. Lalu mengayunkannya dengan dorongan yang sangat kuat. Ia mengikuti liuk gerakan, dan berayun sesuka hati. Kadang-kadang, posisinya terbalik dengan kepala berada di bawah dan rambutnya yang hampir menyentuh tanah. Dengan wajah yang tersenyum puas, ia sesekali memandangku. Sesekali melihat pemandangan indah dari balik ketinggian saat ayunan meninggi. Sampai akhirnya ayunan itu seperti lelah dan berhenti bergoyang.
Aku mengikuti aksi mereka berdua di akar pohon yang lain. Kami semua tenggelam dalam riak riang. Aneh. Kami tak merasakan beban hidup yang senantiasa membebat dalam kehidupan kami. Di sini, kami merasa bebas, bahagia, dan tak dirundung masalah pelik duniawi. Raga kami serasa begitu ringan. Tak ada prasangka dan gelisah terhadap hari esok. Tak ada lagi kejomplangan yang menjadi momok kami antara si Miskin dan si Kaya. Si Miskin yang belum makan, dan si Kaya yang berhamburan sandang-pangan. Tak ada pengangguran. Tak ada kekerasan. Semuanya terasa damai seperti di surga.
Setelah puas bermain, Toki mengajak kami ke puncak kompleks gua. Di atas sana terdapat sebongkah batu besar yang telah kami lihat sebelumnya dari kejauhan. Batu itu berbentuk tugu bersegi-segi dengan sebuah prasasti yang dipahat secara teratur. Ukurannya setinggi manusia dewasa yang melebar pada bagian dasar dan mengecil di bagian puncak. Segenap keingintahuan meruap, dan kami mencoba untuk menelaah arca yang berbentuk menhir dan tertulisi, sepertinya, dengan huruf Sunda kuno. Sunny, yang berdarah Jawa-Sunda, mengamati satu persatu huruf yang terukir di permukaannya. Ia mengikuti jenjang pendidikannya semenjak SD di Bogor. Berarti huruf kuno tersebut pernah menjadi makanan wajib baginya sekali seminggu.
"Semoga selamat bagi ia yang percaya, undang-undang dewata yang mengawali permulaan segala sumpah!" Kalimat pembuka itu begitu religius, dilafalkan oleh Sunny dengan pencerapan makna yang dalam. Gadis manis itu merendahkan posisi badannya untuk kembali mencerna kalimat yang baru "Seyogyanya alam... berguna untuk keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, dan kelimpahan segalanya bagi semua negeri mereka. Tetapi... orang-orang merasa bangga dan tersanjung sehingga semua perbuatannya jahat, dan tidak berbakti serta setia pada dewa. Luhur nilai para prabu, dihilangkan nafsu dan kemenangan perang. Orang-orang saling mengganggu dan merusak, membunuh agar mendapat harta serta pesta-pesta."
Sunny mengeja detil, agak terputus. Ada beberapa baris yang ia lewati. Mungkin karena pahatannya telah lamur akibat proses erosi alam. Tiga baris berikutnya, Sunny kembali melanjutkan bacaannya.
"Sementara dewa... yang membuat hidup, akan membuat pelaku perbuatan tersebut mati kena kutuk. Sehingga bumi rusak dan semua negeri mereka kembali jadi percaya. Dibuat pada tahun Saka 608. Hari pertama, paruh terang, bulan Waisaka." Sunny menyudahi ejaannya, dan memberi penjelasan tentang prasasti. "Pahatan ini diucapkan oleh para pemuda dan pemudi dari desa sekitarnya."
Sunny berhasil membaca sembilan dari duabelas baris kalimat yang ada. Walaupun tidak semuanya bisa dipahami dengan baik tetapi tujuan ditulisnya prasasti ini cukup jelas. Tulisan yang khas kuna itu sepertinya adalah prasasti sebelum Kerajaan Pajajaran. Mungkin, di tempat ini, kaum terpelajar saat itu sering berdiskusi tentang keadaan alam yang setiap harinya mengalami kehancuran akibat kebiadaban manusia. Rakyat meninggalkan ajaran mulia agamanya dan berusaha mencari materi sebanyak-banyaknya. Sementara raja-rajanya kian hari kian menambah selir serta menghambur-hamburkan uang pajak untuk pesta dan peperangan. Akhirnya kekacauan datang silih berganti. Mereka telah menghalalkan nafsu keinginan ketimbang nurani.
Aku terduduk setelah sekian lama menelaah arti kata-kata itu dan menatap kosong arca yang tak bernyawa. Toki masih berdiri tanpa ekspresi. Sementara Sunny merebahkan tubuhnya ke tanah sembari melihat angkasa dan tampak berpikir. Saat itu aku merasakan kehadiran para arwah yang ikut bersila dalam permenungan. Mereka semakin ramai berdatangan dan berkumpul untuk bertobat. Karena ilmu mereka tak sanggup melawan arus zaman yang lebih menggoda untuk dinikmati.
"Bijak benar orang zaman dahulu."
Toki memecah konsentrasi seperti ingin mengajak kami berdiskusi. Tetapi tak ada sepatah kata pun dibalas oleh yang lain. Sunny hanya tersenyum, sementara aku mengalihkan pandanganku ke padang rerumput. Begitu lama kami dalam permenungan sampai akhirnya waktu berlalu, dan matahari mengubah sudutnya ke bujur horison. Siang berganti dalam petang jingga sore.
Saatnya kami berpisah, dengan hati bergemuruh bahagia. Sebuah keajaiban rasa yang tak dapat kami pahami dan ungkapkan dengan kata-kata. Raga kami masih seringan kapas, dan tak ada bebat beban yang membelenggu. Kami menikmati nuansa damai dengan khidmat. Setelah itu, aku pun berpamitan pada 'sang ahli purbakala', Sunny.
"Sun! Besok-besok kita main-main lagi, ya?"
Sunny tersenyum ke arahku sebelum kembali berjalan ke arah yang berlawanan. Bagiku, saat itu waktu berlalu begitu cepat, dan dimensi enggan melambat. Agar aku dan Sunny dapat berlama-lama di dalam kedamaian itu. Semuanya harus berakhir. Anugerah indah dalam wujud perempuan bernama Sunny itu harus menirus lantas menghilang dari hadapanku. Seperti lambaian sayap kupu-kupu yang menjauh, terbang lalu menghilang di balik angkasa.

***

"Win! Mau makan tidak?!"
"Lho, kok...?! Toki? Mana Sunny?"
"Sunny? Sunny kepalamu!"
Astaga! Aku bermimpi!
ASTAGA! AKU BERMIMPI!
Sebenarnya hari ini aku punya jadwal untuk bertemu dengan Sunny, seorang mahasiswi yang aktif di berbagai kegiatan kampus, untuk membicarakan masalah kegiatan organisasi. Sekarang sudah pukul tujuh malam dan matahari telah hilang dari pandangan semua orang. Seharusnya kami bertemu dua jam yang lalu di pojok kampus, di markas organisasi itu.
Sesaat setelah kesadaranku mulai pulih, aku langsung beranjak menuju tempat yang telah disetujui. Aku berlari tanpa mempedulikan efek tubuhku yang belum siap dengan ancang-ancang ini. Tetapi aku tidak peduli. Meskipun pada akhirnya semua persendianku ngilu karenanya. Entah kenapa kakiku bisa melangkah begitu cepat meninggalkan Toki yang masih bingung melihat tingkahku yang tergesa-gesa.
Namun semuanya sudah terlambat. Tempat itu sudah begitu sepi dan gelap sementara semua orang sudah tak tampak lagi dalam rutinitas dan kegiatan. Sumpah! Aku begitu geram karena sikapku sendiri yang telah melalaikan janji. Setengah jam telah berlalu dan aku kembali lagi ke tempat Toki di pedalaman Cisitu dengan tubuh yang lesu. Melihat keadaanku, Toki mencoba untuk menghiburku dengan menawarkan sedikit saran.
"Makan dulu, Win! Biar segar."
Aku hanya terdiam, dan memandang kosong tanpa ekspresi Toki yang berdiri di bingkai pintu kamarnya. Kali ini Toki hanya bisa menatapku dengan iba tanpa mampu berkata apa-apa. Aku masih terus berharap agar semua yang kualami saat ini adalah mimpi, sehingga masih memiliki kesempatan untuk bertemu Sunny!
Namun....
Ah, mungkin nasi sudah menjadi bubur. Aku memang sedang tidak bermimpi.
Semua karena Sunny....
Dan aku akui, memang telah jatuh hati kepadanya. Sunny adalah jelita yang mampu meluluhkan jiwaku. Adalah kekerdilanku sendirilah selama ini yang membuat aku bagai pesakit, dan menjadi pecundang cinta yang hanya dapat meratapi nasib buruk cintanya. Aku kalah sebelum berperang. Aku terlalu pengecut. Padahal, cinta memerlukan perjuangan. Perjuangan yang selama ini aku lalaikan, serta hanya pasif mengenangnya tanpa aplikasi dan wujud kasih yang nyata.
Ya, Tuhan!
Aku mesti belajar untuk bersikap satria. Sebelum kekerdilan melamur segalanya.
Mumpung masih ada waktu....©



BIODATA PENULIS

Hamdi Widyawan Rotib, akrab disapa Widy, mahasiswa Teknik Fisika ITB angkatan 2004. Masih aktif di Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT), Institut Sosial Humaniora "Tiang Bendera" ITB, dan Unit Kesenian Sulawesi Selatan (UKSS). Jabatan terakhir (2007) adalah Koordinator Kajian 'Rencana Anggaran ITB 2008' di Tim MWA Wakil Mahasiswa KM ITB. Salah satu cerpennya masuk dalam sepuluh besar Pekan Baca Tulis (PBT) ITB 2008 barusan.

rindu seluas langit biru

"Hidup ini kuletakkan pada mezbahMu ya Tuhan.
Jadilah padaku seperti yang Kau ingini."
(Sepenggal Syair Lagu 'Seperti yang Kau Ingini', composed by Jonathan Prawira - singer by Nikita)



Natal senantiasa membawa kenangan....
Jari-jari lentik Ibu Theresia sedang melagukan Amazing Grace ketika Kania mengambil air suci dan menyentuhkan ke dahi, hati, dan kedua belah bahunya. 'Sangat Besar Anugerah-Mu' adalah salah satu lagu kebangsaannya. Sambil mengisi rongga dadanya penuh-penuh dengan udara sejahtera, ia mengambil tempat duduk di bawah jendela deretan bangku sebelah kiri. Diletakkannya tas dan Bible-nya, lalu perlahan berlutut.
Amazing Grace mencapai nada-nada akhir, Kania memejamkan mata. Ia serasa dibuai angin surga dan terbang ke negeri Antah Berantah.
Negeri Antah Berantah? Negeri dengan seribu macam bunga dan sejuta warna kembang? Dengan padang luas berwarna hijau dan bunga-bunga kecil berwarna putih menyembul di antara dedaunannya? Ah, Kania menghela napas diam-diam. Sebenarnya, tidak patut mengeluh pada saat-saat begini. Tapi, tanpa dikehendaki, tiba-tiba saja, sebilah tombak dengan ujung sangat tajam menghunjam ulu hatinya.
Perlahan sekali, dielusnya dadanya dan menunduk dengan mata terpejam pasrah. Semenit kemudian, ia membuka matanya dan meraba 'Madah Bhakti' di pangkuannya, membuka halaman doa selembar demi selembar sepenuh perasaan.
"Bapa di Surga yang Mahapengasih...," diejanya doa yang entah sudah berapa kali didengungkannya sepenuh hati. "Dalam kebijaksanaan-Mu yang tak terselami, Engkau telah menetapkan seorang pemuda menjadi jodohku. Ia akan mencari aku supaya menjadi teman hidupnya. Ialah yang akan menjadi pelindungku serta ayah bagi anak-anakku.
Ya, Bapa, Engkau tahu tempat tinggal pemuda itu. Jagalah ia dalam rahmat-Mu, supaya ia selalu hidup suci dan tahu mengendalikan diri.
Semoga ia selalu berlaku sopan, ramah dan satria. Jauhkanlah ia dari segala bahaya dan teguhkanlah ia dalam kebaikan. Jagalah dan lindungilah aku juga, supaya ia menemukan aku dalam keadaan yang pantas baginya. Garaplah 'ladang hati' kami, dan taburilah dengan benih-benih sabda-Mu, supaya selama masa penantian ini hati kami disucikan dan kehendak kami dikokohkan.
Ya, Bapa, kami berharap, kalau tiba saatnya nanti, kami berdua bersama-sama membangun rumah tangga yang memancarkan kasih sayang kebapaan-Mu kepada semua orang di sekitar kami. Amin."
Amin, Kania berbisik panjang lagi dan menegakkan kepalanya. Di tengah-tengah pilar di depan altar, Bunda Maria dengan gaun biru langitnya tersenyum lembut. Kania merasakan betul, ada angin damai bertiup mengembusi serambi jantungnya. Saat-saat begini, selalu, ia merasa yakin Bapa Surgawi dan Bunda Terkasih itu mendengarkan dengung doanya dan pasti akan mengabulkan pinta hatinya.
Dengan gerakan tanpa menarik perhatian orang di sekitarnya, Kania memalingkan wajahnya dan memandang ke sebelah kanannya. Beberapa orang tampak berseliweran mencari tempat duduk. Para ibu-ibu biasanya lebih senang duduk di barisan belakang. Kania tersenyum samar dan secara refleks menoleh ke bangku belakang.
Setelah menoleh, kembali rasa nyeri itu menyerang jantungnya. Ia sudah tahu pasti. Daniel tidak akan berada di antara jemaat di belakang sana. Tapi, entahlah, dalam ilusinya yang menembus langit lapis tujuh, ia selalu berharap Daniel tiba-tiba muncul dengan mata coklatnya. Atau ilusi yang lebih gila lagi, ia membayangkan Daniel akan berjalan dan duduk di sebelahnya, setelah terlebih dahulu memamerkan senyum menawannya.
Uhhgg, Kania menunduk dan membatin sedih. Di manakah Daniel saat-saat ini? Sedang berbuat apa cowok keren dan gagah itu sekarang? Adakah senar-senar di hatinya mendatangkan irama yang sama dengan yang mengalun di hatinya? Oh, Kania menggigit bibir bawahnya dan menunduk lebih dalam lagi. Jika kasih dan kerinduan ini adalah karunia dari Atas, adakah Dia menghadirkan kasih dan rindu yang serupa di bilik hati lainnya?
Lonceng berdentang nyaring, Kania mencoba mengusir bayangan yang menari-nari di pupil matanya dengan memperbaiki duduknya. Hari ini kotbah akan dibawakan oleh Pastor Simon Xaverius, yang selalu menarik serta kocak. Kania tidak mau pulang dengan hati hampa nantinya. Dicobanya berpikir dan meyakinkan diri, bahwa Sang Gembala Baik itu mendengarkan seruan domba-Nya.

***

Angin di penghujung musim kemarau bertiup kering. Lina menaikkan rambutnya dan mengipas kuduknya dengan majalah yang disambarnya dari atas meja. Diliriknya Kania yang sedang mengembara ke negeri di mana bidadari tinggal. Heh, Lina mengangkat bahunya. Persoalannya sebenarnya mudah dan sepele sekali, pikirnya gemas. Namun masalahnya, yang mengalaminya adalah Kania. Dan, anak itu memilih terbelenggu daripada melepaskan diri darinya.
"Yesus memang bilang, kalau kita meminta, kita akan mendapat," Lina menepuk lengan Kania untuk membawanya kembali ke alam manusia.
"Tapi...."
"Tapi Ia juga bilang...." Lina cepat-cepat memotong sambil menatap sahabatnya setengah iba setengah marah. "Ia juga bilang kita harus mencari dan mengetuk pintu. Begitu kan, Kania?"
Kania menatap dengan matanya yang bertelaga.
"Tuhan kan, maha segala maha, Lin," Kania membantah dengan suara patah. "Dia akan mengabulkan apa saja yang kita doakan, bukan?"
"Yak!" Lina menegaskan. "Tapi di samping berdoa, kita dituntut untuk berusaha juga, kan? Ora et labora. Lalu Ia akan menyertai usaha kita. Begitu logikanya yang sehat, kan?"
"Yaahh...." Kania mendesah dan menunduk. Disimpannya seulas senyum samar-samar di balik bibirnya. "Saya tidak berani berusaha, Lin," katanya dengan suara setengah putus asa. "Saya suka membayangkan, Daniel akan menolak saya. Atau menertawakan saya. Atau menceritakan ke teman-teman bahwa ada seorang gadis yang tak tahu diri yang mati-matian mencintai dia. Dan... ia tidak pernah mencintai gadis tolol itu."
"My, God!" Lina memekik dan mengelus dadanya. "Sintingkah ketua OSIS yang kau cintai setengah mati setengah hidup itu? Atau otaknya sedikit miring? Atau ia abnormal, sehingga menganggap jatuh cinta itu sesuatu yang aneh, yang perlu ditertawakan dan disebarkan seantero jagat lewat Seputar Indonesia?"
Kania hampir tertawa mendengar kalimat-kalimat Lina yang bagai air bah itu. Ia mengatupkan bibirnya, menyembunyikan kegelian hatinya. Sejenak kemudian ia berpikir, mungkin Lina benar. Mungkin ia tertawa terbawa oleh perasaan takutnya sendiri.
Jika ia membungkus perasaan cintanya rapat-rapat dengan selimut ketidak-acuhan dan kebisuan, bagaimana mungkin Daniel akan menemukan kunci menuju pintu hatinya? Berharap angin yang bertiup berbisik ke telinga Daniel terlebih dahulu mendekatinya?
Ah, ia memang berharap, Daniel akan memulai mengambil langkah pertama. Rasanya ia sudah capek menunggu keajaiban itu datang. Rasanya ia sudah lelah menerka-nerka, ada apa sebenarnya di balik mata teduh berwarna coklat milik Daniel yang menghunjam ke sanubarinya ketika mereka bertabrakan pandang. Apakah riak-riak pengharapan yang sama bersenandung di keping hatinya?
"Hei! Sudah ke langit mana khayalmu singgah?"
Perlahan dengan enggan, Kania menoleh, dan memandang sepasang mata bulat di depannya dengan pandangan tak bercahaya.
"Kalau kamu jadi saya, Lin, apa yang akan kamu perbuat?" tanyanya dengan suara lemah.
"Saya?!" Lina melotot dan menunjuk dadanya dengan gagah. Didongakkannya dagunya. "Tentu saja saya akan melihat peluang-peluang saya, apa mungkin dia juga menyimpan feeling yang sama dengan saya. Tidak ada hal yang mustahil, kan? Siapa tahu, Daniel juga diam-diam mempunyai perasaan yang sama. Dan ia juga tipe pemuda yang introvert, sehingga menyimpan perasaan itu rapat-rapat di hatinya."
"Aahh," Kania tertawa sumbang. "Hidup bukan dongeng, Lin. Hidup juga bukan cerpen-cerpen manis seperti yang sering kita baca. Seorang cowok naksir seorang cewek, seorang gadis jatuh cinta pada seorang pemuda, dan kemudian happy."
"Lho, siapa tahu, kan?" Lina melotot Lagi. "Seringkali yang membatasi kemungkinan-kemungkinan besar dalam hidup ini adalah diri kita sendiri. Kamu selalu mengatakan 'tidak mungkin-tidak mungkin', sehingga kamu tidak melihat peluang-peluang lagi. Padahal, mungkin selama ini Daniel juga mau mendekati kamu, tapi dia mengurungkan niatnya untuk mendekati kamu, karena kamu selalu berubah diam dan gagu kala ada dia di sekitar kamu. Mungkin malah ia berpikir kamu membencinya, atau tidak suka berteman dengannya. Iya, kan?"
Kania menunduk jengah. Apa yang dikatakan Lina memang benar adanya. Ia selalu mendadak jadi orang yang aneh kalau ada Daniel. Selalu sibuk mencatat ini dan itu. Baru setelah bayangan Daniel berlalu, didapatinya bahwa kertas di atas mejanya hanya berupa coretan-coretan tanpa bentuk atau inisial cowok terkasih itu.
Melihat Kania terdiam, Lina mendapat angin.
"Kalau senyummu selalu mendadak tenggelam di dasar bumi setiap bayangan Daniel muncul, lama-lama ia bisa mengira kamu muak atau membenci dia. Laki-laki juga punya prasangka dan perasaan, kan? Apalagi orang yang sedang jatuh cinta selalu perasa."
"Kamu tahu sendiri saya tidak sebel atau membenci dia," bela Kania sedikit sengit. "Kamu toh tahu, saya selalu mendadak salah tingkah kalau ada dia. Sebelum dia datang, biasanya saya sudah menyiapkan senyum atau sebaris kalimat. Tapi begitu ia datang, saya selalu lupa akan senyum yang sudah saya siapkan maupun kalimat yang sudah saya rangkai. Seharusnya, sebagai cowok ia bisa menerka-nerka ada apa di balik sikap saya. Seharusnya ia mengerti, hanya orang yang jatuh cinta yang bisa bertingkah aneh begitu."
"Kania...." Lina mengeluh setengah putus asa. "Kalau kamu mengharap Daniel menjelma menjadi malaikat yang bisa menembus dan melihat seluruh isi jantungmu, itu mimpi paling konyol sepanjang segala abad."
Kania menatap Lina, sambil mencernakan kata-katanya. Lalu, perlahan, ia tersenyum samar, kemudian menghela napas diam-diam. Terkadang, ia juga sangat membenci dirinya sendiri. Kalau saja ia berani memastikan arti pandang mata dan senyum teduh Daniel. Kalau saja ia berani mengajuk hati pemuda gagah dengan bahu kokoh itu. Kalau saja ia bertekad merealisir impiannya untuk melangkah bergandeng tangan dengan cowok gantengnya itu. Kalau saja ia berani memperjuangkan hasrat hatinya. Kalau saja....
Tapi, ia hanya membisu. Hanya pada Bible dengan ayat penghibur, pada hening doa tengah malam, ia bercerita tentang mimpi birunya.

***

Pernah, Lina merasa bosan dengan cerita yang itu-itu saja dari Kania. Tentang mimpi birunya. Tentang hasrat jingganya. Tentang angannya merajut masa depan bersama Daniel. Tentang kegilaannya membeli baju dan segala macam dengan warna biru dan hijau, warna favorit Daniel. Tentang puisi-puisi cintanya yang pada bagian bawah semuanya bertuliskan pour: Daniel. Segalanya tentang Daniel Putra Kurniawan.
Lina mulai sebel, dan bertekad untuk mendatangi Daniel untuk menceritakan segalanya. Ia selalu berprinsip, lebih baik sakit sesaat daripada terbelenggu dalam waktu tak bertepi. Tapi apa reaksi Kania? Lina mendengus jengkel mengingatnya.
Gadis tolol itu memohon, sambil menangis, agar Lina tidak melaksanakan ide yang menurutnya sinting itu. Tersendak-sendat, ia membeberkan semua pesimismenya. Bagaimana kalau Daniel tidak mencintai saya? Bagaimana kalau Daniel tidak menyukai saya? Bagaimana kalau saya hanya salah mengartikan sikap baiknya, pandang mata teduh dan senyum manisnya? Bagaimana kalau sesudah Daniel tahu saya mencintainya diam-diam, ia malah membenci saya? Bagaimana...? Bagaimana...? Dan sepuluh bagaimana yang semuanya berbau skeptis. Ujung-ujungnya, ketika Lina membulatkan tekad untuk mengupas semua pertanyaan bagaimana, yang menggalaukan hati itu langsung dari Daniel, Kania mengancam akan memutuskan tali persahabatan mereka.
Mengapa di dunia ini ada orang yang begitu tolol? pikir Lina tidak mengerti. Menciptakan beribu tanda tanya tanpa mau mencari jawab yang setepatnya. Untuk apa melangkah dalam kegelapan kalau ada pelita yang menjadi penerang jalan? Apa enaknya hidup dalam lingkaran tanda tanya?
Angin musim kemarau merontokkan daun-daun kering dari pohon jambu air, jatuh di atas tanah berkumpul dengan bunga-bunganya yang berwarna putih. Lina menoleh dan mendapati Kania tengah melamun lagi.
Lina mengangkat bahunya. Mungkin Kania sedang mengangankan tiba-tiba Daniel datang dan menjemputnya pulang. Atau dering telepon dari Daniel yang bertanya dengan cemas, 'Lina, apa Kania ada di rumahmu? Ada? Oh, syukurlah. Bilang sama Kania lima menit lagi saya ke sana menjemputnya'. Atau lebih gila dan lebih sinting lagi, mungkin Kania membayangkan, kalau ia sampai di rumah nanti, Daniel menunggunya dengan pijar-pijar kerinduan. Lina menghela napas dan merasakan iba yang amat sangat. Gadis rapuh yang tolol dan bodoh, pikirnya sengit.
"Janganlah terus hidup dalam dunia angan-angan, Kania Sayang," ditepuknya pipi Kania untuk membangunkan gadis itu dari mimpi siangnya. "Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak mencoba sema sekali. Daripada terkatung-katung seperti sekarang ini, kan? Taruhlah Daniel hanya menganggap kamu kawan biasa, tidak mempunyai arti apa-apa di balik pandang matanya yang teduh dan sikapnya yang terkadang aneh itu. Taruhlah kalau Daniel menolak kamu mentah-mentah, itu reaksi yang paling buruk dan tak beradab. Tapi, setidaknya, kamu sudah tahu cinta kamu sia-sia dan tidak perlu diperpanjang umurnya, kan? Bayangkan bagaimana kalau sebaliknya? Kalau ternyata Daniel punya perasaan yang sama, tapi juga diam-diam sepert kamu? Tidak semua cowok bisa mengungkapkan perasaannya secara lugas, Kania. Cerita yang amat tragis kalau itu benar adanya, kan? Bahwa dua orang yang saling mencintai harus patah hati hanya karena salah paham dan tidak saling terbuka."
Kania tertawa tanpa suara. Dikerjapkannya kelopak matanya dan menatap angkasa. Betulkah hidup bisa sama seperti cerita-cerita romantis dalam novel-novel dan cerpen-cerpen? Tentang dua buah hati yang sama-sama mengandung magnet, tapi terbungkus oleh tirai malu dan gengsi, lalu akhirnya berakhir bahagia sampai selama-lamanya?
"Dunia tidak akan kiamat kalaupun ia menolak cintamu, Kania," Lina mengelus pipi tirus sahabatnya. Ia tertawa untuk membangkitkan keberanian Kania. "Setidaknya, masih ada Markus yang menunggumu sungguh-sungguh. Kamu mau mencoba kan, Kania? Janji?"

***

Kania sedang menyibukkan diri membaca hasil rapat OSIS bulan lalu berupa laporan mengenai pertandingan-pertandingan yang diusulkan dalam Class Meeting ketika tiba-tiba saja ia merasa dadanya berdebar kencang. Cukup beranikah ia melaksanakan rencananya hari ini? Kemarin malam, dalam kotbah tentang 'Nabi Nuh', Pastor Suwandoko menekankan, bahwa dalam iman segala pengharapan itu penggenapannya sempurna. Sepulang dari gereja kemarin, Kania sudah berdoa kalang kabut, agar Yesus menyertai ia hari ini untuk memberikan seulas senyum pada Daniel.
Senin minggu pertama, Daniel biasanya datang satu jam sebelum bel berbunyi. OSIS mengadakan rapat, dan sebagai Ketua yang baik, ia harus menanyakan pada Sekretaris OSIS, apakah materi rapat sudah disiapkan dengan baik. Kania sudah mempersiapkannya dengan amat sangat baiknya. Dan kali ini, Kania telah datang lima menit lebih awal dari satu jam sebelum bel. Setidaknya, Kania berencana, ia akan memberikan salam selamat siang dengan seulas senyum kepada Daniel kalau cowok itu masuk ke aula nanti. Mencoba bersikap lincah dan manis. Seperti dulu-dulu, ketika perasaan aneh itu belum singgah dan menetap di hatinya.
Kania mencoba menaikkan sudut bibirnya, lalu menatap langit luar jendela. Putih bersih dan biru jenih. Di sana, di atas segumpal mega-mega, ada bayang seorang pemuda gagah. Dengan bahunya yang lebar kokoh. Dengan badannya yang tinggi tegap. Dengan rambutnya yang setengah ikal dan matanya yang berwarna coklat. Dengan sepasang alis hitam. Yang pandai main basket, jago aerobik, juara karate tingkat kotamadya, dan selalu mendapat rangking setiap semesteran. Ah, Daniel memang cowok yang sangat menawan.
Salahkah kalau Kania menyimpan kagum itu setengah tahun terakhir ini? Salahkah kalau ia ingin bersaing dengan begitu banyak gadis yang ingin memiliki kunci hati Daniel?
Terdengar suara sepatu kets di koridor depan kelas samping aula. Kania merasa jantungnya berdetak kencang. Ia menegakkan punggungnya, memperbaiki duduknya, dan mencoba mengendurkan urat ketegangan di lehernya. Terdengar gerendel pintu di luar, lalu harum minyak rambut menyentuh ujung hidung.
"Halo, Kania!" Terdengar suara Daniel menyapa riang dan ramah. "Kamu cepat betul datangnya hari ini?"
Kami tersenum resah.
"Siang, Daniel," ujarnya perlahan sambil memandang wajah cowok gagah yang sedang duduk di kursi di seberangnya. Lalu mendadak saja, Kania merasakan jantungnya ditikam belati tajam. Mendadak ia merasa sangat gelisah. Ia memperbaiki lagi duduknya yang sudah rapi. Bibirnya terbuka, hendak mengalirkan serangkaian kata-kata yang sudah dihafalkannya tadi malam. Ditatapnya wajah dengan rahang bagus itu sekilas, dan pada saat yang bersamaan Daniel mengangkat mukanya dan memandang Kania dengan sepasang mata coklatnya yang teduh.
"Ada apa, Kania?" Suaranya lembut bertanya.
"Oh, ti-ti...," Kania menelan ludahnya dengan susah payah. "Ti-tidak ada apa-apa Daniel," dustanya gugup sambil menunduk. Sekilas, ia merasa telah menangkap sinyal kecewa di mata Daniel. Tapi, entahlah, ia tidak berani memastikannya. Ia serasa melayang-layang dengan mimpi-mimpi berhamburan.

***

EPILOG

"Bapa Pengasih...," batinnya hampir menangis sambil menatap map di atas meja. "Bisikkanlah ke telinganya, bahwa saya mencintainya. Dengan amat sangat."
Suasana hening. Kania mengerjapkan matanya yang terasa hangat. Nyanyian rindu berkumandang di relung hatinya, tanpa ia ketahui, kapan suaranya akan menembus ke udara. ©


BIODATA PENULIS

Dharmawati Tst., lahir di Jakarta pada tahun 1969. Bersama Donatus A. Nugroho - penulis asal Solo, Kurnia Effendi - penulis asal Bandung, Aan Almaidah Anwar - penulis asal Bogor, ia merupakan salah satu cerpenis paling gemilang di eranya karena kerap memenangi LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang, yang kala itu menjadi barometer kehandalan seorang pengarang remaja. Ia juga termasuk salah satu pengarang yang sering menelurkan cerpen berbobot dan 'sastra'.



kekasih bayangan

Terhitung sudah tiga hari ini Ria menganggap obrolan Winta dan Diana jadi amat membosankan. Tampaknya mereka sudah tidak peduli lagi apakah Ria menyukai obrolan itu atau tidak karena tiap kali obrolan mereka tampaknya makin seru.
"Benar lho, Na. Dion kemarin mulai sering curi-curi pandang ke arah gue. Bukannya ge-er. Dua kali gue nangkep basah," kata Winta sambil menelan cendol hijau kesukaannya.
"Itu berarti udah deket lagi ama jadian. Kayak waktu gue dengan Restu tempo hari. Nggak lama setelah dia suka curi pandang, mulai deh dia ngajak nonton. Mana film India lagi. Tahu kan gue paling suka film India. Udah karcisnya murah, filmnya panjang," timpal Diana. Tangannya membetulkan letak kacamatanya.
"Ah, itu sih otak elo aja yang nggak mau rugi!" sahut Winta. Ia kemudian melirik Ria yang cuma mengaduk-aduk siomai di depannya. "Elo sendiri gimana? Gacoan elo udah dapat?"
Ria cuma tersenyum kecil matanya menerawang lalu mengedip-ngedip membuat Diana dan Winta penasaran. "Pokoknya seru dan mengesankan," mulut Ria terbuka. Ia sendiri tidak tahu bagaimana tiba-tiba bisa mengatakan kalimat itu.
"Seru gimana?" tanya Winta yang tak menyangka Ria akan memberi respon lantaran sejak tadi cuma bengong.
Mulut Ria tak segera terbuka. Dipandanginya Winta dan Diana bergantian. "Begini.... Mmm, kemarin gue kan ke toko buku beli diari buat kado ultah Nenek gue. Nah, pas pulangnya di bis ada cowok cakep. Ya, akhirnya kita kenalan deh."
"Pasti elo duluan yang ngajak kenalan," tuding Diana.
"Yee, kok nuduh. Yang jelas mulanya karena waktu itu gue mau bayar bis, tapi nggak punya receh. Uang gue limapuluh ribuan semua. Untung cowok di sebelah gue itu ngerti dan mau bayarin gue."
"Namanya siapa?" tanya Winta dan Diana nyaris berbarengan.
"Namanya.... Mmm Roy. Ya, Roy. Perhatikan, dari namanya aja dia bakalan cocok jadi cowok gue. Ria dan Roy. Cocok, kan?" Mata Ria berbinar. Dia memuji dirinya sendiri dalam hati karena kali ini bisa membuat dua sahabatnya takjub. Soal apakah dusta itu akan terbongkar, itu urusan nanti.
Bel istirahat usai berbunyi. Tiga sahabat itu bergegas menuju kelas setelah membayar apa yang mereka makan dan minum selama di kantin. Di sela-sela waktu belajar, pikiran Ria menerawang memikirkan rencana obrolan soal cowok gacoannya. Ya, tidaknya dia tak perlu duduk menjadi pendengar setia saat di antara sahabatnya.
Pulang sekolah Ria tidak bisa pulang bareng dengan dua sahabatnya. Diana pulang dengan cowok barunya, Restu. Meski Restu menawarinya untuk satu mobil, tapi Ria menolak. Apa enaknya jadi kambing congek di antara sepasang kekasih. Sementara itu Winta masih harus rapat OSIS. Tentu aja cewek itu semangat karena di sanalah dia bisa saling curi-curi pandang dengan Dion.
Ria melangkah malas ke halte terdekat. Jam pulang sekolah begini butuh perjuangan untuk mendapatkan tempat duduk fi atas bis. Makanya Ria sengaja memilih bis patas AC, meski mahal asal sampai. Begitu bis yang ditunggunya datang, Ria segera naik dan mencari tempat duduk di bagian belakang, biar gampang turun.
"Hei, ketemu lagi kita! Baru pulang?"
Ria terkejut mendengar sapaan di sebelahnya karena ia baru saja duduk. Seorang cowok cakep menatapnya sambil tersenyum. Ria mencoba mengingat-ingat sosok di sebelahnya. Siapa?
"Lupa, ya? kemarin sore kita kan baru kenalan di bis. Namamu Ria, dan aku Roy. Kita kenalan gara-gara kamu nggak punya uang receh untuk bayar bis kemarin. Ingat?"
Ria menggeser duduknya sedikit menjauh. Roy? Kemarin? Ah, mana mungkin! Aku kan cuma berbohong mengatakan hal itu kepada Winta dan Diana pagi tadi. Lalu siapa orang ini sebenarnya? Ria kelimpungan.
"Terserah kamu kalo memang nggak mau kenal lagi denganku. Cuma kamu perlu tahu, aku nggak bisa tidur semalaman. Habis kamu nggak ngasih tahu nomor HP. Untung Tuhan kasihan sama aku. Nggak nyangka bisa ketemu kamu pulang sekolah begini," Roy terus nyerocos.
Ria masih berpikir. Aku nggak bisa diam terus, putusnya dalam hati. "Maaf, kalau boleh tahu, kamu sendiri masih sekolah, kuliah atau...."
"Menurut kamu apa? Yang jelas aku sudah tamat SMA. Apa kamu keberatan kalau punya pacar bukan anak SMA?"
"Pacar? Kok ngelantur, sih?"
"Lho, kamu kan kemarin bilang belum punya pacar. Apa aku kurang ganteng untuk ukuranmu?"
Ria melirik wajah Roy. Matanya begitu mirip Ethan Hawke. Sama persis dengan cowok yang diidolakan Ria selama ini. Pantas saja Ria tadi merasa pernah melihat Roy. Setidaknya, Ria memang pernah membayangkan punya pacar yang bertampang macam itu.
"Ria dan Roy. Aku rasa itu nama pasangan yang cocok, kan?" kata Roy lagi.
Ria mengerutkan dahinya. Kalimat itu sempat diungkapkannya kepada Diana dan Winta tadi pagi. Ia menghela napas sebentar. Semua ini tidak mungkin dipikirkan. Jalani aja... jalani aja, bisiknya dalam hati.
"Rumahmu masih jauh?" Roy menyentak Ria.
"Masih dua halte lagi," jawab Ria setelah melihat keluar jendela. "Nanti ganti naik mikrolet. Sampailah."
"Boleh aku tahu rumah kamu?"
Ria buru-buru menggeleng. "Kapan-kapan aja. Jangan sekarang," lanjutnya. Dia ngeri membayangkan tampang Neneknya kalau sampai melihat ada cowok yang mengantarnya. Masih menempel di benaknya ketika Shasa, kakaknya, dulu waktu SMA pernah diceramahi habis-habisan gara-gara membawa teman cowok ke rumah. Itulah yang sampai kini membuat Ria ragu untuk pacaran.

***

Sebenarnya Ria ingin mengatakan kejadian menakjubkan yang dialaminya saat ngobrol di kantin seperti biasanya. Tapi niat itu diurungkannya karena yakin dua sahabatnya malah tidak akan pernah mempercayainya lagi nanti. Lagipula, Ria sudah bisa menikmati obrolan soal cowok.
Winta berceloteh tentang Dion yang mulai berani mengantarnya pulang kemarin. Diana memaparkan sifat romantis Restu saat mengajaknya nonton film India terbaru yang dibintangi Shahrukh Khan dan Preity Zinta. Ria tentu aja ngak mau kalah, menceritakan hal yang dialaminya kemarin ditambah sedikit bumbu biar seru.
"Jadi dia anak orang kaya? Ah, masak orang kaya bisa dua kali ketemu lagi naik bis," timpal Winta usai Ria berceloteh.
"Mobilnya lagi ngadat. Nanti dia rencananya mau ngejemput sepulang sekolah. Sekalian ngajak makan-makan," bohong Ria kian kumat.
"Kalo begitu, gue nggak langsung pulang ah nanti. Penasaran pengen lihat gacoan elo itu," kata Winta.
"Gue juga. Kenalin ya!"
Ria gelagapan menanggapinya. Sedetik kemudian terdengar kalimat melengking di belakangnya. Mieke dengan gaya yang centil mendekati tiga sahabat itu sambil membagi-bagi undangan berbentuk dadu.
"Jangan lupa datang hari Sabtu nanti. Syaratnya cuma bawa pasangan. Yang nggak punya pacar, boleh bawa adik atau kakak, asal jangan bawa kambing!" kata Mieke sebelum meninggalkan meja di sudut kantin itu.
Mereka bertiga buru-buru membaca undangan itu. Diana langsung tersenyum karena ia yakin kalo Restu akan mau diajaknya ke pesta, sementara Winta hanya komat-kamit berharap agar Dion nanti akan menawarkan diri menjadi pasangannya, sedangkan Ria masih bingung.
"Elo bakal ngajak si Roy, kan?" tanya Diana. Benaknya sudah membayangkan betapa serunya acara kencan bersama itu nanti.
"Entahlah. Aku nggak tahu dia suka pesta atau nggak."
"Ya, tinggal kamu tanya aja nanti. Uh, rasanya gue nggak sabar menunggu bel pulang. Gimana sih tampang Roy-mu itu!" kata Winta sambil menyuapkan siomai ke mulutnya.
Ria cuma meringis. Ia malah berharap waktu berjalan lambat agar bisa berpikir alasan apa yang dilontarkannya nanti karena sebenarnya Roy memang tidak akan pernah datang. Namun waktu malah berjalan semakin cepat. Dan sewaktu bel pulang berbunyi dada Ria berdetak kian keras. Apalagi Winta dan Diana terus menguntitnya.
Sepuluh menit pertama Diana dan Winta masih berharap cemas mendampingi Ria di pintu gerbang, sepuluh menit berikutnya perut mereka keroncongan dan mulai memaki Ria.
"Coba elo telepon dong ke HP-nya."
"Udah barusan. Tapi nggak aktif."
Sepuluh menit kemudian Winta dan Diana meninggalkan Ria karena sudah tak tahan ingin pulang. Cuma Ria yang tinggal karena dia harus pura-pura tetap menunggu Roy. Dan tiga menit kemudian, sebuah Corona putih tepat di depan Ria.
"Roy!" Ria memekik kaget ketika melihat sosok yang keluar dari dalam mobil. Dia menengok kanan-kiri, siapa tahu Winta dan Diana masih ada. Dengan demikian dua sahabatnya bisa segera tahu bahwa ia kini benar-benar sudah punya gacoan.
"Kupikir aku terlambat menjemputmu," kata Roy sambil mendekati Ria.
"Menjemputku?"
"Kamu kemarin kan memperbolehkan aku jemput kamu sekarang. Dan jangan bilang, kamu juga lupa bahwa siang ini aku janji mentraktirmu makan!"
"Nggak, aku ingat itu!" timpal Ria meski bingung. Semuanya harus kujalani, apa adanya! Tekan Ria. Dia segera masuk ke dalam mobil, duduk di sisi Roy.
Ria merasakan saat yang membahagiakan. Inikah yang namanya musim semi? Pantas Diana dan Winta selalu bersemangat tiap hari. Seandainya saja Nenek membolehkanku, Ria membatin.
Saat makan di sebuah restoran Jepang, Ria mengatakan pada Roy soal undangan pesta ulangtahun Mieke. "Aku sendiri sebenarnya nggak begitu suka pesta. Tapi dua sahabatku minta supaya aku datang. Bagaimana menurutmu, Roy?"
"Yang namanya diundang, ya harus datang. Aku nggak keberatan menemani kamu. Berapa hari lagi sih? Oh, lima hari lagi? Kok ngundangnya mepet begini?"
"Sebenarnya undangan lisannya udah dari dua minggu lalu. Oh, iya makasih kalo emang kamu mau nganter aku. Tapi aku...." Ria teringat bayangan Neneknya.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa." Ria menengok arlojinya. "Sudah kelamaan nih. Pulang yuk."
Roy mengangguk. Dia mengantar Ria. Tapi Ria menolak Roy mengantar sampai depan rumah. Dia meminta Roy menghentikan mobilnya beberapa rumah sebelumnya. Untung Roy tidak tersinggung dan mau mengerti.
Ria menemukan Neneknya di teras rumah. Dia merasa beruntung karena tadi Roy tidak mengantarnya sampai depan rumah. Ria mendekati Nenek, dan memberi kecupan. Tawa kecil Nenek membuat Ria heran.
"Mengapa nggak kamu suruh temanmu mampir dulu?"
"Ah, Nenek. Ria kan naik bis."
"Jangan bohong. Seragammu bersih dan nggak tercium bau rokok serta keringat seperti biasanya. Mukamu cerah dan langkahmu seperti orang yang habis makan kenyang. Begitu, kan?"
Ria tersipu. Susah memang berbohong pada Neneknya, sekecil apapun.
"Dia pacarmu?"
"Nenek bukannya nggak suka kalo Ria pacaran?"
"Kapan Nenek melarang? Belum pernah."
"Secara langsug memang belum. Tapi Ria masih ingat waktu dulu Nenek marahin pacar Mbak Shasa, padahal Mbak Shasa udah gede."
Nenek tersenyum memamerkan kempot pipinya. "Jadi karena itu kamu takut pacaran? Waktu itu Nenek marah sama Shasa bukan karena dia pacaran, bukan pula karena udah gede atau belum. Tapi apa pantas Shasa pergi dengan seorang cowok sampai larut malam dan tanpa pamit? Pantas nggak?"
Ria menggeleng. Matanya baru terbuka kalau selama ini sebenarnya neneknya tidak melarang ia pacaran. Yang penting asal tahu batas dan aturan!

***

Tidak ada berita yang paling menggembirakan bagi Winta dan Diana ketika Ria menyampaikan bahwa ia akan pergi bersama Roy ke pesta Mieke. Berarti tiga sahabat itu bisa bepergian bareng tanpa mengorbankan perasaan satu orang pun.
"Jadi Roy tuh kemaren telat jemput elo? Ih, gara-gara Winta nggak sabaran sih."
"Yeee, kok gue sih yang disalahin."
"Roy ada rencana jemput elo lagi nggak sih?"
Ria menggeleng. Takut kejadian kemaren terulang lagi. "Lagian gengsi banget minta dijemput mulu," kilah Ria walau sebearnya dia berharap lain.
Ya, pulang sekolah Ria sengaja naik patas AC lagi. Siapa tau bisa ketemu dia lagi, harapnya. Pikirannya menerawang, mengingat Roy. Baru dua kali ketemu Ria merasa ada yang lain di hatinya. Aih, cepat banget sih?
Mudah-mudahan nanti dia nelepon, harapnya. Ria menyesal HP-nya rusak karea kerendam cucian tadi pagi.
Waktu berlalu cepat ketika Ria mengharapkan keajaiban muncul. Tapi tidak ada telepon dari Roy maupun kemunculan surpraisnya. Ria mendadak merasa dadanya terhimpit. Sementara wajah Roy makin melekat di benaknya.
Roy-Roy-Roy.... Kamu di mana sih?

***

Penyakit memang tidak pernah diundang datangnya. Pagi setelah hari yang dilalui Ria. Tanpa Roy, Ria terbaring sakit. Entah apa sebabnya. Malah sampai tiga hari kemudian Ria masih terbaring sakit. Seperti biasa Diana dan Winta kembali menjenguk Ria di siang hari. Sekalian mengabarkan, sebagai tanda solidaritas mereka akan membatalkan rencana ke pesta ulangtahun Mieke nanti malam.
"Gue nggak mungkin ke pesta itu sementara elo terbaring sakit seperti ini," papar Winta.
"Jangan bodoh. Gacoan kalian pasti nggak suka ini. Mereka akan menyumpahi penyakit gue tambah parah."
Winta memandang Diana. "Hal ini juga sekalian menunjukkan rasa penyesalan gue karena selama ini nggak mengerti perasaan elo," timpal Diana.
"Apa maksud kalian?" tanya Ria. Kepalanya yang pusing semakin bingung.
"Tentang Dion dan Restu. Mestinya kami tahu diri nggak cerita tentang mereka di depan elo. Hingga akhirnya elo harus berbohong."
"Win, sederhanain kalimat elo!"
Winta menghela napas. "Ayolah, Ria, elo harus jujur bahwa elo nggak suka kalo gue sama Diana bicara soal cowok-cowok itu karena elo nggak punya seorang cowok yang harus elo bicarain. Lalu elo ngarang tentang Roy untuk menutupi kejengkelan elo itu."
"Pada mulanya memang gue berbohong, kemudian dia muncul, Roy memang ada."
"Tapi mana dia? Emang elo pernah bisa menghadirkannya di depan gue berdua? Bahkan sudah tiga hari elo terbaring sakit, dia nggak muncul-muncul?" desak Winta disusul Diana. Mereka yakin betul, penyakit yang dialami Ria pun gara-gara tekanan tidak punya pasangan untuk ke pesta ulangtahun Mieke.
Ria menggigit bibirnya. Pertanyaan itu juga muncul di benaknya. Mengapa Roy nggak datang-datang juga? Semakin dipikir kian membuat dirinya tak berdaya. Ria menggamit tangan Winta. Isaknya terdengar pelan. "Mungkin dia sedang ke luar negeri ya, Win," katanya menghibur diri, sekaligus menjaga agar tangisnya nggak jatuh.
Diana mengelus rambut Ria. Sejak semula dia sudah menduga cerita Ria tentang Roy cuma isapan jempol belaka. Tapi ia tak mau menggubris. Cuma kalau jadinya Ria seperti ini, tentu saja sebagai sahabat dia tidak tega.
"Tapi dia seperti benar-benar ada. Tawanya, ucapannya dan semuanya masih kuingat di kepalaku," sambung Ria.
Diana mengibaskan tangannya. "Elo harus lupain itu semua. Barangkali sosok Roy sebenarnya cuma kekasih fantasi aja. Itu lho, tentu elo masih ingat waktu kita kecil dulu punya teman fantasi yang seolah-olah ada menemani kita saat sendirian. Kayaknya Si Roy makhluk semacam itu yang hadir karena tekanan kesendirian elo, Ria," ujar Diana mencoba membagi pengetahuan yang ia miliki.
Ria termangu. Mungkin dua sahabatnya benar. Dia harus melupakan Roy yang sesungguhnya tidak pernah ada itu.
"Biar elo nggak ngehayal lagi, nanti akan gue bantu deh nyari cowok buat pasangan elo. Sebut aja, mau Peter, Gino atau Oding?"
"Win, elo tuh kalo nawarin orang seenaknya. Memangnya gampang. Belum tentu dianya mau sama gue."
"Ya, namanya juga usaha. Asal jangan Delon aja. Soalnya gue juga ngejar-ngejar dia."
Pintu kamar diketuk sebentar, lalu muncul Nenek membawa baki berisi dua gelas jus segar untuk Winta dan Diana. Nenek juga menyodorkan faksimili.
"Dari Singapura," kata Nenek sebelum kemudian pergi meninggalkan kamar.
Ria buru-buru mrmbaca kertas surat tersebut.

Dearest Ria,
Maaf, aku nggak bisa memenuhi janji mengantarmu ke pesta ulangtahun itu. Kami sekeluarga harus segera pergi ke Berlin. Ada keluarga kami yang meninggal di sana. Surat ini kutulis di pesawat dan kukirim saat transit di Singapura. O, iya HP aku ilang kemarin lusa. Jadi nggak bisa telepon kamu dulu. Tapi waktu aku coba hubungin HP kamu pake HP nyokap, kok mailbox mulu. Tetaplah menungguku. Aku menyayangimu.
Yours,
Roy

Ria terbelalak mengetahui isi surat di tangannya. Dia buru-buru menyodorkannya pada Winta dan Diana. Dua sahabat itu tercengang kaget melebihi Ria. Jadi mana yang benar, Roy itu ada atau nggak?
"Elo nggak nyuruh sodara elo di Singapura ngirim surat palsu ini, kan?" selidik Winta.
"Gue nggak punya teman ataupun saudara di sana." Ria menggeleng kuat. Matanya menerawang ke langit-langit dengan bibir menyungging senyum.
Kali ini keyakinan Ria berubah lagi. Bukankah surat itu sudah cukup membuktikan, Roy kekasihnya memang benar-benar ada, bukan kekasih bayangan atau fantasi. Masih adakah yang meragukan hal itu? ©


BIODATA PENULIS

Benny Rhamdani, lahir di Bandung. Ia merupakan penulis senior, yang karyanya sudah tak terbilang jumlahnya, yang telah diterbitkan oleh berbagai media cetak nasional. Ia juga merupakan salah satu penulis cerita remaja yang paling banyak menjuarai LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang. Novelnya pun sudah banyak diterbitkan oleh berbagai penerbit nasional di Bandung dan Jakarta. Kini ia menjabat sebagai Editor in Chief pada Penerbit Mizan Publishing di Bandung.Terhitung sudah tiga hari ini Ria menganggap obrolan Winta dan Diana jadi amat membosankan. Tampaknya mereka sudah tidak peduli lagi apakah Ria menyukai obrolan itu atau tidak karena tiap kali obrolan mereka tampaknya makin seru.
"Benar lho, Na. Dion kemarin mulai sering curi-curi pandang ke arah gue. Bukannya ge-er. Dua kali gue nangkep basah," kata Winta sambil menelan cendol hijau kesukaannya.
"Itu berarti udah deket lagi ama jadian. Kayak waktu gue dengan Restu tempo hari. Nggak lama setelah dia suka curi pandang, mulai deh dia ngajak nonton. Mana film India lagi. Tahu kan gue paling suka film India. Udah karcisnya murah, filmnya panjang," timpal Diana. Tangannya membetulkan letak kacamatanya.
"Ah, itu sih otak elo aja yang nggak mau rugi!" sahut Winta. Ia kemudian melirik Ria yang cuma mengaduk-aduk siomai di depannya. "Elo sendiri gimana? Gacoan elo udah dapat?"
Ria cuma tersenyum kecil matanya menerawang lalu mengedip-ngedip membuat Diana dan Winta penasaran. "Pokoknya seru dan mengesankan," mulut Ria terbuka. Ia sendiri tidak tahu bagaimana tiba-tiba bisa mengatakan kalimat itu.
"Seru gimana?" tanya Winta yang tak menyangka Ria akan memberi respon lantaran sejak tadi cuma bengong.
Mulut Ria tak segera terbuka. Dipandanginya Winta dan Diana bergantian. "Begini.... Mmm, kemarin gue kan ke toko buku beli diari buat kado ultah Nenek gue. Nah, pas pulangnya di bis ada cowok cakep. Ya, akhirnya kita kenalan deh."
"Pasti elo duluan yang ngajak kenalan," tuding Diana.
"Yee, kok nuduh. Yang jelas mulanya karena waktu itu gue mau bayar bis, tapi nggak punya receh. Uang gue limapuluh ribuan semua. Untung cowok di sebelah gue itu ngerti dan mau bayarin gue."
"Namanya siapa?" tanya Winta dan Diana nyaris berbarengan.
"Namanya.... Mmm Roy. Ya, Roy. Perhatikan, dari namanya aja dia bakalan cocok jadi cowok gue. Ria dan Roy. Cocok, kan?" Mata Ria berbinar. Dia memuji dirinya sendiri dalam hati karena kali ini bisa membuat dua sahabatnya takjub. Soal apakah dusta itu akan terbongkar, itu urusan nanti.
Bel istirahat usai berbunyi. Tiga sahabat itu bergegas menuju kelas setelah membayar apa yang mereka makan dan minum selama di kantin. Di sela-sela waktu belajar, pikiran Ria menerawang memikirkan rencana obrolan soal cowok gacoannya. Ya, tidaknya dia tak perlu duduk menjadi pendengar setia saat di antara sahabatnya.
Pulang sekolah Ria tidak bisa pulang bareng dengan dua sahabatnya. Diana pulang dengan cowok barunya, Restu. Meski Restu menawarinya untuk satu mobil, tapi Ria menolak. Apa enaknya jadi kambing congek di antara sepasang kekasih. Sementara itu Winta masih harus rapat OSIS. Tentu aja cewek itu semangat karena di sanalah dia bisa saling curi-curi pandang dengan Dion.
Ria melangkah malas ke halte terdekat. Jam pulang sekolah begini butuh perjuangan untuk mendapatkan tempat duduk fi atas bis. Makanya Ria sengaja memilih bis patas AC, meski mahal asal sampai. Begitu bis yang ditunggunya datang, Ria segera naik dan mencari tempat duduk di bagian belakang, biar gampang turun.
"Hei, ketemu lagi kita! Baru pulang?"
Ria terkejut mendengar sapaan di sebelahnya karena ia baru saja duduk. Seorang cowok cakep menatapnya sambil tersenyum. Ria mencoba mengingat-ingat sosok di sebelahnya. Siapa?
"Lupa, ya? kemarin sore kita kan baru kenalan di bis. Namamu Ria, dan aku Roy. Kita kenalan gara-gara kamu nggak punya uang receh untuk bayar bis kemarin. Ingat?"
Ria menggeser duduknya sedikit menjauh. Roy? Kemarin? Ah, mana mungkin! Aku kan cuma berbohong mengatakan hal itu kepada Winta dan Diana pagi tadi. Lalu siapa orang ini sebenarnya? Ria kelimpungan.
"Terserah kamu kalo memang nggak mau kenal lagi denganku. Cuma kamu perlu tahu, aku nggak bisa tidur semalaman. Habis kamu nggak ngasih tahu nomor HP. Untung Tuhan kasihan sama aku. Nggak nyangka bisa ketemu kamu pulang sekolah begini," Roy terus nyerocos.
Ria masih berpikir. Aku nggak bisa diam terus, putusnya dalam hati. "Maaf, kalau boleh tahu, kamu sendiri masih sekolah, kuliah atau...."
"Menurut kamu apa? Yang jelas aku sudah tamat SMA. Apa kamu keberatan kalau punya pacar bukan anak SMA?"
"Pacar? Kok ngelantur, sih?"
"Lho, kamu kan kemarin bilang belum punya pacar. Apa aku kurang ganteng untuk ukuranmu?"
Ria melirik wajah Roy. Matanya begitu mirip Ethan Hawke. Sama persis dengan cowok yang diidolakan Ria selama ini. Pantas saja Ria tadi merasa pernah melihat Roy. Setidaknya, Ria memang pernah membayangkan punya pacar yang bertampang macam itu.
"Ria dan Roy. Aku rasa itu nama pasangan yang cocok, kan?" kata Roy lagi.
Ria mengerutkan dahinya. Kalimat itu sempat diungkapkannya kepada Diana dan Winta tadi pagi. Ia menghela napas sebentar. Semua ini tidak mungkin dipikirkan. Jalani aja... jalani aja, bisiknya dalam hati.
"Rumahmu masih jauh?" Roy menyentak Ria.
"Masih dua halte lagi," jawab Ria setelah melihat keluar jendela. "Nanti ganti naik mikrolet. Sampailah."
"Boleh aku tahu rumah kamu?"
Ria buru-buru menggeleng. "Kapan-kapan aja. Jangan sekarang," lanjutnya. Dia ngeri membayangkan tampang Neneknya kalau sampai melihat ada cowok yang mengantarnya. Masih menempel di benaknya ketika Shasa, kakaknya, dulu waktu SMA pernah diceramahi habis-habisan gara-gara membawa teman cowok ke rumah. Itulah yang sampai kini membuat Ria ragu untuk pacaran.

***

Sebenarnya Ria ingin mengatakan kejadian menakjubkan yang dialaminya saat ngobrol di kantin seperti biasanya. Tapi niat itu diurungkannya karena yakin dua sahabatnya malah tidak akan pernah mempercayainya lagi nanti. Lagipula, Ria sudah bisa menikmati obrolan soal cowok.
Winta berceloteh tentang Dion yang mulai berani mengantarnya pulang kemarin. Diana memaparkan sifat romantis Restu saat mengajaknya nonton film India terbaru yang dibintangi Shahrukh Khan dan Preity Zinta. Ria tentu aja ngak mau kalah, menceritakan hal yang dialaminya kemarin ditambah sedikit bumbu biar seru.
"Jadi dia anak orang kaya? Ah, masak orang kaya bisa dua kali ketemu lagi naik bis," timpal Winta usai Ria berceloteh.
"Mobilnya lagi ngadat. Nanti dia rencananya mau ngejemput sepulang sekolah. Sekalian ngajak makan-makan," bohong Ria kian kumat.
"Kalo begitu, gue nggak langsung pulang ah nanti. Penasaran pengen lihat gacoan elo itu," kata Winta.
"Gue juga. Kenalin ya!"
Ria gelagapan menanggapinya. Sedetik kemudian terdengar kalimat melengking di belakangnya. Mieke dengan gaya yang centil mendekati tiga sahabat itu sambil membagi-bagi undangan berbentuk dadu.
"Jangan lupa datang hari Sabtu nanti. Syaratnya cuma bawa pasangan. Yang nggak punya pacar, boleh bawa adik atau kakak, asal jangan bawa kambing!" kata Mieke sebelum meninggalkan meja di sudut kantin itu.
Mereka bertiga buru-buru membaca undangan itu. Diana langsung tersenyum karena ia yakin kalo Restu akan mau diajaknya ke pesta, sementara Winta hanya komat-kamit berharap agar Dion nanti akan menawarkan diri menjadi pasangannya, sedangkan Ria masih bingung.
"Elo bakal ngajak si Roy, kan?" tanya Diana. Benaknya sudah membayangkan betapa serunya acara kencan bersama itu nanti.
"Entahlah. Aku nggak tahu dia suka pesta atau nggak."
"Ya, tinggal kamu tanya aja nanti. Uh, rasanya gue nggak sabar menunggu bel pulang. Gimana sih tampang Roy-mu itu!" kata Winta sambil menyuapkan siomai ke mulutnya.
Ria cuma meringis. Ia malah berharap waktu berjalan lambat agar bisa berpikir alasan apa yang dilontarkannya nanti karena sebenarnya Roy memang tidak akan pernah datang. Namun waktu malah berjalan semakin cepat. Dan sewaktu bel pulang berbunyi dada Ria berdetak kian keras. Apalagi Winta dan Diana terus menguntitnya.
Sepuluh menit pertama Diana dan Winta masih berharap cemas mendampingi Ria di pintu gerbang, sepuluh menit berikutnya perut mereka keroncongan dan mulai memaki Ria.
"Coba elo telepon dong ke HP-nya."
"Udah barusan. Tapi nggak aktif."
Sepuluh menit kemudian Winta dan Diana meninggalkan Ria karena sudah tak tahan ingin pulang. Cuma Ria yang tinggal karena dia harus pura-pura tetap menunggu Roy. Dan tiga menit kemudian, sebuah Corona putih tepat di depan Ria.
"Roy!" Ria memekik kaget ketika melihat sosok yang keluar dari dalam mobil. Dia menengok kanan-kiri, siapa tahu Winta dan Diana masih ada. Dengan demikian dua sahabatnya bisa segera tahu bahwa ia kini benar-benar sudah punya gacoan.
"Kupikir aku terlambat menjemputmu," kata Roy sambil mendekati Ria.
"Menjemputku?"
"Kamu kemarin kan memperbolehkan aku jemput kamu sekarang. Dan jangan bilang, kamu juga lupa bahwa siang ini aku janji mentraktirmu makan!"
"Nggak, aku ingat itu!" timpal Ria meski bingung. Semuanya harus kujalani, apa adanya! Tekan Ria. Dia segera masuk ke dalam mobil, duduk di sisi Roy.
Ria merasakan saat yang membahagiakan. Inikah yang namanya musim semi? Pantas Diana dan Winta selalu bersemangat tiap hari. Seandainya saja Nenek membolehkanku, Ria membatin.
Saat makan di sebuah restoran Jepang, Ria mengatakan pada Roy soal undangan pesta ulangtahun Mieke. "Aku sendiri sebenarnya nggak begitu suka pesta. Tapi dua sahabatku minta supaya aku datang. Bagaimana menurutmu, Roy?"
"Yang namanya diundang, ya harus datang. Aku nggak keberatan menemani kamu. Berapa hari lagi sih? Oh, lima hari lagi? Kok ngundangnya mepet begini?"
"Sebenarnya undangan lisannya udah dari dua minggu lalu. Oh, iya makasih kalo emang kamu mau nganter aku. Tapi aku...." Ria teringat bayangan Neneknya.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa." Ria menengok arlojinya. "Sudah kelamaan nih. Pulang yuk."
Roy mengangguk. Dia mengantar Ria. Tapi Ria menolak Roy mengantar sampai depan rumah. Dia meminta Roy menghentikan mobilnya beberapa rumah sebelumnya. Untung Roy tidak tersinggung dan mau mengerti.
Ria menemukan Neneknya di teras rumah. Dia merasa beruntung karena tadi Roy tidak mengantarnya sampai depan rumah. Ria mendekati Nenek, dan memberi kecupan. Tawa kecil Nenek membuat Ria heran.
"Mengapa nggak kamu suruh temanmu mampir dulu?"
"Ah, Nenek. Ria kan naik bis."
"Jangan bohong. Seragammu bersih dan nggak tercium bau rokok serta keringat seperti biasanya. Mukamu cerah dan langkahmu seperti orang yang habis makan kenyang. Begitu, kan?"
Ria tersipu. Susah memang berbohong pada Neneknya, sekecil apapun.
"Dia pacarmu?"
"Nenek bukannya nggak suka kalo Ria pacaran?"
"Kapan Nenek melarang? Belum pernah."
"Secara langsug memang belum. Tapi Ria masih ingat waktu dulu Nenek marahin pacar Mbak Shasa, padahal Mbak Shasa udah gede."
Nenek tersenyum memamerkan kempot pipinya. "Jadi karena itu kamu takut pacaran? Waktu itu Nenek marah sama Shasa bukan karena dia pacaran, bukan pula karena udah gede atau belum. Tapi apa pantas Shasa pergi dengan seorang cowok sampai larut malam dan tanpa pamit? Pantas nggak?"
Ria menggeleng. Matanya baru terbuka kalau selama ini sebenarnya neneknya tidak melarang ia pacaran. Yang penting asal tahu batas dan aturan!

***

Tidak ada berita yang paling menggembirakan bagi Winta dan Diana ketika Ria menyampaikan bahwa ia akan pergi bersama Roy ke pesta Mieke. Berarti tiga sahabat itu bisa bepergian bareng tanpa mengorbankan perasaan satu orang pun.
"Jadi Roy tuh kemaren telat jemput elo? Ih, gara-gara Winta nggak sabaran sih."
"Yeee, kok gue sih yang disalahin."
"Roy ada rencana jemput elo lagi nggak sih?"
Ria menggeleng. Takut kejadian kemaren terulang lagi. "Lagian gengsi banget minta dijemput mulu," kilah Ria walau sebearnya dia berharap lain.
Ya, pulang sekolah Ria sengaja naik patas AC lagi. Siapa tau bisa ketemu dia lagi, harapnya. Pikirannya menerawang, mengingat Roy. Baru dua kali ketemu Ria merasa ada yang lain di hatinya. Aih, cepat banget sih?
Mudah-mudahan nanti dia nelepon, harapnya. Ria menyesal HP-nya rusak karea kerendam cucian tadi pagi.
Waktu berlalu cepat ketika Ria mengharapkan keajaiban muncul. Tapi tidak ada telepon dari Roy maupun kemunculan surpraisnya. Ria mendadak merasa dadanya terhimpit. Sementara wajah Roy makin melekat di benaknya.
Roy-Roy-Roy.... Kamu di mana sih?

***

Penyakit memang tidak pernah diundang datangnya. Pagi setelah hari yang dilalui Ria. Tanpa Roy, Ria terbaring sakit. Entah apa sebabnya. Malah sampai tiga hari kemudian Ria masih terbaring sakit. Seperti biasa Diana dan Winta kembali menjenguk Ria di siang hari. Sekalian mengabarkan, sebagai tanda solidaritas mereka akan membatalkan rencana ke pesta ulangtahun Mieke nanti malam.
"Gue nggak mungkin ke pesta itu sementara elo terbaring sakit seperti ini," papar Winta.
"Jangan bodoh. Gacoan kalian pasti nggak suka ini. Mereka akan menyumpahi penyakit gue tambah parah."
Winta memandang Diana. "Hal ini juga sekalian menunjukkan rasa penyesalan gue karena selama ini nggak mengerti perasaan elo," timpal Diana.
"Apa maksud kalian?" tanya Ria. Kepalanya yang pusing semakin bingung.
"Tentang Dion dan Restu. Mestinya kami tahu diri nggak cerita tentang mereka di depan elo. Hingga akhirnya elo harus berbohong."
"Win, sederhanain kalimat elo!"
Winta menghela napas. "Ayolah, Ria, elo harus jujur bahwa elo nggak suka kalo gue sama Diana bicara soal cowok-cowok itu karena elo nggak punya seorang cowok yang harus elo bicarain. Lalu elo ngarang tentang Roy untuk menutupi kejengkelan elo itu."
"Pada mulanya memang gue berbohong, kemudian dia muncul, Roy memang ada."
"Tapi mana dia? Emang elo pernah bisa menghadirkannya di depan gue berdua? Bahkan sudah tiga hari elo terbaring sakit, dia nggak muncul-muncul?" desak Winta disusul Diana. Mereka yakin betul, penyakit yang dialami Ria pun gara-gara tekanan tidak punya pasangan untuk ke pesta ulangtahun Mieke.
Ria menggigit bibirnya. Pertanyaan itu juga muncul di benaknya. Mengapa Roy nggak datang-datang juga? Semakin dipikir kian membuat dirinya tak berdaya. Ria menggamit tangan Winta. Isaknya terdengar pelan. "Mungkin dia sedang ke luar negeri ya, Win," katanya menghibur diri, sekaligus menjaga agar tangisnya nggak jatuh.
Diana mengelus rambut Ria. Sejak semula dia sudah menduga cerita Ria tentang Roy cuma isapan jempol belaka. Tapi ia tak mau menggubris. Cuma kalau jadinya Ria seperti ini, tentu saja sebagai sahabat dia tidak tega.
"Tapi dia seperti benar-benar ada. Tawanya, ucapannya dan semuanya masih kuingat di kepalaku," sambung Ria.
Diana mengibaskan tangannya. "Elo harus lupain itu semua. Barangkali sosok Roy sebenarnya cuma kekasih fantasi aja. Itu lho, tentu elo masih ingat waktu kita kecil dulu punya teman fantasi yang seolah-olah ada menemani kita saat sendirian. Kayaknya Si Roy makhluk semacam itu yang hadir karena tekanan kesendirian elo, Ria," ujar Diana mencoba membagi pengetahuan yang ia miliki.
Ria termangu. Mungkin dua sahabatnya benar. Dia harus melupakan Roy yang sesungguhnya tidak pernah ada itu.
"Biar elo nggak ngehayal lagi, nanti akan gue bantu deh nyari cowok buat pasangan elo. Sebut aja, mau Peter, Gino atau Oding?"
"Win, elo tuh kalo nawarin orang seenaknya. Memangnya gampang. Belum tentu dianya mau sama gue."
"Ya, namanya juga usaha. Asal jangan Delon aja. Soalnya gue juga ngejar-ngejar dia."
Pintu kamar diketuk sebentar, lalu muncul Nenek membawa baki berisi dua gelas jus segar untuk Winta dan Diana. Nenek juga menyodorkan faksimili.
"Dari Singapura," kata Nenek sebelum kemudian pergi meninggalkan kamar.
Ria buru-buru mrmbaca kertas surat tersebut.

Dearest Ria,
Maaf, aku nggak bisa memenuhi janji mengantarmu ke pesta ulangtahun itu. Kami sekeluarga harus segera pergi ke Berlin. Ada keluarga kami yang meninggal di sana. Surat ini kutulis di pesawat dan kukirim saat transit di Singapura. O, iya HP aku ilang kemarin lusa. Jadi nggak bisa telepon kamu dulu. Tapi waktu aku coba hubungin HP kamu pake HP nyokap, kok mailbox mulu. Tetaplah menungguku. Aku menyayangimu.
Yours,
Roy

Ria terbelalak mengetahui isi surat di tangannya. Dia buru-buru menyodorkannya pada Winta dan Diana. Dua sahabat itu tercengang kaget melebihi Ria. Jadi mana yang benar, Roy itu ada atau nggak?
"Elo nggak nyuruh sodara elo di Singapura ngirim surat palsu ini, kan?" selidik Winta.
"Gue nggak punya teman ataupun saudara di sana." Ria menggeleng kuat. Matanya menerawang ke langit-langit dengan bibir menyungging senyum.
Kali ini keyakinan Ria berubah lagi. Bukankah surat itu sudah cukup membuktikan, Roy kekasihnya memang benar-benar ada, bukan kekasih bayangan atau fantasi. Masih adakah yang meragukan hal itu? ©


BIODATA PENULIS

Benny Rhamdani, lahir di Bandung. Ia merupakan penulis senior, yang karyanya sudah tak terbilang jumlahnya, yang telah diterbitkan oleh berbagai media cetak nasional. Ia juga merupakan salah satu penulis cerita remaja yang paling banyak menjuarai LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang. Novelnya pun sudah banyak diterbitkan oleh berbagai penerbit nasional di Bandung dan Jakarta. Kini ia menjabat sebagai Editor in Chief pada Penerbit Mizan Publishing di Bandung.

Cinta Sejati


Oleh cK

…

Cerita ini merupakan kisah nyata seorang tante yang saya temui di Bali, tetapi detail yang saya sebutkan mungkin tidak sesuai dengan kisah aslinya. Saya menuliskan apa yang saya tangkap dari yang diceritakan tante. Sebut saja Ami (bukan nama sebenarnya). Tante Ami bercerita mengenai pengalaman hidupnya ketika masa kuliah.

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama Iman (bukan nama sebenarnya).

Ami dan Iman telah berpacaran selama 7 tahun. Iman merupakan teman SD Ami. Mereka telah kenal selama 14 tahun. Masa 7 tahun adalah masa pertemanan, dan kemudian dilanjutkan ke masa pacaran. Mereka bahkan telah bertunangan dan 2 minggu ke depan, Ami dan Iman akan melangsungkan ijab kabul.

Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba Ami dikejutkan oleh suatu berita.

Adiknya Iman: Mbak Ami, Mbak Ami. Mas Iman…Mas Iman….kena musibah!
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…

Saat itu Ami tidak mengetahui musibah apa yang menimpa Iman. Kemudian sang adik melanjutkan beritanya…

Adiknya Iman: Mas Iman…kecelakaan…dan..meninggal…
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…

…dan Ami kemudian pingsan…

Setelah bangun, Ami dihadapkan oleh mayat tunangannya. Ami yang shock berat tak bisa berkata apa-apa. Bahkan tidak ada air mata yang mengalir.

Ketika memandikan jenazahnya, Amit terdiam. Ami memeluk tubuh Iman yang sudah dingin dengan begitu erat dan tak mau melepaskannya hingga akhirnya orang tua Iman mencoba meminta Ami agar tabah menghadapi semua ini.

Setelah dikuburkan, Ami tetap terdiam. Ia berdoa khusyuk di depan kuburan Iman.

Sampai seminggu ke depan, Ami tak punya nafsu makan. Ia hanya makan sedikit. Ia pun tak banyak bicara. Menangis pun tidak. Skripsinya terlantar begitu saja. Orangtua Ami pun semakin cemas melihat sikap anaknya tersebut.

Akhirnya bapaknya Ami memarahi Ami. Sang bapak sengaja menekan anak tersebut supaya ia mengeluarkan air mata. Tentu berat bagi Ami kehilangan orang yang dicintainya, tapi tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Rasanya beban Ami belum dikeluarkan.

Setelah dimarahi oleh bapaknya, barulah Ami menangis. Tumpahlah semua kesedihan hatinya. Setidaknya, satu beban telah berkurang.

…tiga bulan kemudian…

Skripsi Ami belum juga kelar. Orangtuanya pun tidak mengharap banyak karena sangat mengerti keadaan Ami. Sepeninggal Iman, Ami masih terus meratapi dan merasa Iman hanya pergi jauh. Nanti juga kembali, pikirnya.

Di dalam wajah sendunya, tiba-tiba ada seorang pria yang tertarik melihat Ami. Satria namanya (bukan nama sebenarnya). Ia tertarik dengan paras Ami yang manis dan pendiam. Satria pun mencoba mencaritahu tentang Ami dan ia mendengar kisah Ami lengkap dari teman-temannya.

Setelah mendapatkan berbagai informasi tentang Ami, ia coba mendekati Ami. Ami yang hatinya sudah beku, tidak peduli akan kehadiran Satria. Beberapa kali ajakan Satria tidak direspon olehnya.

Satria pun pantang menyerah, sampai akhirnya Ami sedikit luluh. Ami pun mengajak Satria ke kuburan Iman. Disana Ami meminta Satria minta ijin kepada Iman untuk berhubungan dengan Ami. Satria yang begitu menyayangi Ami menuruti keinginan perempuan itu. Ia pun berdoa serta minta ijin kepada kuburan Iman.

Masa pacaran Ami dan Satria begitu unik. Setiap ingin pergi berdua, mereka selalu mampir ke kuburan Iman untuk minta ijin dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan pergi kemana. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Tampaknya sampai kapanpun posisi Iman di hati Ami tidak ada yang menggeser. Tetapi Satria pun sangat mengerti hal itu dan tetap rela bersanding disisi Ami, walaupun sebagai orang kedua dihati Ami.

Setahun sudah masa pacaran mereka. Skripsi Ami sudah selesai enam bulan yang lalu dan ia lulus dengan nilai baik. Satria pun memutuskan untuk melamar Ami.

Sebelum melamar Ami, Satria mengunjungi kuburan Iman sendirian. Ini sudah menjadi ritual bagi dirinya. Disana ia mengobrol dengan batu nisan tersebut, membacakan yasin, sekaligus minta ijin untuk melamar Ami. Setelah itu Satria pulang, dan malamnya ia melamar Ami.

Ami tentu saja senang. Tapi tetap saja, di hati Ami masih terkenang sosok Iman. Ami menceritakan bagaimana perasaannya ke Satria dan bagaimana posisi Iman dihatinya. Satria menerima semua itu dengan lapang dada. Baginya, Ami adalah prioritas utamanya. Apapun keinginan Ami, ia akan menuruti semua itu, asalkan Ami bahagia.

Ami pun akhirnya menerima lamaran Satria.

…beberapa bulan setelah menikah…

Di rumah yang damai, terpampang foto perkawinan Ami dan Satria. Tak jauh dari foto tersebut, ada foto perkawinan Ami ukuran 4R. Foto perkawinan biasa, namun ada yang janggal. Di foto tersebut terpampang wajah Ami dan Iman.

Ya, Ami yang masih terus mencintai Iman mengganti foto pasangan disebelahnya dengan wajah Iman. Foto itupun terletak tak jauh dari foto perkawinan Satria dan Ami. Sekilas terlihat foto tersebut hasil rekayasa yang dibuat oleh Ami. Namun Satria mengijinkan Ami meletakkan foto tersebut tak jauh dari foto perkawinan mereka.

Bagaimanapun Ami tetap akan mencintai Iman sekaligus mencintai Satria, suami tercintanya. Dan Satria merupakan pria yang memiliki hati sejati. Baginya, cinta sejatinya adalah Ami. Apapun yang Ami lakukan, ia berusaha menerima semua keadaan itu. Baginya tak ada yang perlu dicemburui dari batu nisan. Ia tetap menjalankan rumah tangganya dengan sakinah, mawaddah dan warramah, hingga saat ini…

Mendengar cerita diatas, terus terang saya merasa sedih, terharu, sekaligus miris. Saya kagum dengan sosok Satria yang ternyata benar-benar mencintai Tante Ami. Saya juga mengerti kepedihan Tante Ami ketika ditinggalkan tunangannya. Tentu rasanya sulit ditinggalkan oleh orang yang sudah membekas dihati.

Akankah ada pria-pria seperti Satria? Saya harap semoga banyak pria yang akan tetap setia kepada seorang wanita, menerima mereka apa adanya.