Rabu, 08 Desember 2010

aku terbangun



Hujan deras mengguyur kota sepanjang hari, mengurung aku sendirian di dalam kamar ini. Dari jendela bisa kulihat jeruji perak yang berkilau muram di luar sana, dan dari sela-selanya terlihat pemandangan dunia sebatas yang bisa ditangkap bingkai jendela kecil itu.

Aku duduk murung, memandang kosong dunia kelabu dalam pigura jendela. Hidup ini terasa begitu sepi, sebab aku terpenjara oleh perasaan bernama ‘cinta’ yang selama dua tahun tak pernah bisa kuungkapkan. Setiap hari kurindukan perempuan yang sama; berharap ia berada di sampingku sehingga kami bisa bercerita tentang dunia terindah yang pernah ada. Namun itu hanya angan-angan kosong. Rasa rinduku takkan pernah terobati.

Masih kulayangkan pandang ke luar sana, dan saat itu baru kusadari aku melihat sesuatu. Seorang laki-laki di seberang jalan di depan rumahku, berdiri dalam hujan. Baru kuingat bahwa dia telah berada di sana sejak pagi, ketika hujan baru mulai turun. Dan bukan hanya itu, ia adalah laki-laki yang sama yang kulihat di hari-hari sebelumnya, setiap hari selama dua tahun belakangan ini.

Laki-laki itu berdiri memandangi pintu rumah di depannya, rumah yang berada tepat di depan rumahku.

Dia berdiri bagaikan patung, tetap tidak bergeming walau hujan deras menerpanya. Aku mengambil payung lalu ke luar dan menghampirinya. Bahkan dia sama sekali tidak mempedulikan aku yang datang di sampingnya.

“Pakai ini!” ucapku memberikan sebuah payung lain yang kubawakan buatnya.

Cukup lama waktu berjalan sebelum dia akhirnya berpaling padaku, menatapku walau tetap dalam diam. Diambilnya payung itu kemudian dipakainya, lalu dia melanjutkan memandangi pintu rumah itu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku. Dia tidak menjawab.

“Kuperhatikan kau berada di sini setiap hari, dari pagi hingga malam, memandangi rumah yang sama, memandangi pintu yang sama. Tidakkah aku boleh mengetahui alasan di balik itu semua?” tanyaku lagi.

Dia tertunduk, lalu berkata, “Aku mencintai seorang perempuan, ia tinggal di rumah itu. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasa cintaku padanya. Ia seperti embun yang mengisi cawan cintaku, sehingga aku bisa meminumnya dan melepaskan dahaga jiwaku akan cinta selama-lamanya. Aku berada di sini karena mungkin dia tidak tahu sebesar apa cintaku padanya. Ingin kuberitahu dirinya tentang rasa ini.”

“Lalu, kau sudah memberitahunya?”

Dia semakin tertunduk lesu. “Belum,” jawabnya.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

“Setiap hari aku datang ke sini untuk mengobati rasa rinduku padanya. Awalnya aku ingin mengetuk pintu itu dan mengatakannya, tetapi setiap kali tinggal beberapa langkah dari dari pintu itu, aku tidak jadi melakukannya. Aku ragu apakah dia juga mencintai aku? Apakah dia benar-benar adalah pelepas dahaga jiwaku? Maka aku hanya berdiri di sini.”

Mendengar jawabannya, aku berkata, “Begitu ya… Sayang sekali aku tidak bisa membantumu.”

Aku lalu melangkah meninggalkannya sambil berkata, “Ambillah payung itu. Sekarang sedang musim hujan, mungkin lain kali kau membutuhkannya lagi, gawat kalau kau jatuh sakit.”

Malamnya, sebelum tidur aku melihat ke luar jendela, dan laki-laki itu masih berdiri di sana.

****

Keesokan hari ketika aku bangun pagi, aku mengintip lagi ke luar jendela, dan kulihat di sudah ada di sana. Meskipun hari itu tidak hujan, dia memakai payung yang kemarin kuberikan, berdiri dalam diam dengan mata tertuju ke satu arah. Tak bisa kubayangkan sebesar apa cintanya pada perempuan itu.

Hari itu aku tidak menyapanya seperti hari sebelumnya; kubiarkan dia menyelami diri untuk menemukan keberanian walu hanya setitik. Aku berusaha untuk tidak memedulikan dirinya, namun rupanya itu sulit sekali. Setiap kali melewati jendela mataku otomatis melirik ke luar dan menangkap bayangannya. Malahan aku selalu memikirkannya setiap saat. Dia selalu mengisi kepalaku. Entah bagaimana, secara perlahan aku seperti bisa merasakan apa yang dirasakannya. Rindu yang menumpuk, dan cinta yang tak bisa terucap.

Hari berikutnya tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hanya saja perasaan aneh yang menghantuiku menjadi semakin besar. Seolah aku benar-benar menghayati perannya, dan bahkan menyatu dengannya. Hal itu benar-benar sangat mengusik hati dan pikiranku.

Lalu suatu hari ketika aku sudah tak tahan lagi dengan perasaan itu, aku menghambur ke luar dan bermaksud menemui laki-laki itu. Tetapi yang kutemukan di tempat dia biasanya berdiri malah seorang laki-laki tua. Dia membawa payung.

Saat melihatku, dia berkata, “Dia memintaku untuk menyerahkan ini padamu,” seraya memberikan payung yang dipegangnya, “tapi aku tak tahu yang ini untuk siapa.” Lanjutnya memperlihatkan sebuah buku tebal dengan sampul cokelat. Halaman-halaman buku itu banyak yang hanya dijejalkan di antara halaman-halaman lain dengan asal-asalan. Ada kesan antik pada buku itu.

Aku mengambil payung dan buku itu. Kemudian aku bertanya, “Apa yang terjadi pada laki-laki ini?”

Orang tua itu menjawab, “Dia telah meninggal. Sebuah truk menabraknya pagi tadi. Dia terpental sampai sepuluh meter dan jatuh menghantam aspal. Saat aku menghampirinya untuk menolong, dengan kata-kata terakhir yang dimilikinya dia memintaku membawa kedua benda itu ke sini dan memberikan payung itu padamu. Tetapi dia tidak mengatakan untuk siapa buku itu.”

Kulihat sampul buku itu; warnanya cokelat tua dan ada bercak-bercak merah mungkin karena darahnya, sebab di payung juga terdapat bercak yang sama. Entah apa yang tertulis di dalamnya.

“Kalau begitu aku permisi dulu,” ucap orang tua itu, lalu ia pun beranjak pergi.

“Terima kasih,” ujarku.

Sungguh malang nasib laki-laki itu, betapa hidup yang dilaluinya selama ini menjadi sia-sia. Setiap hari berdiri di tempat yang sama, hanya untuk mati membawa kata yang tak sempat terucap. Adakah kisah yang lebih menyedihkan daripada kisah cintanya?

Kini akulah yang berdiri di tempat ia setiap hari berdiri membeku bersama lidahnya, menghabiskan waktu yang dimilikinya. Kupegang buku yang mungkin memuat seluruh catatan perasaannya pada seseorang, yang ditorehkan oleh tangannya sendiri. Lalu kuputuskan untuk melangkah menuju pintu yang selalu berada di pelupuk mata laki-laki malang itu. Kuketuk tuga kali, dan pintu itupun terbuka.

Seorang perempuan membukanya dengan wajah berseri-seri gembira, namun raut itu sekejap menghilang ketika dia melihatku. Sedikit tertunduk, dia bertanya, “Maaf, kupikir kau orang lain. Ada apa?”

“Aku ingin menyampaikan apa yang tak sempat tersampaikan oleh waktu, “ jawabku, “tentang perasaan seseorang yang kini telah pergi.”

Mendengar jawabanku, perempuan itu memintaku untuk masuk dan duduk menjadi tamunya. Setelah itu, dia berkata pelan, “Selama dua tahun aku menyimpan perasaanku di balik sebuah pintu, pintu itu tidak pernah terkunci, tetapi ia selalu tertutup. Aku menunggu pintu itu dibuka oleh orang yang mencintaiku dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hatinya. Setiap hari, sampai larut malam aku terjaga di balik pintu itu, menunggu apa yang hingga kini tidak jua datang. Kuharap seseorang akan datang pada akhirnya, tetapi ternyata tidak.” Perempuan itu mengucapkan setiap kata diiringi linangan air mata.

Sungguh kisah itu menjadi berkali-kali lipat menyedihkan. Kubendung sekuat tenaga air mata yang ingin mengalir, dan karena tak tahu berapa lama lagi bisa kutahan tangisku, maka kuserahkan buku itu padanya dengan ucapan, “Kurasa semua yang ingin diungkapkannya ada di sini. Walaupun ia kini telah tiada. Ambillah, ini untukmu!”

Setelah itu aku langsung pergi dari hadapannya.

Berjam-jam aku mengurung diri, menangisi kisah cinta memilukan itu. Air mataku bercucur deras seperti hujan yang turun ketika pertama kali aku bicara pada laki-laki itu. Saat kuseka mataku yang basah di hadapan cermin, kulihat laki-laki itu berdiri di hadapanku, menatapku dari dalam cermin.

Saat terbangun, di luar hujan turun dengan derasnya. Dunia benar-benar kelabu. Kuusap wajahku, lalu aku bangkit. Kuhampiri jendela kamarku dan kulihat dunia abu-abu yang kosong dalam terpaan hujan.

Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Kuraih gagang telepon dan kutekan nomor yang sudah kuhapal mati di dalam kepalaku. Kutunggu jawaban dari ujung telepon.

“Halo!” sahut sebuah suara perempuan.Aku menarik nafas, lalu berkata, “Yun! Aku mencintaimu sejak bertahun-tahun lalu ketika untuk pertama kali kulihat wajahmu, dan kau tersenyum padaku.”Dia terdiam.

.

Dan, di bagian ini kau terbangun dari tidur…

Saat Tak Terungkap


Hujan membasahi tanah merah itu, di sana seorang cowok sedang bersimpuh memandangi nisan itu. Gundukan itu masih memerah, baru saja membenamkan tubuh seseorang, waktu akhirnya membawa pergi sesosok raga. Baru kali ini aku melihatnya terpuruk seperti itu. Sejak mengenalnya, tak sedikitpun rasa duka yang pernah mampir dari wajah itu, tapi kini airmatanya menganak sungai. Begitu berhargakah sosok yang terdiam dibawah sana untuknya. Aku masih menatapnya, lintasan waktu kembali berputar membawaku ke tempat itu, awal pertemuan kami…

®®®

“Fin… lo mau kemana?” teriak Dian siang itu

“Nggak pulang ama kita?” Nina menimpali. Aku hanya menggeleng, hari ini aku harus cepat pulang, tak ada waktu mengikuti mereka berdua mengubrak-abrik mall

“Sori Di, Nin, gue lagi ada perlu” teriakku. Dan sedetik kemudian aku berlalu, meninggalkan keduanya yang hanya mengangkat bahu. Mamiku bisa marah kalo aku telat pulang lagi, uang jajanku bisa-bisa di diskon, ah mana bisa aku hidup…

Mentari masih asyik memanggang bumi, peluh melumuri dahiku. Jalan ini tak pernah berubah, toh selama dua tahun ini hanya jalan ini yang terus kulalui, menghitung tiap detailnya setiap hari sampai aku bosan sendiri. Inikah masa SMU yang kata orang menyenangkan, toh bagiku tak ada bedanya, hambar, hilang warna atau bahkan tepatnya dibilang hitam. Apa sih yang berkesan di sekolah itu, kecuali persahabatan dari Meyra dan Nina, just that, no more, desisku. Terus terang otakku sudah jenuh dengan semua ini.

Bruk!!! Benda keras itu membuat tubuhku terpental, jatuh terduduk di tanah. “Kalo jalan pake mata dong!!!” makianku meloncat

“Orang jalan pake kaki, nggak pake mata!!!” suara itu lebih keras dari makianku. Kini sesosok tubuh tegap di hadapanku, menatapku dengan seringai dingin yang menusuk. Aku meringis.

“So..sori..!” desisku perlahan. Nah loh, kok aku yang minta maaf. Bukannya cowok itu yang menubrukku sampai gusruk kayak gini. Akhirnya kuangkat tubuhku dari tanah itu

“Maka lain kali kalo jalan pake kaki, jangan pake mata!!!” bentaknya kini. Aku melotot garang. Sedetik kemudian dia membalasnya, ditatap begitu tentu saja memaksaku menyerah, aku bergidik melihat cowok itu. Oh ya siapa sehhh yang nggak kenal cowok dengan tubuh atletis ini yang dilengkapi dengan sepasang mata rajawali yang siap menantang siapapun juga tanpa ampun ditopang oleh kata-kata kasar yang entah dipelajarinya dari perguruan mana. Inilah preman nomor satu sekolahku, bahkan semua guru sudah angkat tangan pada tingkahnya.

“Apa liat-liat!!!” bentakan kembali menamparku, tanpa sadar aku sejak tadi menatapnya.

“Enggak!!!” aku melangkah pergi. Sial sekali hari ini, sudah mentari tak bersahabat memanggangku hidup-hidup malah di tambah lagi keseraman barusan, pukulan telak..

®®®

“Bayangin dah Fin, all counter bikin big sale ampe 70 %. Oh God, uang gue ampe abis buat ngeborong semua!!!” seru Dian antusias.

“Lo pasti nyesel Fin, nggak ikut kita,” Meyra ikut menimpali, aku cuma tersenyum menatap kedua ratu mall itu menceritakan perburuannya kemarin.

“Trus barang-barang yang kalian beli bermanfaat nggak?” balasku. Mereka berdua saling menatap kemudian mengangkat bahu.

“Yah iya sih, yang jelas shopping tuh ilangin stresss,” Meyra mengangguk membenarkan ucapan Dian.

“Eh apaan tuh, rame-rame!” kutarik keduanya mendekati kerumunan itu

“Aduh Fin!! Ngak usah ikut-ikutan deh!” Dian protes, tapi tak kuhiraukan juga

“Oh GOD,” desis Meyra tak kalah terkejutnya dari aku. Di dalam dinding manusia itu, Anto dipukul habis-habisan oleh Dimas. That’s good.

“STOPPPP!” teriakku dan entah dari mana datangnya keberanian yang menyeret tubuhku berdiri di antara kedua cowok itu

“Minggir kamu, ini bukan urusan cewek!” Dimas mencekal tanganku dan menyeretku menjauh dari kesenangannya itu. Aku bertahan, dia mempelototiku tajam, tatapan yang sama seperti kemarin. Tajam sampai ke tulang rusukku. Aku tidak bergerak.

“Nggak usah sok pahlawan deh!” bentaknya.

“Ini bukan masalah pahlawan kek, pengecut kek! Ini nggak baik. Kamu nggak boleh mukul orang sembarangan!” Ingin rasanya kusumbat mulutku agar berhenti melontarkan kata-kata.

“Nggak baik? Apa sih yang kamu tahu soal baik atau buruk! Yang baik menurut kamu belum tentu baik menurut aku!” suaranya naik seribu desibel. Ok! Telingaku sebentar lagi teriak, tak sanggup menerima suara sekeras itu.

“Terserah!!! yang jelas kamu nggak boleh berkelahi di sini. Ini sekolah bukan ring tinju!” teriakku tepat di wajahnya. Kutatap Anto yang cuma terdiam. “Kamu nggak papa kan To!” Tawa kecil di belakangku membuatku berbalik.

“Kamu nggak malu yah, udah bikin masalah ma aku sekarang dibelain cewek. Banci!!!” Dimas menyeringai.

“Fin, lo minggir aja deh. Ini urusan gue ma berandalan brengsek ini.” Aku mengerutkan kening.

“Udah, kita tunda dulu. Biarin nenek cerewet ini pergi dulu. Kita selesaiin nanti!” Diacungkannya tangannya menantang Anto. Di sana Anto mennaggguk mantap, dengan mata berapi penuh dendam. Aku melongo, apa yang kulakukan.

“Ayo Fin, ngapaiin sih sok jago gitu!” Meyra menyeretku menjauh. Dian habis-habisan memakiku, aku cuma mengacak rambutku tanpa paham dengan apa yang baru saja diinstruksikan sel abu-abuku. Apa ada yang salah…

®®®

Kusandang tas ranselku, kutapaki jalan itu. Jalan itu lagi. Aku sudah jenuh dengan jalan ini. Kapan semua rutinitas bodoh dan tanpa arti ini berakhir, aku sudah bosan. Semua betul-betul perulangan sejati, berulang dan terus berulang, selalu melintasi jalan yang sama, di tempat yang sama seakan waktu tak bergerak tapi tetap memakan usiaku.

“Hey To, mo latian yah!” kusapa cowok itu. Dia cuma tersenyum. Dipermainkannya tongkat baseball di tangannya. Masih ada sisa lebam di wajahnya. Semua cowok itu menatapku, aku jadi rikuh.

“Yah met latihan, aku pulang duluan yah!” Wuihhhh… serem juga temennya Anto, apa mereka ikut gabung juga di klub baseball. Seingatku mereka bukan teman sekolahku. Tapi namanya juga klub umum walaupun tetap di bawah bendera sekolah tapi pesertanya boleh dari mana aja. Whatever, i don’t care. Pokoknya aku ingin kembali ke peraduanku, pegel juga abis latian taekwon hari ini. Ampe patah-patah.

Kuhentikan langkahku saat mataku tertumbuk pada sesosok tubuh yang tergeletak di tanah. Aku enggan mendekat, tapi toh otakku memerintahkan lain. Penasaran kembali menggelitikku, oughhh kapan rasa ini berakhir.

“Dimasss!” desisku saat menatap tubuh penuh memar itu, aku berjongkok di sisinya. “Kamu kenapa?” Dia berusaha bangkit, menepiskan uluran tanganku.

“Aku nggak butuh bantuan kamu!” Dia berdiri dengan susah payah, aku mengikutinya.

“Nih, luka kamu perlu dibalut!” Kuulurkan sapu tanganku dan untuk kedua kalinya ditepiskan dengan kasar.

“Kamu berkelahi lagi kan? Emang apa enaknya sih? Emangnya kalo berkelahi, kamu pikir kamu jantan!” Lagi-lagi semprotan kata-kata meluncur telak tanpa kendali. Dia menatapku, lalu menyeringai.

“Ini kehidupanku, kamu nggak usah ikut campur.” Dia melangkah pergi. “Kamu tuh harusnya perlu banyak belajar, supaya nggak usah ikut campu urusan orang lain!” teriaknya masih terus berjalan.

“Ini bukan urusan orang lain!!! Kamu itu teman kelasku, apa aku nggak boleh peduli ama kamu. Kamu tuh nyadar dong, orang tua kamu nyekolahin kamu bukan buat jadi berandalan sekolah, tapi jadi orang pintarrr!” teriakku lantang. Dia menghentikan langkahnya. Berjalan kembali ke arahku. Dicengkramnya daguku kuat-kuat, wajahku kini berhadapan tepat diwajahnya. Aku panas-dingin.
”Apa yang kau tahu entang orang tuaku, hah!!! Mereka tidak peduli apa jadinya anaknya ini!!!! Apa kamu tahu itu!!! Kamu jangan sok tahu! Sok pintar, sok pedulian ama orang. Udah urus saja diri kamu sendiri. Apa kau mengerti perasaanku. Sejak kakakku meninggal aku hanya orang lain yang tidak bisa memberikan yang terbaik seperti yang pernah diberikan kakakku pada mereka. Mereka tak peduli apa aku hidup atau mati, bagi mereka aku tidak ada. Mereka tidak punya anak seperti aku!!! Apa kau tahu itu!!!” Dilepaskannya cengkraman itu, darah di kepalanya masih mengalir. Aku bergidik.

“Makanya lain kali nggak usah ikut campur dengan sesuatu yang tidak kau tahu!”

“Kamu pengecut!” lirihku. Dimas menghujamkan matanya padaku

“Kamu kalah pada diri kamu sendiri, aku tidak menyangka cowok yang paling jago berkelahi di sekolah cuma pengecut kecil yang lari dari hidupnya, tak sanggup membuktikan pada orang tuanya kalau dia juga bisa jadi yang terbaik.” Gerahamnya menegang, aku tahu dia marah mendengar ucapanku.

“Kau banci…! Pengecut!!”

“APA!!! Jaga ucapanmu!” Darahnya telah naik ke kepala.

“Pengecut…pengecut…kau penakut!!!” umpatku. “Kalau kau berani sudah sejak dulu kau keluar dari kerangkeng tololmu itu. Dasar pengecut!!!!”

PLAKKK!!! Perih saat kurasakan tangan itu menyentuh pipiku. Tanpa terasa airmataku mengalir, makin membuat perih itu menyayat. Di bening airmataku aku menatapnya dengan garang, aku masih menantangnya. Apa lagi yang akan dilakukannya, udah cukupkah dia menghempaskan sesaknya. Aku terdiam, tapi tetap saja airmataku mengalir

“Maaf…maafkan aku.” Disapunya air mataku, dia menatapku lembut. Tatapan yang baru pertama kali kulihat.

“Kau benar, aku pengecut. Kenapa kau berani berkata seperti itu, kau sadar tidak, kau benar-benar mengusikku!”

“Aku benar-benar kesal, ada orang yang tahu semua kekalutanku.” Dia masih menatapku, aku membeku. Kemudian ketegangan itu mencair dia tersenyum, entah mengapa aku pun tesenyum.

“Jadi kau mau jadi temanku?” Aku mengangguk. Kuacungkan jari kelingkingku, dia mengerjitkan dahi lalu ikut menautkan kelingkingnya di kelingkingku. Kami berdua tersenyum.

“Sakit yah?” Disapunya pipiku yang memerah.

“Tentu saja! Orang tuaku saja tidak pernah menamparku dan kau seenaknya…” teriakku kesal.

“Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Kau boleh membalasnya.” Dimajukannya pipinya, aku mundur selangkah

“Kau tidak menyesal kan? Tamparanku akan lebih keras lagi!” ancamku. Dia cuma meringis. Kuarahkan tanganku ke wajahnya, dia menutup matanya. Aku ingin tertawa melihat tingkah bodohnya, dengan perlahan kuusap darah yang masih mengalir di wajah putihnya itu. Dia membuka matanya sambil tersenyum, kami berdua tertawa.

®®®

Masa putih abu-abu berakhir sudah. Kenangan itu masih saja membekas, setidaknya ada yang tertinggal di jalan itu. Hari dimana rutinitas itu bukan perulangan sejati. Kami berempat kini berpindah ke masa yang lebih dewasa. Aku, Meyra, Dian, dan Dimas masih tetap di satu universitas walau berbeda jurusan kecuali Dian dan Dimas. Aku masih ingat bagaimana Meyra dan Dian marah habis-habisan melihat aku berteman akrab dengan Dimas. Tapi toh setelah mengenal Dimas lebih dekat mereka berubah, kadang menilai sesuatu dari kulit luarnya saja membuat kita salah menafsirkan sesuatu, baik ternyata buruk, dan buruk ternyata baik. Ambivamensi yang sempurna.

“Woi, ngelamun lagi! Jadi nggak nih acara traktitrannya!” Dimas mengejutkanku, kini mengelus perutnya. Aku hanya tertawa.

“Iyah lah, tungguin yang lain dulu.”

“Kalo bukan karena kamu, aku nggak mungkin ada di sini.” Dimas mengacak rambutku.

Aku protes dengan sengit, “Ih, jangan gitu dong, aku bukan anak kecil.”

“Bukan anak kecil! Cuma anak kecil yang ngebuat janji kelingking,” ejeknya.

“Dimassssss! Ih kamu kok gitu sih, nggak solider amat. Pake ninggalin gue lagi!” Dian berlari ke arah Dimas dan kini bergayut mesra di tangannya. OK, jantungku berdenyut kencang, aku cemburu!!! Huekkk no, i’m not jealous. Untuk apa aku cemburu pada sahabatku sendiri. Oh yah, kami berempat memang hanya bersahabat.

“Sori, sisa Meyra nih. Mana tuh anak?” Dimas menatapku, aku mengangkat bahu.

“Udah kita jemput aja di tempatnya.” Dian memberi usul, kami mengangguk. Dan hari itu berakhir indah walau sisakan sedikit sesak di satu rongga dadaku. Sejak kapan rasa ini ada?

®®®

Malam menyelimuti bumi, sejak tadi mentari bersembunyi. Berganti rembulan setengah bulat menggantung disisi langit. Sesak itu makin mencengkramku seperti gelap mencengkram cahaya. Percakapan itu terpantul terus di telingaku, aku hanya sempat berdiri di ambang pintu rumah Meyra saat mendengar suara di baliknya.

“Aku sayang banget ma dia Mey, cuma aku takut persahabatan kita hancur. Aku tidak mau itu terjadi.” Aku tahu betul itu suara berat Dimas.

“Yah sudah, apa salahnya sih kamu jujur. Daripada nggak jelas kayak gini. Dia pasti ngerti! Udah deh, kamu nemuin dia sekarang, entar nggak ada waktu lho.” Aku tidak sanggup lagi berdiri di tempat itu, semua percuma. Kutekan gas kuat-kuat, aku ingin segera tiba di rumah. Traffic light berubah merah, terpaksa kuhentikan civicku. Apa aku salah jika berharap itu aku? Bodoh tidak mungkin, pasti yang dimaksudnya Dian. Apa? Dian? Itu Dian, tatapanku terpaku pada sebuah mobil tepat di sampingku. Itu mobil Dimas, dan di dalamnya ada Dian dan Dimas. Aku tidak sanggup lagi berpijak, kutekan gas kuat-kuat saat merah tersenyum puas, kuharap mereka berdua tidak menyadari kehadiranku. Tapi terlambat, mobil VW Beatle itu telah berada beberapa meter di belakangku. Kulajukan lebih cepat lagi, aku tidak sanggup menemui mereka. Air mataku mengalir kian deras.

BRAKKKK suara di belakangku terdengar seperti dentuman benda keras, sesaat kemudian diikuti sirene ambulans, sosok itu bersimbah darah, dan aku sangat mengenal sosok itu…

®®®

Hujan masih mengguyur tanpa ampun, Dimas masih disana, bersimpuh menatap nisan itu.

“Aku bodoh, seharusnya sejak dulu aku ungkapkan perasaanku. Aku terlalu sayang padamu. Tak ingin menghancurkan persahabatan kita. Mengapa tak kau berikan aku waktu untuk mengungkapkan semuanya.”

“Aku mencintaimu,” desisnya pada nisan itu. Oh Tuhan, begitu berharga sosok yang tertidur damai di bawah sana untuk Dimas.

“Cuma kau yang memahami aku.” Aku tidak sanggup lagi berucap, aku sangat ingin menghentikan kesedihannya berbagi derita dengannya, pada orang yang telah mengubah jalanku, membelokkannya sedikit dan menghapus kejenuhanku dengan perasaan tolol yang sampai kini masih tesimpan di kotak hatiku. Aku mendekatinya, kugerakkan tanganku ingin menyentuh bahunya, aku tercekat ketika mataku menatap nisan itu. Di sana tertulis namaku. Aku mundur beberapa langkah.

“Dia nggak mau kau kayak gini, dia pasti ingin kau bahagia.” Dian kini mendekatinya.

“Ini untukmu, buku harian Finta. Aku juga ingin minta maaf padanya. Selama ini dia menyangka kau suka padaku. Seharusnya dia sadar, kalau kau hanya mencintai dia.” Dimas masih terdiam. Diraihnya bukuku itu. Kini aku hanya membeku menatap semuanya. Angin berhembus, melayangkan aku semakin jauh. Berharap semoga ada indah di ujung sana untuk dia, dia yang telah mengukir satu kisah di lembar hariku yang harus berakhir di sini.

korban dendam

Peter dan Apeng, menaruh dendam kepada gerombolan FanSeng. Dalam kelompok Doni, mereka dikenal lebih bernyali ketimbang yang lain. Sementara Heri, Rina, dan Ling-Ling menemani Doni yang trauma. Peter dan Apeng bergegas mencari tempat perkumpulan gank FanSeng. Sesampainya di tempat gerombolan FanSeng, Apeng segera menghunuskan samurai ke arah FanSeng. FanSeng terkejut dan takut, sambil berusaha menenangkannya.

“Tenang, Kawan!”

“Kau takut?”

“Bukan begitu. Apa tak ada cara lain untuk menyelesaikan ini?”

“Maksudmu?”

“Bagaimana kalau kita berlomba? Siapa menang boleh melakukan apa saja.”

“Baiklah. Tapi ingat, aku sangat senang mengalahkanmu dan memotong-motong tubuhmu!”

Entah apa di benak Apeng sehingga begitu mudah menerima tawaran FanSeng. Padahal ia orang yang sangat licik. Segera saja arena dipersiapkan dengan rute yang menantang: menembus lintasan rel yang akan dilalui kereta api malam. Hitungan ketiga dimulai dan perseteruan mereka di jalanan tak terbendung. Di garis start, ternyata FanSeng telah mengatur siasat untuk melumpuhkan Peter.

Apeng dan FanSeng terus melaju dengan kecepatan tinggi, sementara Peter tak berdaya dikeroyok gerombolan FanSeng. Apeng yang terlena oleh suasana tak menyadari rencana busuk FanSeng. Di atas medan jalan, mereka saling memotong laju. FanSeng terlihat senang bermain-main dengan emosi Apeng. Begitu jarak mulai mendekati lintasan rel, FanSeng menurunkan kecepatan agar tidak berbenturan dengan jalannya kereta, sementara Apeng terus menaikkan kecepatannya. Tak lama berselang, apa yang direncanakan berhasil.

“Prrrraaakkkk..”

Sambil tertawa, FanSeng menyaksikan Apeng dan motornya dibawa oleh kereta malam. Entah kemana. Dia tak menyangka, semudah itu membodohi Apeng dan Peter.

***

“Wisnu, Apeng, dan Peter telah pergi.”

“Sebaiknya kita membubarkan diri saja!”

“Don, kamu bicara apa? Justru mereka ingin kita tetap bersama!”

“Lalu, apa yang mesti kita lakukan?”

“Balas dendam!”

“Kita harus balas dendam, Don!”

Terjadi perdebatan serius antara Doni dan Heri. Malam berkabung itu memang hanya mereka yang berkumpul di tempat biasa. Ling-Ling trauma dengan kepergian kekasihnya, Apeng. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengunjungi Ling-Ling di rumahnya.

“Kemana Rina? Mengapa hanya kalian berdua?”

“Kami tak tahu. Sejak sore tadi kami tunggu, tapi tidak kelihatan juga.”

Tanpa banyak komentar, Heri menegaskan tujuan mereka datang. Tanpa dipikir ulang, Ling-Ling setuju dengan ajakan itu. Mereka pun terlibat perbincangan serius tentang rencana balas dendam terhadap FanSeng.

Kekasih Doni, Rina, ternyata sudah berada di tempat FanSeng. Entah apa yang dilakukannya di sana. Gadis anggun itu terlihat akrab dengan FanSeng. Seperti kebanyakan perkumpulan motor, gerombolan FanSeng sedang asyik menenggak minuman murahan dan mengadakan pesta dansa jalanan. Bahkan, Rina pun tidak canggung dengan suasana seperti itu, suasana yang tidak didapatnya pada perkumpulan Doni.

Sementara di rumah Ling-Ling, rencana matang disiapkan untuk menghancurkan gerombolan FanSeng. Dengan motor kesayangannya masing-masing, mereka langsung menuju ke tongkrongan FanSeng. Sebelum sampai di sana, Ling-Ling berinisiatif menghubungi kantor polisi terdekat. Akhirnya dengan mengendap-endap, mereka mulai memasuki daerah kekuasaan FanSeng. Betapa kagetnya mereka, terlebih Doni, begitu melihat Rina ikut berpesta pora bersama gerombolan FanSeng. Dengan emosi yang menggelembung, Doni menghampiri mereka, kemudian diikuti oleh Heri dan Ling-Ling.

“Perempuan jalang!”

“Ternyata selama ini kau menipu kami!”

Betapa kagetnya Rina atas kehadiran mereka. Si licik FanSeng langsung mengerahkan anak buahnya untuk memukuli mereka. Tapi, mereka melawan. Heri berlari ke arah motornya. Ling-Ling menyambangi Rina dan menjambakinya. Sementara Doni mengejar FanSeng dengan sebilah sangkur milik ayahnya.

Perkelahian tak berimbang di malam jahanam itupun pecah. Dengan motornya, Heri menghantam gerombolan FanSeng yang tengah sempoyongan. Tetap saja, karena kalah banyaknya orang, mereka bertiga malahan menjadi bulan-bulanan.

Heri terjatuh dari motornya. Doni pun dikeroyok. Sementara Ling-Ling diikat di sebuah tiang telepon yang sudah tak berfungsi. Heri dan Doni terus dipukuli tanpa ampun oleh gerombolan si licik FanSeng. Mereka melayangkan bogem mentah bertubi-tubi hingga akhirnya Doni jatuh tak sadarkan diri. Heri yang terus melawan akhirnya dihentikan dengan sepuluh tusukan di dadanya. Sementara Ling-Ling dijadikan alat pemuas nafsu birahi mereka, sebelum akhirnya dibunuh oleh FanSeng.

Doni berusaha bangkit. Matanya memandang samar motor-motor yang melintas di sekitarnya, kemudian tak sadarkan diri lagi. Tak lama, polisi datang menangkap gerombolan FanSeng, termasuk Rina. Jenazah Heri dan Ling-Ling dievakuasi, sementara Doni dilarikan ke Puskesmas terdekat.

***

Kini, tinggallah Doni sendiri. Wisnu, Apeng, Peter, Heri, dan Ling-Ling pergi. Begitu juga Rina yang mendekam di penjara. Sementara itu, FanSeng dijatuhi hukuman mati, sedangkan rekan-rekannya harus menikmati kehidupan di balik jeruji besi seumur hidup mereka.

“Semoga mereka tenang kini!”

Kata itu seakan menyadarkan Doni dari lamunan panjang bersama album foto yang ada dihadapannya. Selama lima belas tahun, kursi roda, album foto dan tetesan air matalah yang setia menemani Doni. Entah sampai kapan penyesalan itu berakhir.

Seribu Jalan Kebaikan



Langit masih terlihat kelam. Semburat awan kelabu masih mewarnai birunya langit. Pohon – pohon terlihat basah dengan butir – butir air yang masih menempel di daun. Cekungan air berwarna coklat terbentuk pada ruas jalan yang berlubang. Tiap harinya jalan yang sudah berlubang di sana - sini itu, dilalui banyak kendaraan dari truk pengangkut pasir sampai sepeda. Tapi pagi ini, hanya satu dua kendaraan yang terlihat melewati jalan ini, mungkin karena hujan yang baru saja turun.
Di sisi jalan inilah, setiap hari seorang kakek tua berjalan menyusuri tepian jalan, mencari rezeki demi keluarga dengan menjual kayu bakar. Tubuhnya kurus kering, pakaiannya kumal, deretan giginya sudah tidak utuh lagi dan barisan rambut putih telah memenuhi seluruh kulit kepalanya. Walaupun begitu, semangat kakek untuk bekerja tak pernah surut. Seperti semangatnya ketika membela tanah air di masa perjuangan.
Dulu, dengan gagah berani, sang kakek bersama pejuang lain berhasil melawan penjajah dalam peristiwa Hotel Yamato di kota pahlawan ini.Pertempuran sengit di hotel yang kini bernama Hotel Majapahit itu berawal dari penjajah yang berani mengibarkan bendera merah putih biru di atas Hotel Yamato. Saat itu, semua arek Suroboyo merasa terhina dan bertekat mengganti bendera itu dengan bendera merah putih milik Indonesia.
Pertempuran hebat tak bisa dihindarkan, dengan senjata seadanya, mereka melawan penjajah yang bersenjatakan pistol. Beberapa arek Suroboyo mencoba mempertaruhkan nyawa mereka, termasuk sang kakek, dengan memanjat dinding Hotel Yamato dan berusaha merobek warna biru dari bendera tersebut. Penjajah yang tak mau kalah, menembaki dari bawah semua pejuang yang berusaha memanjat menuju atap hotel. Banyak pejuang yang gugur bersimbah darah dengan pekik perjuangan yang masih menyala. Tapi, akhirnya mereka berhasil merobek warna biru dari bendera tersebut dan menjadikan sang merah putih berkibar di sana.
Sang kakek masih ingat peristiwa itu. Bagaimana kerasnya ia dan teman – teman seperjuangan berjuang mempertahankan kemerdekaan, bagaimana ia melihat satu per satu temannya gugur bersimbah darah dan bagaimana ia dan pejuang lainnya mengusahakan hidup merdeka untuk generasi selanjutnya.
Hingga hari tuanya tiba, tiada kebahagiaan yang berarti selain melihat Indonesia tersenyum. Walaupun tanda penghargaan tertinggi sebagai pahlawan tiada disandangnya. Sambil terus berjalan menyusuri jalan, sang Kakek meneriakkan kata,”Kayu bakar!!!Kayu bakar!!!” dan ketika itu terlihatlah giginya yang ompong.
Sang mentari mulai membagikan kembali sinarnya setelah hujan yang membuat kayu bakar kakek tidak laku. Jalanan yang tadinya lengang dan hanya satu dua kendaraan saja yang lewat menjadi sedikit lebih ramai. Beberapa truk pengangkut pasir lewat dengan pasir bawaannya yang menggunung. Di sampingnya ada pengendara motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sang pengendara yang tidak sabar berusaha mendahului truk tersebut. Truk pengangkut pasir yang tidak siap dengan keadaan ini, tak bisa mengerem mendadak sehingga kehilangan kendali dan menabrak pengendara motor itu. Motor tersebut langsung terlempar ke sisi jalan dan……. Brakk!!!
Semua orang di sekitar tempat kejadian segera berlari untuk melihat apa yang terjadi. Sesosok tubuh kurus kering dan bersimbah darah tergeletak di dekat motor yang tadi terlempar, beberapa kayu bakar yang basah, jatuh berserakan di dekatnya. Di dekatnya lagi terdapat sang pengendara motor dengan helm yang masih melekat di kepalanya yang sudah tak bernyawa lagi. Orang – orang hanya bergumam, “ Kasihan si penjual kayu bakar itu…. “
Gemuruh petir kembali menggema. Sinar sang mentari tak mampu menghalangi sang langit untuk menangis. Rintik – rintik hujan turun perlahan. Mengiringi kepergian sang pahlawan yang dulu telah mempertaruhkan hidupnya demi generasi muda. Kembali ke Sang Pencipta dengan seribu jalan kebaikan.

Tiada kata yang bisa menggantikan arti pengorbanannya. Yang setia bertaruh jiwa raga, meskipun kata “Sang Pahlawan” tiada dikenang orang. Walaupun kini hanya kata “Si penjual kayu bakar” yang melekat di hati orang,tapi tidak di masa lalu. Saat itu kata “Pahlawan”-lah yang melekat di hati mereka.

Di Tepian Sungai Lain


Sore yang kering di tepian Mekong. Angin menyisir ilalang. Thailand tampak dalam jangkauan pandang. Di seberang sungai lebar yang panjangnya melintasi lima negara ini, aku duduk termenung. Aku tak bisa tersenyum dengan sesungguhnya. Hatiku mati rasa. Cinta lelaki itu telah membunuhnya. Menjadikanku zombie yang tak berperasaan.

Kau buang kemana hatiku, hai laki-laki pencuri? Setelah malam itu kau buka bungkus dadaku. Kau ambil isinya hingga habis tak tersisa. Lalu kau menghilang. Meninggalkanku dalam kenangan di tepian sungai Huangpu, Shanghai. Aku tak bisa hidup tanpa hati. Lidah ini jadi ikut mati rasa. Aku tak bisa merasakan rasa yang lain selain dirimu.

Mekong terbelah di tengah. Dasarnya yang kering tersembul. Hanya tepian yang dialiri air. Itupun hanya setinggi lutut. Ikan apa yang kau jaring Phoor? Dari tempatku duduk, tak kulihat apapun tersangkut dalam jaringmu. Padahal kau telah berjalan begitu jauh menyusuri sungai, menyeret jaring itu. Tidakkah hidup terasa sulit untukmu? Terpikirkankah olehmu untuk melarikan diri dari penderitaan. Seperti yang kulakukan saat ini?

“Sabai dee!” Seorang wanita muda mengucap salam khas Laos. Aku tersenyum saja. Di negeri ini kita harus hati-hati. Perdagangan narkoba dan seks begitu bebas. Aku tak mau perjalananku ini berakhir di penjara.

“Are you Philipines?”

“No!”

“Where’re you come from?”

“Guess it.”

“Thailand?”

“Totally mistake!”

“Sialan!”

“Ha ha ha!”

“Why are you laughing?”

“Sialan juga deh!”

“Apa? Indonesia!”

“Kita sekampung teman!”

“Ha ha ha!”

Namanya Lisa, dari Jakarta. Banyak kesamaan di antara kami. Sama- sama suka warna merah, putih, hitam dan coklat. Dia menyayangi kucing dengan cara yang sama sepertiku. Mengelus bulunya dari arah ekor ke kepala. Dan yang lebih seru lagi kami sama -sama habis dibodohi cinta palsu.

Sekian banyak kecocokan mengakrabkan hati. Lisa seperti bukan orang asing buatku. Mendengar kisah cintanya yang pedih, membuatku seperti menemukan cermin hidup. Tapi Lisa tak berada disini untuk melarikan diri sepertiku, tapi untuk urusan pekerjaan.

“Di mana hotelmu?” tanya Lisa padaku.

“Art Hotel Beau Rivage Mekong,” jawabku lengkap.

“Ooh, That pinky hotel! So sweet!”

“Jangan ngejek ya, memang itu hotel murahan, tapi aku menemukan kedamaian di situ!”

“Tak ingin mencoba hotel lain? Hotelku mungkin? Bintang empat, standar internasional!”

“Hotel dengan jaringan internasional seperti itu di Indonesia juga ada. Aku mencari sesuatu yang beda. Lagipula aku sedang berjuang melawan kenangan. Ada banyak kenangan dengan hotel-hotel macam itu. Sekarang sedang terasa menyakitkan.” Kutarik nafasku dalam-dalam. Kuhembuskan dalam asap rokok Laos rasa menthol.

“Selalu di hotel sekelas itu? Hebat! Cinta yang hebat!” Canda Lisa.

“Cinta macam apa ? Cinta dalam hitungan jam, harus segera berakhir sebelum jam dua belas siang. Cinta Cinderela! Setelah jam duabelas siang semua kembali pada kenyataan,” kataku dengan wajah sendu. Lisa merangkul bahuku. Kusandarkan kepalaku di bahunya, Ah.

Bukannya aku tak tahu tentang dosa. Dosa sebesar gunung pun sudah tertanggung. Betapa tulus aku mencinta. Betapa sabarnya aku menanti secuil cinta yang tersisa. Dijadikan istri kedua aku pun rela. Andai lelaki itu lebah jantan yang sesungguhnya. Ia pasti akan membawa serbuk sari murni pada kepala putikku. Maka bunga cintaku akan menjadi buah. Tapi aku justru tersudut dan layu. Lelaki yang membuang hatiku di Huangpu. Cuma lelaki laba-laba yang menyamar jadi kumbang flamboyan, bergaya sok jantan. Memasang jaring jebakan di setiap sudut jalan. Menjeratku.

Habis manis sepah dibuang. Aku manis, Lisa manis. Tapi kami tetap dibuang. Bukan karena sepah. Tapi karena gelisah. Tak habis kami menuntut janji dari lelaki-lelaki itu. Lelaki yang kemudian jadi resah. Kami ingin dinikahi, walau cuma siri. Bukankah kami sudah dengan tulus hati menyerahkan harga diri? Lelaki-lelaki itu langsung melarikan diri.

Keramaian tepian Mekong di malam hari. Dengan lalu lalang bule-bule, dengan deretan kafe-kafe kecilnya. Dengan aroma ikan bakar, alkohol, dan parfum wanita-wanita penjaja cinta. Mengingatkanku pada Kuta yang masih perawan. Tapi Kuta begitu renta, sangat sesak nafas dan komersil. Seperti pelacur tua yang terus mempertebal gincu. Di Kuta telingaku tak bisa sedingin ini. Aku terpesona pada kesenyapan Mekong.

Ketegangan hatiku meluntur. Layar kelam terangkat perlahan. Pandangan sedikit mulai terang. Hatiku berkecambah tanpa kutahu. Hanya disini bagian kota Vientiane yang masih berdenyut. Sisi lain sudah senyap. Toko, pasar, kantor hanya sampai jam empat sore. Santai sekali. Aku benar-benar merasakan kendurnya saraf-sarafku.

Lisa tersenyum dalam taburan bunga tarian gadis Campa. Entah mengapa dalam pandanganku dia tampak berkilauan. Pesta kecil di tepian Mekong ini terasa meringankan beban hatiku. Alunan musik berubah. Penari campa yang tadi menarikan tarian bunga turun dari panggung. Dia meraih lengan setiap orang dan mengajak menari Lumvong Lao. Tari pergaulan rakyat Laos. Kami menari. Lisa tertawa. Aku tertawa!

Aku tertawa? Apakah aku sudah menemukan hatiku kembali? Hatiku yang hilang di tepian sungai lain di belahan dunia yang lain. Oh akankah cinta yang hilang itu tergantikan? Di sini? Di tepian sungai yang lain di belahan dunia yang lain. Lisakah?

“Aku benci laki-laki!” teriakku pada Mekong. Orang -orang memandangku sebentar lalu mengacungkan kaleng Lao beer mereka. Mungkin aku dikira sama mabuknya dengan mereka.

Aku menangis, Lisa menangis. Dua orang wanita yang melarikan diri dari cinta yang sangat menyakitkan. Kami sama-sama mencintai pria yang beristri. Bersetubuh dengan mereka, dan sama-sama di campakkan setelahnya.

“Lisa, khoi hak chao!” kataku.

“Khob chai, phii huk.” Kami berpelukan.

Hatiku memang benar-benar sudah hilang hanyut terbawa arus Huangpu di Shanghai. Tapi aku menemukan Hati yang baru dalam aliran Mekong di Vientiane ini. Hati yang benar-benar baru. Hati itu, Lisa!

Mekong Riverside, 00.00, 060208

Phoor : Bapak Sabai dee : Halo

Koi hak Chao : aku cinta padamu Phii huk : sayang

Khob chai : terima kasih

Cerpen oleh RADIANI

Surya Panen



Sebelum tidur, lelaki berkaca mata itu memeriksa semua pintu dan jendela. Akhir-akhir ini sering terjadi pencurian, perampokan kadang disertai pemerkosaan, penganiayaan bahkan pembunuhan. Apalagi setelah kenaikan harga BBM, perekonomian semakin anjlok. Kriminalitas meningkat. Pengangguran korban PHK dan putus sekolah bertambah. Sebuah lingkaran setan yang tak bisa diurai mana ujung dan pangkalnya.

Surya Panen, lelaki itu mengusap keningnya yang berkeringat dingin. Belakangan ini ia sering dilanda ketakutan yang luar biasa ketika menjelang tidur. Ketakutan yang tak bisa dicari alasannya.

Berita di surat kabar, televisi, dan radio tentang kejahatan yang meningkat, menjadi obrolan yang menegangkan dengan teman sekerja di pangkalan ojek. Ketegangan itu terbawa pulang ke rumah. Mengikutinya seperti hantu. Akibatnya hubungan dengan istrinya pun jadi memburuk. Sering ia merasa was-was ketika meninggalkan istri dan rumahnya untuk bekerja. Ia takut rumahnya kerampokan atau istrinya diperkosa orang.

Ia mencurigai siapapun yang tak dikenalnya. Ia sangat waspada bahkan suara cicak pun bisa membuatnya mengacungkan golok yang selalu disanding di sebelah bantal. Ia memandang istri gemuknya yang pulas memeluk guling dengan getaran nafas yang terhambat lemak. Menimbulkan bunyi khas yang memenuhi kamar tidur. Ketika sang istri masih mendengkur. Panen memeriksa simpanan uang dalam peti kayu yang tersembunyi di balik lemari baju. Ia lega semuanya masih utuh lalu ia kembali tidur, diiringi dengkur istrinya yang menjadi musik pengantar tidur hingga esok kembali mengulang hari.

Rasa takut terbawa mimpi. Ia merasa didatangi lelaki bertampang seram, kumis tebal dan muka bopeng. Lelaki seram itu menampar kedua belah pipinya. Sakit. Pandangan menjadi biru ungu kelap-kelip kunang-kunang. Semua barang bawaan diminta paksa sambil memukuli sekujur tubuhnya.

“Tolooong…!” teriaknya.

Lalu ia terbangun dengan celingukan. Istrinya menertawakan dirinya. Ternyata tak ada apa-apa kecuali mentari yang mulai naik. Dan mengantarkan kehangatan melalui jendela kamar. Istrinya masih saja tertawa, saat itu wajah Panen yang sedang mengumpulkan kesadaran terlihat sangat lucu di mata wanita berdaster ukuran xl itu. Panen menceritakan mimpi buruknya. Sang istri hanya mengangkat alis, malas menanggapi.

“Oh…” begitu saja komentar perempuan itu. Mulutnya membetuk lingkaran dengan bibirnya yang tebal. Ia pun beranjak dari kamar meninggalkan Panen yang masih berbaring di kasur.

Nama Surya Panen diberikan Bapak dengan harapan dan doa kelak dapat menuai keberhasilan. Masa depan cerah, secerah hamparan kuning padi yang siap panen. Lelaki tua berambut perak, dengan tubuh bungkuk itu, masih saja setia melayani pelanggan di bengkel sepedanya yang tak jauh dari pangkalan ojek tempat Panen biasa ngetem.

Panen diam-diam sering mengamati wajah renta yang dipenuhi kerut lisut, dari tempatnya mangkal. Ia sedih, benih harapan yang ditanam dalam dirinya tak pernah bisa menjadi padi kesuksesan berbulir padat. Ia ingin bisa membahagiakan lelaki yang selalu tampak tekun berjongkok memperbaiki ban sepeda anak tetangga. Tapi nasib tak berpihak padanya

Sejak ia lahir, Bapak memperbaiki sepeda. Sekarang setelah ia dewasa, Bapak masih saja memperbaiki sepeda. Bengkel sepeda yang makin lama makin lusuh. Seperti seonggok kain tua. Yang hanya pantas untuk lap kompor. Bengkel yang makin mengkeriut tertelan kios, toko, warung makan disekitarnya. Bengkel Bapak tampak reot dis amping semua bangunan baru itu. Bengkel yang semakin tua seiring kerentaan bapak. Dan Panen tak bisa berbuat apa-apa selain hanya kelu memandang.

Setan was-was kembali datang, dengan gemuruh teriakan demonstran. Di tanduknya terikat sepotong kain merah bertuliskan ‘Turunkan BBM’. Menyetop seluruh angkutan umum dan mengajak semua orang untuk berjalan kaki membawa spanduk dan poster protes sambil meneriakan yel-yel heroik.

Panen menggigil mendengar derap demonstrasi itu. Kerumunan itu memekatkan matanya. di antara sorak sorai ’setuju’ dari massa yang entah menyepakati apa. Panen mendengar makian. Yang makin lama makin keras menggelombang, ‘Hancurkan, bakar, tembak!’ entah dari mana. Tiba-tiba semprotan air menampar wajahnya, mengabutkan pandangan. Panen terjebak dalam amukan masa yang membadai.

Batu-batu berterbangan. Bambu runcing menusuk-nusuk langit. Bom molotov melontarkan api. Kawat duri melilit-lilit aspal jalanan. Peluru karet berdesingan diantara asap yang mengepul dari bom asap dan ban yang dibakar. Langit menjadi merah hitam dan berbau hangus.

Panen merunduk. Tiarap di tanah. Ia takut jadi korban konyol dari kerusuhan ini. Batinnya sangat trauma dengan keberingasan yang biasanya hanya dilihat di televisi. Jantung Panen berhenti sesaat.

“Tidak! Ampun aku tak tahu apa-apa, bukan salahku…!Aaa…!”

Panen terpental dari bangku panjang di pos ojek. Jatuh ke tanah tak jauh dari motornya.

“Ha ha ha!” serentak tawa teman-temannya terdengar.

“Sadar! Siang-siang ngelindur!”

Panen merasa seperti jatuh ke negeri asing yang dipenuhi mahluk aneh yang menyeringai. Kesadaran pecah berantakan. Terpatah-patah dikumpulkan. Kalau saja tak ada Retno , janda kembang yang minta diantar ke pasar, mungkin ia masih terjebak dalam mimpi buruk siang bolongnya yang kering.

Panen membiarkan tubuh janda itu melendoti punggungnya, tangan mulus berjari lentik mendekap pinggang. Sedikit hiburan setelah tertekan mimpi menakutkan. Panen bersiul-siul membonceng sang janda, melewati seorang wanita gila berbaju rombeng, berambut kusut, yang berdiri di pinggir jalan. Wanita itu berteriak, “Kamu jahat! Kamu jahaat!” Wanita bernasib sial itu stress ditinggal kabur kekasih yang habis di PHK, karena pabrik tempat kerjanya tutup. Gara-gara kenaikan BBM.

Cerpen oleh RADIANI

Sepotong Lidah Liau Ke


Admin

Mei ni, gadis cantik, kutunggu kau di bawah lambaian dedaunan pohon Yang Liau. Yang bergoyang lembut mengikuti irama angin, di tepian sungai Huangpu . Apakah kau mengerti tentang ini? Tentang rasa yang tak tersampaikan, walau setiap hari kita bertemu.

“A Xing! Lihat aku menemukan burung ini!” A Lien, gadis cantik itu membawa seekor burung kecil yang terluka dalam keranjang rumput, bekas bungkus kepiting bulu. Sup kepiting bulu adalah masakan yang paling disuka ayah A Lien. Apakah ada sesuatu yang dirayakan keluarga itu hari ini? Sebab kepiting bulu mahal sekali, bila tak ada acara yang penting, tak mungkin kepiting bulu masuk dalam menu makan malam.

“Kau kelihatan gembira, ada apa? Kau berulang tahun?” tanyaku.

“Tidak! Lihatlah burung ini, kasihan sekali ya.”

“Burung apa?”

“Pu Ke.”

“Liau Ke.”

“Aku menemukannya tergeletak tak jauh dari kerbau- kerbau di ladang. Ini pasti burung Pu. Bukankah burung itu selalu naik di atas punggung kerbau.”

“Aku benci burung Pu. Burung yang malas. Tidak mau jalan sendiri. Kemana-mana menumpang punggung kerbau. Makan pun tergantung kerbau. Dia cuma menangkap lalat yang hinggap di pantat kerbau. Makhluk yang bisanya memanfaatkan makhluk lain!”

”Hei! Burung ini terluka, kenapa kau malah marah!” A Lien gusar.

“Itu bukan burung Pu, itu burung Liau! Burung Pu lebih besar dan berwarna abu-abu. Burung mungil berwarna biru ini, burung Liau. Lidahnya pasti terluka,” jelasku tegas.

“Bagaimana kau tahu ?” Mata sipit itu berkedip. Ah, kau memang menggemaskan A Lien.

”Legenda itu penyebabnya, burung ini pasti tadi ditangkap anak-anak dan dijadikan bahan permainan. Mereka pasti ingin membuktikan legenda itu.”

“Ceritakan padaku A Xing,” A Lien meminta dengan manis

“Liau ke dulunya seorang putri yang cantik. Ia jatuh cinta pada seorang pegawai istana berkasta rendah, tentu saja pada jaman itu hal tersebut sangat terlarang. Percintaan mereka pun menjadi kisah cinta terlarang.”

“Kasihan sekali, untung aku tak mengalaminya. Aku dijodohkan dengan A Lung, kami sederajat. Ayah sangat berhati-hati dalam memilihkanku calon suami. Nanti malam keluarganya akan datang melamarku.” Jadi untuk acara itulah kepiting bulu itu dihidangkan. Aku sekarang mengerti.

“Apa kau mencintai A Lung?” tanyaku langsung ke matanya. A Lien gagap menerima tatapku. Dia tercenung sesaat, lalu membuang mukanya.

“Entahlah aku belum mengerti. Aku masih ingin bermain di tepi sungai ini bersamamu, melihat kerbau, burung, dan memancing He Fen.”

“Kau suka sekali ikan beracun itu ya! Besok aku akan beli di pasar, dan memasaknya untukmu.”

“Ha ha ha! He Fen sungai lebih enak daripada He Fen pasar! Lanjutkan ceritamu.”

“Percintaan terlarang mendatangkan kutukan. Itu terjadi ketika Liau menolak dijodohkan dengan seorang pangeran. Bukan karena ia tidak tampan. Masalahnya ada janin yang tertanam dalam kandungan.”

“Anak dari pegawai berkasta rendah itu ya. Ah, kasihan sekali, cinta yang sulit. Pasti dipenuhi uraian air mata.”

“Dan banyak pengorbanan tentunya!” Seperti apa yang telah terjadi padaku. Aku banyak berkorban perasaan, hanya untuk bisa selalu dekat denganmu, tapi apakah kau mengerti tentang itu A Lien?

“Ya itu pasti.”

“Kaisar mengutuk putri Liau menjadi seekor burung. Dengan hati yang sedih Liau terbang keluar istana mencari kekasihnya untuk mengabarkan keadaanya. Tapi sayang sang kekasih tak dapat mengerti kata-kata Liau, karena Liau hanya bisa mencicit saja.”

“Lalu?”

“Liau pergi ke kuil di puncak gunung. Ia memohon pada dewa-dewa agar ia bisa bicara dengan bahasa manusia pada kekasihnya, untuk yang terakhir kali.”

“Kenapa Liau tak memohon untuk menjadi manusia kembali, jadi ia bisa bersama kekasihnya kembali?” Sebuah pertanyaan polos terlontar dari bibir mungil itu.

“Mmmm, Entahlah mungkin Liau sangat bingung. Jadi dia tak bisa berpikir hal lain. Lagi pula bila ia kembali jadi manusia, Apakah kaisar akan meloloskannya begitu saja? Ia pasti dikutuk lagi, menjadi katak mungkin.”

“Ha ha ha!”

“Dewa mengabulkan permohonannya, tapi dengan syarat berat. Kau pasti akan menangis bila mengetahuinya. Mungkin lebih baik tak kuceritakan saja ya?”

“Aaaah! A Xing jahat sekali! Jangan bikin penasaran nanti aku tak bisa tidur!”

”Ha ha ha! Baiklah, Liau harus memotong lidahnya, lalu dibakar dengan api dari puncak gunung.”

”Syarat yang berat. Bagaimana mungkin dengan sayap mungil ini bisa terbang ke puncak gunung. Sambil menahan sakit lidah yang terpotong.”

”Itulah perjuangan Liau. Sayang ia tak pernah sampai ke puncak gunung. Ia mati di tangan anak-anak. Seperti Liau Ke yang ada di tanganmu itu.”

”Ah sangat mengharukan. Selamanya Putri Liau tak pernah dapat menyampaikan perasaannya. Liau Ke ini juga akan matikah?”

”Tentu, tanpa lidah ia tak bisa makan, ia akan mati kelaparan.”

”Akan kubawa ia pulang. Biarlah ia mati dengan nyaman di rumah. Daripada mati di kerubung semut di ladang.” A Lien membungkus burung itu dengan sapu tangannya.

Kupandangi wajah A Lien. Mungkin ini untuk terakhir kalinya. Dia akan segera menikah dengan A Lung. Aku tak akan bisa memandangnya dengan bebas seperti ini lagi. Seorang pelayan sepertiku tak mungkin bisa mendapatkan anak bangsawan seperti A lien. Lagipula percintaan antara majikan dan pelayan adalah terlarang. Bukankah tugasku hanya melayani A Lien dengan penuh pengabdian dan kesetiaan. Bukan melayaninya dengan cinta. Aku sangat tahu diri dalam hal ini.

Legenda Liau Ke itu sebenarnya tak pernah ada. Aku mengarang cerita itu hanya untuk menggambarkan perasaanku pada A Lien. Tentang rasa cinta yang tak pernah bisa tersampaikan ini. Tapi apakah kau bisa mengerti A Lien? Haruskah kupotong lidahku?

Zhang jia gang, Shanghai, 051207.
Cerpen Oleh RADIANI

Kamu…



Kamis, November …

Aku bukanlah pelindung bagimu…

Namun setiap asa yang tercipta bukanlah tombak bagiku…

Aku tak pernah memaksamu untuk hinggap di sayapku..

Namun, aku akan menuntunmu sampai ke titik terang itu…

Dimana kita khan menemukan cahaya…

Dimana kita bisa bernafas lega..

Saat itu…kita khan menopang dagu…

Bahkan merenung tentang makna kehidupan…

Aku takkan menyeretmu kedalam kegundahan…

Berikan aku ruang untuk bergerak…

Di situ…

Aku akan menjagamu dan menghapus setiap tetes airmatamu…

Langit malam tampak begitu sunyi tanpa di temani sang bulan yang biasa menghiasi kesendiriannya . Lampu lampu merkuri di jalan pun mulai redup. Sementara kerlipan bintang mulai samar di angkasa, sementara angin tak lagi berhembus dan sang dewi malam pun tak lagi beterbangan tuk menabur cinta di kala sunyi…

Sementara aku hanya bisa terduduk lemas di sudut kamar sambil terus menyeka airmataku yang tak henti-hentinya menetes karna ulahmu…

Ya, ulahmu yang membuatku harus berpura-pura ceria di hadapan semua orang, padahal hatiku sakit !

Setidaknya airmata itu dapat membuat hatiku sedikit terobati dari bayang sang pangeran yang terus menggerogoti otak ini karna sejak tadi hanya wajahmu yang terus ada di pikiranku…Wajahmu yang terlihat lugu, polos dan tanpa dosa itu !

Kamu masih ingat ?

Suatu malam kamu pernah berkata, “Pandanglah satu bintang yang paling terang bila kamu rindukan aku, pasti aku akan merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan.”

Tapi nyatanya ?

Setelah kamu menghilang…

Satu bintang pun tak mau menampakkan wajahnya padaku. Ia terus bersembunyi di gelapnya malam

Apakah keadaan bintang itu sama seperti dirimu yang enggan kulihat dan kurasakan keindahannya ?

***

Melupakan seseorang yang kita cintai secara paksa…

Menyesakkan ! Tapi itu lah yang saat ini harus ku lakukan…melupakan sosokmu secara paksa walau sangat menyakitkan karna aku mencintaimu.. mencintai segala kekurangan dan kelebihanmu…

Mengenangmu…

Merupakan hal indah yang selalu membuatku tersenyum bahagia bahkan menangis karna sangat menyakitkan. Tapi aku suka dengan hal itu…mengenang saat dimana aku masih bisa bersandar di bahumu…saat aku tertawa ketika bercanda denganmu…saat aku harus panik ketika kamu sakit dan saat aku menangis ketika melihat kenyataan yang tak seindah bayangan kita…

Mengenalmu…

Awalan indah di hidupku… karna ‘warna’ yang kamu beri begitu indah untukku…

***

Setahun yang lalu…

Semua berawal dari masa orientasi. Kamu mengenalku karna aku selalu dikerjai oleh semua senior. Setelah masa itu pun, kamu mulai menjadi ‘peneror’ yang selalu memata-mataiku, kamu sering memberi kejutan kecil padaku, namun kamu tak pernah menampakkan ‘wujud’ mu di hadapanku.

Sampai suatu hari kamu mengalami kecelakaan hingga kamu pun mengakui siapa identitasmu. Rion Anindya Lencana, siswa kelas 1F.

Semenjak itulah, aku selalu mencari ‘wujud’mu namun tetap saja kamu selalu menghilang, entah kemana. Namun, tanpa di sengaja, akhirnya kita berpapasan di toko buku ketika kamu sedang bersama Zaki.

Manis dan pendiam, itu pendapat pertamaku tentangmu, dan semenjak itu lah kita menjadi dekat. Aku masih ingat sehari sebelum kamu berulang tahun, Zaki mengajakku ke Pantai Pasir Indah.

Setibaku di sana, tampak segerombolan anak-anak bermotor dan di sana ada kamu! Sementara itu Zaki pun ‘menyerahkan’ aku padamu, dan kamu membawaku pergi dari Zaki dan teman-temanmu.

Tepat di pinggir pantai, kita duduk berdua dan kata cinta itu pun terucap dari mulutmu. Kamu ingin menjadi kekasihku, kamu ingin menjadi sang dewa yang ingin menjagaku, dan kamu ingin menjadi perisaiku saat aku rapuh.

Ya, aku pun menjadi kado terindah di ulang tahunmu…

Hari yang ku lalui denganmu berjalan dengan indah…karna kamu adalah anugrah…kamu adalah sosok yang sangat sempurna di mataku.

Walau mungkin aku hanyalah gadis cengeng di matamu karna aku sudah berkali kali menangis di hadapanmu.

Yang aku ingat, saat aku menangis, kamu begitu panik, mungkin kamu bingung apa yang akan kamu perbuat melihat aku yang begitu rapuh namun tak lama, kamu menggenggam tanganku sambil berbisik, “Aku ga kan ninggalin kamu, aku sayang sama kamu, aku bakalan selalu ngejagain kamu.”

***

Sejenak aku terjaga dari lamunanku tentangmu mengenai awal perkenalan kita dulu…

Aku masih ingat kejadian yang terjadi siang tadi…

Kamu menelponku…

Kamu hanya terus menyalahiku tanpa sadar atas “Dosa Terbesar” yang telah kamu perbuat padaku.

Dosa yang selama ini kamu tutupi dengan perubahan sikapmu padaku

Dosa yang memupuskan semua harapan ku pada dirimu…

Banyak alasan seseorang untuk patah hati

Memang menyakitkan…

Takkan ada yang memahami walau seseorang berkata “Aku ngerti apa yang kamu rasakan”, tapi sebenarnya mereka tidak benar-benar mengerti karna mereka sedang tidak dalam posisi kita

Tanpa kamu sadari…

Aku bertahan walau sebesar apa pun badai yang ada di hati kita…

Badai yang pada akhirnya membuat cahaya di hati kita meredup…

Pada kepercayaan yang mulai rapuh…

Pada rasa yang mati secara perlahan…

Kepergianmu mampu membelah langit,,

Kepergianmu tlah mematahkan angan dan impian yang tlah ku rajut

Mungkin janji yang kamu ucapkan dulu bisa di lupakan dengan mudah setelah kamu membuat janji yang baru, janji yang tak akan pernah di tepati

Seperti janjimu padaku setahun yang lalu…

jelas takkan tertepati setelah apa yang terjadi siang tadi…

Kamu takkan menyadari perubahan sikapmu, tapi aku…seseorang yang sangat menyayangimu, akan merasakan setiap detail perubahanmu..

Tanpa sepengetahuan kamu, aku meminta Irvan untuk memata-mataimu. Dan akhirnya aku mengetahui bahwa ada yang tersimpan di balik perubahan itu…

Ada “dia” di antara kita…

Tanpa ragu, kamu pun mengakuinya yang kini hadir di hatimu…

Kisah kita pun berakhir… percuma saja segala cinta dan kasih sayang yang selama ini tertanam di hati kita

Walau di hatiku masih terukir namamu…

Ya, kamu…

Kamu yang sempat membuat hari-hariku indah…

Kamu yang sempat mengajari bagaimana cara mencinta…

Selanjutnya, aku hanya berpura-pura tertawa dan tersenyum di depan semua, aku hanya berpura-pura tegar sebelum akhirnya aku terjatuh kedalam derasnya airmataku

Tak ku sangka, kisah kita berakhir setragis ini…padahal..ku pikir kamu lah seseorang yang sangat tulus mencintaiku, menerimaku apa adanya, seseorang yang khan slalu menjaga di setiap derap langkah ku..namun kenyataannya..kamu tidak seindah itu, cinta..

***

Masih seperti tadi…

Aku duduk di sudut kamar sambil terus menangisi kepergianmu…

Sempat terpikir di benakku, “Apa pantas kamu ku tangisi setelah kamu memupuskan semua harapan yang ku punya ?”

Malam memang tlah sunyi….

Namun aku masih berharap kamu kembali hadir membawakan satu cinta tulus hanya untukku…bukan untuk dirinya…!

Walau berat, aku harus belajar tuk melupakanmu…

***

Jum’at, November…

Pagi ini aku terbangun karna memimpikanmu…

Dalam mimpi, aku melihatmu terbang dengan sayap emasmu yang begitu indah…Kamu menghampiriku sambil tersenyum…senyum yang tlah lama tak kamu berikan padaku

Kamu menggenggam erat tanganku sembari berbisik, “Aku sayang kamu, maafkan aku….”

Belum selesai kalimat itu terucap, tiba-tiba tubuhku terhempas jauh darimu… Saat itu aku melihat seorang yang tak ku kenal menghampirimu dan mengajakmu pergi sementara kamu menyambutnya…

Kamu terbang bersamanya dan berlalu sambil berkata “Maafkan kepergianku, Cinta…”

Ku kumpulkan semua tenaga yang masih ku punya untuk melangkahkan kaki ku ke sekolah, walau mungkin aku akan melihatmu di sana…

***

Satu kejutan menghampiriku saat aku baru saja tiba di sekolah karna berita tentang berakhirnya hubunganku dengan mu menyebar begitu cepat

Aku hanya bisa tersenyum getir saat satu persatu pertanyaan itu datang pada ku

Tadi, aku melihatmu sedang duduk di koridor…

Wajahmu tampak tak berdosa…seolah-olah tak ada yang hilang dari sebagian hidupmu

Setidak bermakna itu kah diriku ?

Cinta…

Sadarkah kamu…

Aku masih ingin bersamamu…

Aku masih ingin melihat senyummu…

Aku masih ingin merasakan dekapan hangatmu…

“Apa masih ada aku di hatimu ?”

***

Sabtu, November…

Sial !

Hari ini aku harus bertatapan denganmu…

Aku harus menyebutkan namamu saat aku di minta untuk mengabsen siswa di kelasmu

Ketika itu juga aku harus mendengar sorakan dari teman-temanmu yang menurutku begitu menyebalkan !

Sesaat mata kita bertemu…

Namun tak lama, pandanganku melayang ke arah mejamu….

Ada boneka pemberianku di sana…boneka kecil yang ku harap bisa membuat mu selalu ingat padaku..

Aku sempat terpana, tidak percaya…

Kupikir boneka itu akan kamu buang setelah kisah kita berakhir…

Namun tak lama, harapan itu hilang karna mungkin kamu sengaja ingin membuatku merasa “bangga” dengan cara seperti itu…

Hanya memperparah luka !

***

Senin, November…

Hari ini aku tak mampu melangkahkan kaki ku ke sekolah..karna tiba-tiba suhu badanku naik…

Hari ini pun aku ingin menyembuhkan luka dan menghapus bayangmu secara paksa…walau terasa perih dan menyakitkan

Aku kembali meringkuk di sudut kamar sambil kembali mengingat semua kenangan yang pernah terjadi di antara kita walaupun itu membuat hatiku semakin terluka…nyatanya…aku masih lemah tanpamu…

Aku terdiam, mencoba memaknai kepergianmu…

Sebelum akhirnya aku harus benar-benar melupakanmu…

***

Aku membuka mataku dengan berat…

Sejak tadi aku tertidur hingga malam tiba…

Aku beranjak menuju pavilium, dengan di temani angin malam dan tebaran bintang di langit, aku berusaha memulihkan hatiku yang terpuruk ketika aku kehilanganmu…

Aku mulai menyadari bahwa ini memang jalan yang terbaik karna cinta yang sejati…ialah ketika seseorang yang kita cintai telah mencintai orang lain, kita masih bisa tersenyum dan turut bahagia atas kebahagiaanya

Aku mulai mengambil serpihan hatiku yang sempat berantakan karnamu…

Sekarang telah tiba saatnya dimana aku harus melupakanmu, membiarkan kamu hilang dari hatiku dan merelakanmu pergi bersamanya…

Maaf…bila aku tak bisa menjadi yang terbaik untukmu…

Maaf…bila aku tak bisa menjadi seperti “dia” yang bisa membahagiakanmu di setiap saat dan maaf..atas ego yang slama ini bertahta di diriku

Aku bukanlah gadis yang diutus untuk menemanimu…

Di suatu tempat tlah ada gadis istimewa yang tercipta untukmu

Terima kasih cinta, kamu berhasil membuat aku merasakan patah hati, kehilangan dan rindu yang begitu mendalam. Rasa yang tlah lama tak ku rasakan itu kini kembali hadir…

Aku akan berusaha untuk berhenti mencintaimu meski airmata ini terus mengalir seiring dengan kepergianmu…

Ku biarkan asa ku terbang tinggi…

Biarlah rasaku padamu kusimpan rapi di sudut hatiku…

Aku menghela napas panjang, tak ada yang perlu di sesalkan…

Aku yakin, aku bisa tanpamu..

Aku sudah mampu merelakanmu pergi bersama cinta yang lain…

Dan kini…AKU SUDAH BISA MELUPAKANMU…

Cerpen oleh nda.imudsekalee

Hadiah Buat Ibu


Manta duduk di bangku kayu panjang di sebuah ruangan sempit di bawah tangga menunggu jam pulang. Dua tangannya menopang dagu sambil memandang lurus ke depan. Dia memikirkan hadiah lebaran untuk ibunya. Dan untuk itu dia sedang menabung untuk membelikannya mesin jahit listrik. Mesin jahit tua ibunya yang biasa dipakai untuk mengerjakan pesanan membuat ibunya kepayahan.

Malam itu tidak ada staf yang lembur di lantai tiga. Ia sudah membersihkan seluruh ruangan di lantai tiga, mengelap komputer dan kaca-kaca jendela, dan membuang sampah. Ia matikan lampu-lampu kecuali lampu di lorong yang dibiarkan menyala hingga pagi. Ia mengganti seragamnya dengan kemeja hitam yang sedikit berlubang di bahu kanannya dan mengganti celananya dengan jins. Sepatu kerjanya disimpan di bawah bangku panjang di dalam ruangan sempit bawah tangga. Ia memakai sandal jepit warna hijau. Sebelum pergi pulang ia mencuci mukanya dengan sabun dan menyisir rambutnya ke belakang. Jam masih belum melebihi pukul tujuh, Jakarta masih macet. Sebenarnya ia lebih suka pulang agak malam, sekitar jam delapan. Tapi tidak ada lagi yang ia kerjakan.

Ia berjalan melewati teman-temannya sesama office boy yang sedang duduk-duduk ngobrol di bangku kayu depan gerbang. Ia melambaikan tangannya pada mereka. Tukang ketoprak masih berjualan hingga jam sembilan. Warung rokok depan kantor sudah tutup sejak maghrib, penjualnya ogah-ogahan berjualan, minggu lalu saja ia menutup warungnya tiga hari.

Manta menunggu bisnya di perempatan jalan. Tiga pria duduk di atas pagar besi trotoar. Ketiganya merokok. Seorang wanita tua berdiri di ujung pagar, memakai sweter garis-garis hitam dan rok hitam sebetis sedang memeluk tas hitamnya. Sepasang laki-laki dan perempuan berjalan merapatkan diri. Tangan kanan si laki-laki memeluk pinggang si perempuan sedangkan tangan kirinya menenteng tas plastik putih belanjaan. Seorang calo berdiri menghadap arah bis datang dan memberitahu jurusan bis yang akan lewat. Ia meminta recehan dari kernet bis sebagai balas jasa mencarikan penumpang. Tidak seperti calo di tempat lain, ia menerima berapa pun uang pemberian kernet, bahkan seratus rupiah. Ia memang berpenampilan acak-acakan, rambutnya kemerahan dan gondrong. Matanya sayu seperti orang mabuk, namun meski demikian ia dapat membaca nomor bis dari kejauhan dan kemudian meneriakannya pada calon penumpang kalau-kalau itu bis mereka. Manta biasa menyapa si calo meski tidak saling kenal.

“Bisnya udah lewat. Tapi tadi ada yang masuk lagi, de” kata si calo dengan suara berat dan senyum yang lebar.

Manta mengangguk. “Udah berapa lama, bang?” tanyanya

“Barusan lewat”

“Makasih, bang” ucap Manta, bersender pada pagar trotoar, dua tangannya ditekuk dan diletakkan di atasnya. Ia bisa mengira-ngira kapan bisnya datang. Mungkin lima belas menit. Mungkin sepuluh menit. Mungkin setengah jam. Tapi seharusnya tidak selama itu kalau bisnya tidak ngetem di putaran balik.

Manta memandang gedung perkantoran di hadapannya. Gedung itu berlantai tiga puluh menurut hitungannya. Pikirnya, tidak ada gedung yang bertingkat tidak digenapkan seperti dua puluh tujuh lantai yang seharusnya dihitung tiga puluh lantai atau dua puluh lima. Ia menghitung lampu yang masih menyala. Ada sembilan ruangan. Beberapa temannya, office boy juga, kerja di gedung itu.

Seorang pengemis berdiri di hadapannya. Manta mengeluarkan seribu rupiah dari kantong kiri celananya dan memberikannya. Laki-laki pendek itu mengucapkan terima kasih, lalu melangkahkan kakinya yang terlihat lemah seperti belum makan tiga hari sebagaimana ia ucap pada tiap orang yang dimintai uang.

Satu Kopaja berhenti, bangku-bangkunya kosong, kernetnya turun menghampiri si calo. Si calo tahu apa yang harus ia katakan. Ia menyebut plat nomor kopaja yang terakhir lewat situ dan menyuruhnya menunggu sebentar. Di seberang jalan tiga perempuan menunggu untuk menyeberang. Tapi mereka tidak perlu menunggu hingga lampu lalu lintas menyala merah. Saat jalanan kosong mereka berlarian menyeberang sambil berpegangan tangan, tertawa cekikikan. Mereka ngobrol lagi sesampainya di seberang. Tiga laki-laki yang duduk di atas pagar trotoar menggodanya. Kernet yang sedari tadi mengetuk kaca jendela dengan uang logam kecewa karena perempuan-perempuan itu tidak naik bisnya. Ia menyuruh supir tancap gas.

Jam delapan empat puluh, Manta mendapat bisnya. Ia duduk di barisan kiri kursi di sebelah seorang pria gemuk yang sedang tidur. Ia duduk dengan setengah pantatnya membuatnya harus berpegangan pada kursi di seberangnya ketika bis belok ke kanan dan ia merasa lebih tidak nyaman jika penumpang atau kernet atau pedagang atau pengamen berjalan mondar-mandir dan membentur lengannya. Ia tidak mengeluh. Seorang wanita berdiri bersandar di kursinya. Manta mempersilahkan wanita itu untuk duduk di tempatnya. Wanita itu mengucapkan terima kasih.

Manta berdiri berhadapan dengan dua pengamen. Ujung gitar si pengamen hampir mengenai hidungnya. Si pengamen hanya tersenyum untuk sebuah kata ma’af. Pengamen yang lain memegang gendang, memandang ke luar menunggu penumpang agak penuh untuk kemudian bernyanyi. Seorang pengemis berjalan tenang menyodorkan kantong plastik ke tiap penumpang. Jalannya pelan seakan disengaja agar orang-orang merasa kasihan padanya. Bibirnya kering, matanya dibuat sembab. Ia mengenakan baju olah raga SMP di Bogor. Manta memberikan seribu rupiah padanya.

Bis memasuki jalan protokol, penumpang berhamburan naik, celingukan mencari posisi. Pengamen memulai aksinya dengan salam pembuka. Bis berjalan lambat. Semua kendaraan yang berada di sebelah kiri berjalan lambat. Kernet berteriak “Bekasi! Bekasi! …”

Setengah jam kemudian bis berhenti lagi sesaat sebelum memasuki pintu tol. Itulah saat para pengamen berhenti bernyanyi dan meninggalkan bis, saat Manta mengeluarkan seribu rupiah lagi, saat seorang petugas checker menghitung jumlah penumpang, saat pengamen lain menjual suara.

Bis melaju pelan memasuki gerbang tol. Macet menanti lagi di sana.

Bulan ini seharusnya masuk hitungan musim hujan tapi sedari pagi tadi hujan tidak juga turun. Siang hari kemarin hanya berupa rintik-rintik sebentar dan kemudian panas kembali. Untungnya angin masih bertiup, cukup untuk menghilangkan keringat mereka yang berdesakan di dalam bis.

Si pengamen selesai bernyanyi, tapi Manta tidak punya uang lebih untuknya. Ia mengangkat tangan kanannya dan memberikan senyum saat disodorkan topi dengan uang recehan di dalamnya. Pengamen itu membalas senyumnya.

Manta kehabisan uang untuk naik angkot selanjutnya dan karena itu ia akan berjalan kaki hingga ke rumahnya. Tapi besok adalah hari gajian. Ia masih menyimpan uang untuk ongkosnya besok. Uang yang diambil dari tabungannya yang disimpan di dalam amplop coklat di bawah tumpukan baju.

***

Ibunya sedang mengerjakan jahitan terakhir ketika Manta tiba di rumahnya. Manta membuka pintu, melepas sandalnya dan membariskannya bersama tiga pasang lainnya di samping kursi teras. Ia mencium tangan ibunya dan duduk di ruang tamu. Di meja di hadapannya terhidang setumpuk pisang goreng di atas piring melamin, di sebelahnya ada segelas teh manis yang masih hangat. Suara gemuruh mesin jahit berputar seiring kaki tua yang penuh varises mengayun turun naik. Tangan yang memutar roda mesin jahit pun penuh urat. Ibu Manta memutus benang dengan giginya. Manta mengunyah pisang goreng perlahan, minum teh manisnya sedikit dan kemudian bangkit berjalan ke kamarnya. Ia iba melihat ibunya.

Rumah itu hanya memiliki dua kamar tidur. Tidak ada plang reklame di depan rumah yang menandakan rumah itu menerima pesanan jahit. Tapi para tetangga tahu ibu Manta pintar menjahit. Manta punya rencana membuat plang reklame kecil tergantung di bawah lampu neon di depan rumah. Mungkin ia akan membuatnya setelah membelikan ibunya mesin jahit listrik. Kalau membuatnya terlalu terburu-buru, ia khawatir ibunya akan kewalahan menerima pesanan. Lantai rumah itu berupa karpet plastik yang melapisi coran semen. Dindingnya banyak yang gompal. Manta biasa menambalnya jika ada waktu. Pakaian-pakaian yang baru selesai dijahit digantung di dinding ruang tamu. Tidak ada TV. Satu-satunya hiburan hanya radio tape kecil pembelian almarhum ayah Manta yang diletakkan di ruang tengah dan biasa dinyalakan ibunya setiap subuh untuk mendengar ceramah pengajian.

Manta melepas kemejanya lalu menggantungnya di balik pintu. Dia mengambil handuk di gantungan sebelahnya, melilitnya ke pinggang, lalu melepas celana panjangnya dan menggantungnya di atas kemejanya. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah amplop coklat di bawah tumpukan pakaiannya, mengeluarkan semua uangnya dan menghitungnya. Lima ratus delapan puluh ribu rupiah. Ia tidak tahu berapa harga sebuah mesin jahit listrik baru. Yang ia tahu bahwa kekurangan uangnya sangat banyak. Mungkin ia akan membeli yang bekas. Ia menarik nafas dalam-dalam dan memasukkan uangnya kembali, menyisakan lima ribu rupiah untuk ongkosnya besok. Lima ratus tujuh puluh lima ribu rupiah dan besok adalah hari gajian.

Ibunya menunjukkan stelan seragam siswi SMP yang baru dijahitnya ketika Manta baru saja selesai mandi.

“Pesenan siapa, bu?”

“Anaknya bu Ani”

Manta mengangguk seperti tahu siapa anaknya ibu Ani. Tapi ia tidak kenal anak perempuan ibu Ani yang di SMP. Ia mengambil sisir di bufet ruang tamu dan membawanya ke kamarnya.

Ia memakai baju koko buatan ibunya. Ia menggelar sajadahnya lalu berdiri diatasnya menghadap ke depan rumah dan mengangkat dua tangannya. Ia berdo’a dalam sujudnya. Tidak banyak yang ia minta pada Tuhannya. Ia berharap dapat membeli mesin jahit listrik untuk ibunya.

Setelah itu ia kembali duduk di ruang tamu di hadapan ibunya yang sedang istirahat.

“Orderannya lagi banyak, bu?” tanya Manta.

Ibunya menggeleng kepalanya sedikit, tangannya mengipas-ngipas kepalanya dengan koran.

“Yah lumayan, Ta”

Manta berpikir mungkin menjelang lebaran akan banyak pesanan dan semestinya ia harus bisa membeli mesin jahit listrik sebelum lebaran. Ia makan pisang goreng terakhir dan menghabiskan tehnya. Ia tidak bicara soal mesin jahit listrik karena takut tidak akan terbeli jika menjanjikannya. Kemudian ia terdiam. Ibunya terdiam juga. Suara sepeda motor di jalan depan rumah menyalak keras sekali. Tukang nasi goreng mengetuk-ngetuk wajannya dengan garpu.

“Manta tidur duluan, bu.” ucap Manta

Ibunya mengangguk, memandang anak satu-satunya itu sebentar lalu melipat pakaian dan meletakkannya di atas meja.

Manta berbaring memandang langit-langit. Langit-langit yang penuh bekas bercak air dan hampir runtuh. Ia akan memperbaikinya suatu saat nanti, tukang yang akan mengerjakannya. Belum genap jam setengah sepuluh tapi Manta mengantuk berat. Ia menguap beberapa kali. Ia masih memikirkan ibunya. Ia masih memikirkan mesin jahit listrik. Ia mematikan lampu kamarnya.

Ia merasa baru saja tidur ketika azan subuh membangunkannya. Rumah masih gelap. Tidak seperti biasanya ibunya masih tidur.

Tiba-tiba ia menemukan dirinya berada di atas bis dalam perjalanan menuju kantornya. Hari itu terasa sejuk lebih sejuk dari AC di kantornya, bahkan lebih sejuk dari udara pegunungan. Ia seperti tidak berjalan di bawah bayang-bayang gedung-gedung melainkan di bawah gunung-gunung hijau, melangkah diantara wajah-wajah bahagia. Ya, semua orang bahagia bahkan para pengemis yang biasa diberikannya sedekah sangat bahagia. Pengemis-pengemis itu berpenampilan mewah, angkuh dan tidak pernah mengenal Manta.

Hanya satu orang yang tidak bahagia hari itu. Seorang wanita tua yang duduk di sudut jalan. Wajahnya tertutup topi capingnya, pakaiannya lusuh dan kotor di hadapannya tergeletak sebuah mangkuk besi yang berisi beberapa uang receh. Sesekali mangkuk itu berdenting, uang-uang receh di dalamnya berlompatan, beberapa sampai jatuh keluar, wanita itu memungutnya.

Manta melangkah mendekatinya. Ia melihat wanita itu adalah ibunya.

“Mereka semua pergi” ibu Manta berkata

“Mereka siapa?” tanya Manta.

“Tidak ada lagi yang mau menjahit pakaiannya ke ibu. Mereka bilang ibu terlalu lambat sedangkan mereka butuh pakaiannya cepat” jawabnya sedih “Andai kamu membelikan mesin jahit listrik.”

“Manta akan beli, bu. Manta akan beli.”

“Terlambat …” kata ibunya, mengambil mangkuk besinya, menaruh uangnya ke dalam kantong kain lalu bangkit dan berdiri tanpa menoleh pada anaknya, lalu berjalan meninggalkannya.

Ia terbangun dari mimpinya. Ibunya memanggil dari luar, mengingatkannya waktu sembahyang subuh.

Manta duduk terdiam di tepi ranjang. Ibunya mengetuk pintu kamarnya, memanggil lagi, memberitahu sarapannya sudah siap.

“Ya, bu. Sebentar lagi” jawab Manta. Ia mengambil amplop coklat tabungannya, menghitung kembali uang-uangnya, menghitung kekurangannya, menghitung seberapa cepat ia bisa membeli mesin jahit listrik. Dan pagi itu ia mencium tangan ibunya lebih lama dari biasa.

Sepanjang jalan ia memikirkan mimpinya semalam. Sebuah mimpi yang aneh. Tapi boleh jadi mimpinya itu memberiya pelajaran. Mungkin ia terlalu sering memberi sedekah. Mungkin para pengemis itu hanya berpura-pura padahal mereka sebenarnya mampu. Lagipula, dengan tidak memberi sedekah maka ia bisa menghemat lima atau seratus ribu rupiah per bulan. Bukankah itu jumlah yang besar? Jumlah yang cukup untuk tambahan membeli mesin jahit listrik.

Ia menerima gajiannya setelah jam makan siang, beberapa temannya membayar hutangnya. Ini gajian terbesarnya selama bekerja di kantor itu. Tambahan gaji yang didapat dari uang lembur, uang kesehatan dan bonus di pertengahan tahun.

Tidak ada yang lembur di hari gajian. Manta pulang sebelum jam tujuh malam dan mendapatkan bis di jam tujuh lewat lima. Ia berdiri di antara tangan-tangan yang menggantung, tubuh-tubuh yang mengeluarkan bau yang sama dengan dirinya. Bis terlalu padat malam itu sampai-sampai hidungnya mencari-cari asal udara segar dari jendela. Jalanan macet. Selalu macet tiap hari. Ini hari jum’at, puncaknya hari-hari macet. Pengamen tidak berani masuk, bis terlalu penuh. Iring-iringan pedagang mencari celah-celah jalan diantara penumpang, menawarkan permen, rokok, kipas, air minum, kacang, tahu, lontong, korek api gas, koran pagi yang dijual setengah harga. Beberapa pengemis tidak mau kalah. Gayanya pun aneh-aneh. Mulai dari sepasang pengemis buta hingga yang pura-pura mempunyai luka. Tangan-tangan lemah itu pun disodorkan ke hadapan Manta. Namun hari itu Manta tidak memberikan sedekah untuk pengemis. Tidak juga untuk pengamen. Mungkin awalnya cukup berat mengingat ibunya selalu mengajarkanya untuk bersedekah. Agama mengajarkan bahwa sedekah dapat membawa rejeki. Ah, ia berpikir, setidaknya ia tidak akan bersedekah sebelum membelikan ibunya mesin jahit listrik.

Bis terus merayap. Macetnya masih beberapa kilometer. Gemerincing recehan di tangan kernet menagih ongkos penumpang. Para penumpang bersiap mengeluarkan uangnya. Tapi Manta tidak menemukan uangnya. Lima ribu rupiah di saku kiri celana, dompet di saku kanan celana, uang gajian dalam amplop putih di saku kanannya. Kemana perginya uang-uangnya? Seseorang mencopetnya.

Kernet semakin mendekat, Manta semakin gelisah.

***

Bulan tidak nampak malam itu, tertutup awan hitam. Kilat terlihat sekali-sekali, lalu disusul bunyi gemuruh pelan-pelan. Angin berhembus tidak karuan, menggoyang-goyang pepohonan.

Manta tiba di rumah pukul sembilan kurang delapan menit. Ibunya yang membukakan pintu dengan wajah gembira, menyambut anaknya yang berjalan lesu. Manta duduk di ruang tamu dengan tubuh yang malas.

Melihat anaknya yang kecapekan, buru-buru sang ibu membawakan teh manis yang sudah dingin dan sepiring pisang goreng. Manta memandang ibunya dengan sedih sambil meyakinkan dirinya ia akan dapat membelikannya mesin jahit listrik.

Ibunya duduk di hadapannya, wajahnya terlihat cerah.

“Tadi pagi ibu ketemu bu Imah” ucap ibunya “Ibu Imah mau ngajak ibu jualan nasi uduk. Katanya nasi uduk buatan ibu enak. Ibu-ibu pengajian yang lainnya juga suka, mereka setuju kalau ibu buka usaha, selain itu ada juga yang mau nitipin kue pastelnya. Untungnya pasti lumayan, Ta. Tau sendiri,kan? Banyak anak kos di daerah kita”

“Trus … usaha jahit ibu gimana?” tanya Manta lemah seperti enggan bicara

“Manta … Manta, usaha jahit sekarang mah susah, apalagi lebih murah beli jadi. Lagipula ibu udah nggak sanggup … mata ibu udah kurang awas”

Manta terdiam sejenak. Bayangan wajah gembira ibunya menerima mesin jahit listrik, wajah-wajah pengemis, lalu dirinya yang kebingungan membayar ongkos sehingga berpura-pura menjadi pengamen datang satu persatu. Ia mungkin sedih, tapi ia terlalu lelah untuk memikirkannya. Ia mengunyah pisang gorengnya perlahan.

Di luar hujan mulai turun, dingin mulai datang dan keringat pun mulai hilang. Tapi kehangatan di rumah itu tetap terjaga. Antara Manta dan ibunya selalu ada kasih sayang tanpa harus mengecewakan salah satunya.

***

jangan dustai aku

Malam adalah retas sembilu
ketika cinta terburai
dan remah dusta bagai duri
sakit luar biasa

Aku berlari bersama gamang
gergasi gulita mengejarku
salahkah aku terlahir dalam raga
yang tak sepurna rembulan?
ketika sinarnya tak lagi melindap indah
dan pasi bagai halimun
di kawah dan gigir jurang hati

— Cinta Tak Lagi Melindap Indah
Effendy Wongso


Ari Sayang (Wina memang terbiasa menyebut diari berwarna hijau lumut miliknya itu dengan sebutan Ari), mungkin kamu mulai bosan mendengar ceritaku akhir-akhir ini yang melulu mengenai Teguh. Habis bagaimana, aku memang sedang jatuh cinta pada cowok itu.
Kata teman-teman, dia anak orang miskin. Tapi aku tidak perduli dengan semua itu. Teguh kelihatan dewasa, tenang dan pintar. Pokoknya, aku cinta setengah mati sama dia.
Kamu tahu tidak, Ri! Sekarang aku lagi hepi berat. Tadi istirahat sekolah, tanpa sengaja aku tabrakan sama Teguh di pintu perpustakaan. Salahku juga memang, mau keluar terburu-buru dan nggak ngeliat jalan. Makanya aku menabrak Teguh yang mau masuk. Waduh, senangnya. Soalnya wajahku terbenam di dadanya. Seru, deh!
Teguh nggak marah. Malah dia tersenyum. Manis banget. Aku cuma bisa melongo. Sedikit menyesal kenapa aku nggak pura-pura terjatuh. Barangkali saja Teguh akan mengulurkan tangan, memapahku untuk berdiri. Hihihi... agak norak ya, Ri?! Tapi biarin, deh! Namanya juga lagi kasmaran.
Wina berhenti sejenak. Membaca ulang tulisan di buku hariannya. Ia tercenung sambil berusaha merangkai kata apa yang akan ditulisnya lagi.
Tapi kira-kira Teguh mau nggak ya, Ri, sama aku. Aku kan nggak cantik. Mana pendek dan gemuk lagi. Kadang aku suka sedih, kenapa aku terlahir tidak cantik. Tidak seperti kakakku itu. Hingga akhirnya tak satu pun cowok yang berusaha mendekatiku. Padahal teman-temanku sudah punya pacar semuanya.
Ah, andai saja Teguh mau jadi pacarku....
Tulisan Wina berhenti lagi. Kali ini diraihnya boneka panda yang sedari tadi membisu di samping. Wina terlentang dengan boneka dipelukan. Menatap langit-langit kamar yang berwarna biru muda. Di sana ia seperti melihat Teguh tersenyum padanya.
Tidak ada sejam kemudian, kedua mata Wina telah terpejam. Di bibirnya ada senyuman. Barangkali ia tengah bermimpi indah.
Pintu kamar terbuka. Mama melangkah masuk. Kepala Mama menggeleng-geleng melihat Wina yang ketiduran. Diselimutinya tubuh Wina. Sebelum mematikan lampu, mata Mama tertumbuk pada buku harian Wina yang terbuka.

***

Dan menurut majalah yang pernah dia baca, tidak semua pria tertarik kepada wanita karena kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik karena inner beauty-nya.

Istirahat pertama. Biasanya saat seperti ini Wina pasti berada di perpustakaan. Maka Teguh mengayun langkah ke sana. Dari pintu perpustakaan ia lihat Wina duduk pada salah satu bangku, menekuri buku yang terbuka di depannya dengan serius.
Tanpa suara Teguh mengambil tempat di depan. Ditatapnya gadis yang tetap tidak bereaksi dengan kehadirannya itu.
"Hai...."
Wina mengangkat wajah. Terbersit sebuah senyuman di bibirnya begitu tahu kalau Teguh yang duduk di depannya.
"Serius sekali. Baca apa?"
Wina mengangkat buku di tangannya. Hem, sebuah novel sastra dari angkatan Balai Pustaka.
"Berniat jadi sastrawati?"
"Cukup jadi pengarang cerpen remaja saja."
"Honor pengarang itu kecil."
"Uang bukan segalanya, kan?"
Teguh mendegut ludah.
"Kamu mau baca buku juga?"
"Pengen ngobrol sama kamu aja."
Wina melengak. Jawaban Teguh barusan bagai anak panah yang menohok tepat di ulu hatinya. Hingga ia rasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dadanya kembang kempis. Tapi ia suka dengan debaran itu.
"Tentang apa?"
"Tentang apa, ya?" Mengerut kening Teguh. Hingga alis mata yang hitam dan lebat itu saling beradu. "Pokoknya pengen ngobrol saja."
Merona kedua pipi Wina. Ia jengah. Teguh tidak seperti biasanya. Kali ini dia terasa berbeda. Sangat perhatian dan lembut. Sementara sorot matanya kala menatap, membuat dengkul Wina bergetar dan lemas.
"Kamu nggak ke kantin?"
"Nggak lapar."
"Gimana kalau kita ngobrol di taman sekolah saja? Di sini udaranya terasa pengap. Belum lagi orang merasa terganggu dengan suara kita."
Oh, Tuhan! Apa yang Kau bisikkan ke telinga Teguh hingga dia begitu manis padaku, bisik Wina dalam hati.
"Bagaimana, Win?"
"Boleh."
Wina bangkit duluan. Lalu Teguh menyusul dari belakang. Tapi tiba-tiba Teguh mensejajari langkahnya dan dengan memberanikan diri menggenggam jemari tangan Wina yang kayak jempol semua.

***

Wina berdiri di depan cermin besar dalam kamar. Dengan seksama, ia pandang tubuhnya yang terlihat dari atas kepala sampai kaki, dalam cermin.
Tinggi tubuhnya hanya 150 cm dengan berat hampir 70 kilo. Meski kulitnya putih mulus, dia tidak terlihat menarik. Mungkin karena pipinya terlalu bulat. Ditambah dengan tumpukan lemak di leher dan pinggangnya.
Harus ia akui, kalau dia tidak cantik. Sangat berbeda dengan kakaknya yang pacar seorang pengarang cerpen itu.
Tapi Wina coba menghibur diri sendiri. Seperti kata orang-orang di tivi, kecantikan tidak hanya dipandang dari fisik semata. Ada kecantikan yang terpancar dari dalam hati, yang biasa disebut dengan inner beauty.
Dan menurut majalah yang pernah dia baca, tidak semua pria tertarik kepada wanita karena kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik karena inner beauty-nya.
Mungkin Teguh termasuk yang terakhir tadi. Yah, setelah hampir dua minggu melakukan pendekatan, akhirnya sore tadi Teguh menyatakan cinta padanya.
"Mungkin bagimu terlalu cepat kalau aku mengatakan sangat menyukaimu. Tapi dua minggu mengenalmu lebih dekat, aku sudah tahu kalau ternyata kau sangat istimewa. Hatimu sangat lembut. Bersamamu, aku merasa damai dan bahagia. Akan lebih menyenangkan kalau kita merajut hari depan bersama," kata Teguh seraya meremas jemari tangan Wina. "Maukah kau menjadi pacarku?" lanjutnya kemudian dengan menatap mata Wina amat mesra.
Coba bayangkan, perempuan mana yang tidak runtuh hatinya dipuja sedemikian rupa oleh cowok ganteng. Dan perempuan mana yang tidak pasrah saja ditatap sedemikian mesra oleh cowok sekelas bintang film.
Wina mengangguk malu-malu. Dan kursi di taman kota menjadi saksi betapa bahagianya mereka sore tadi. Di saat Teguh bermaksud mencium bibirnya, Wina mengelak halus. Hingga bibir Teguh menempel di pipinya yang gembul.

***

"Tinggalkan dia!"
"Apa maksudmu?"
"Dia hanya ingin memerasmu."
"Kamu tak berhak menuduh Teguh sehina itu," meninggi suara Wina.
Rere tertawa sinis, membuat rasa dongkol Wina menjadi berlipat.
"Lihat saja, semenjak pacaran sama kamu dia berubah drastis. Punya banyak baju baru, sepatu mahal, jam tangan selalu berganti-ganti dan sangat royal kepada teman-teman. Malah yang aku dengar, dia tidak lagi jualan rokok di lampu merah sepulang sekolah."
"Kamu menuduh aku yang membandari dia?"
"Siapa lagi?"
"Jangan sembarangan, Re! Aku tak setolol dugaanmu," ujar Wina, sebelum meninggalkan sahabatnya itu.
Rere mengikuti dari belakang.
"Win...."
Wina mengibas tangan.
"Kalau bukan kamu, dari mana dia mendapat uang sebanyak itu."
"Dia masih punya orangtua."
"Aku tahu keadaan keluarga mereka."
Wina menghentikan langkah. Garang ia menatap Rere. "Apa maumu sebenarnya?"
"Jangan berpikiran jelek. Aku hanya tidak ingin kamu diperalat."
"Teguh tulus mencintaiku."
"Mana mungkin."
"Aku memang jelek, Re! Tapi Teguh tidak seperti kamu, menilai seseorang hanya dari kulit saja. Satu hal yang perlu kamu tahu, sepeser pun Teguh tidak pernah meminta uang dariku."

***

Enam bulan yang lalu, Teguh pernah memasuki cafe mewah ini. Jadi ini kali kedua dia ke sini, untuk menemui wanita yang sama. Hanya bedanya, enam bulan yang lalu dia yang diundang kemari. Sedangkan hari ini, dia yang meminta wanita itu untuk datang kemari.
Mereka duduk berhadapan di meja yang sama seperti enam bulan yang lalu.
"Ada apa?"
"Saya mengundurkan diri, Tante!" kata Teguh pelan dengan kepala menunduk.
"Maksudmu?"
"Saya tidak mau lagi menerima uang dari Tante."
"Kenapa? Apa kurang banyak?"
Teguh mengangkat wajah dan menggeleng. Menatap Tante Mien dengan takut-takut.
"Jadi?"
"Saya... saya merasa berdosa kepada Wina, karena telah memanfaatkannya. Apalagi setelah enam bulan bersamanya, saya merasa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Wina begitu baik dan...."
"Masih ingat dengan perjanjian kita? Kamu Tante bayar dua juta perbulannya hanya untuk pura-pura jadi pacarnya, bukan untuk mencintainya. Karena Tante tahu, kamu tidak sebanding dengan anak Tante."
"Tapi...."
Ucapan Teguh terputus. Di depannya tiba-tiba Wina berdiri. Teguh terkejut. Begitu juga Tante Mien, mama Wina. Bagaimana Wina juga bisa berada di sini?
"Ternyata Rere benar, kamu hanya ingin memanfaatkanku," jeritnya sebelum berlari meninggalkan cafe itu.
Teguh bermaksud mengejar. Tapi Tante Mien menahan tangannya.
"Jangan coba-coba mendekati anak Tante!" desisnya tajam. Ia tinggalkan Teguh sendirian di tempat itu.

***

"Mama jahat!" pekik Wina sambil menelungkupkan wajah di balik bantal.
"Salah Mama memang. Tapi semua Mama lakukan semata-mata hanya ingin membahagianmu. Mama tahu kalau kamu begitu mencintainya. Berharap suatu hari ia menjadi milikmu. Lalu Mama selidiki latar belakangnya, setelah tahu semua, Mama yakin dia pasti mau disogok dengan uang."
Isak Wina terhenti. Kepalanya terangkat menatap Mama.
"Maafkan Mama karena tanpa sengaja pernah membaca buku harianmu."
Kembali Wina menelungkupkan wajahnya di bantal. Rasa marah, benci, sedih dan malu bergumul jadi satu di hatinya. ©


BIODATA PENULIS

T. Sandi Situmorang, lahir di Hutaraja, Sumatera Utara, 10 Desember 1978. Cerpen pertamanya dimuat di majalah Anita Cemerlang pada tahun 1994. Lebih dari seratus cerpen telah dipublikasikan pada sejumlah media, di antaranya: Anita Cemerlang, Aneka Yess!, Kawanku, Keren Beken, Ceria Remaja, Kompas Anak, Suara Pembaruan, Teen, dan lain-lain. Bukunya yang sudah diterbitkan berjudul Cewek Matre (Penerbit Andi, 2007). Sebuah cerpennya termuat dalam Antologi Cerpen Koran Medan (Dewan Kesenian Medan, 2006), dan sebuah cerpen remajanya juga termuat dalam buku Bahasa Indonesia untuk kelas dua SMP, Penerbit Erlangga.

putihnya hati putri


Satpam berkumis runcing itu menatapnya lekat, dari atas kepala hingga kaki. Lalu beralih lagi pada wajahnya. "Kamu siapa?"
"Wawan, Pak. Teman sekolahnya."
"Sudah buat janji?"
"Belum."
"Kalau begitu tidak bisa. Non Putri sedang tidur siang. Nanti saja kembali lagi. Sorean dikit, atau malam. Atau buat janji lebih dulu," ujarnya dingin. Sedingin udara lembab sehabis hujan.
"Tapi, Pak...."
Satpam yang di bajunya tertulis besar-besar nama SAMURI itu menggeleng tegas. Membungkam kata yang akan terucap dari bibir Wawan.
"Saya harus ketemu sekarang, Pak. Ada hal penting yang akan saya bicarakan."
"Kamu mengerti bahasa Indonesia tidak?" ketus suaranya.
"Tolong saya, Pak. Atau biarkan saya saja yang membangunkan Putri."
Satpam itu menatapnya tajam. Lalu tanpa kata dia tinggalkan Wawan, kembali duduk di pos. Kini matanya tertancap pada tivi 14 inch di depannya.
Wawan mendegut ludah. Tangannya berpegang erat pada terali besi pagar. Tubuhnya mulai menggigil. Akibat tersiram hujan lebat. Sebelum meninggalkan rumah, memang mendung telah menggayut. Tapi Wawan tidak peduli. Kesehatan Ibu lebih penting daripada sekadar hujan. Akibat tak ada ongkos, terpaksa ia menempuh jarak sejauh empat kilometer dengan kaki.
Di tengah perjalan hujan deras mengguyur. Begitu sampai di depan rumah Putri, hujan telah reda. Hanya meninggalkan angin lembab dan basah.
Kepala Wawan mendongak. Jendela paling ujung di lantai dua itulah kamar Putri. Mudah-mudahan saja Putri melihatnya berdiri di sini.
Semenit, dua menit, tiga menit. Tak ada wajah yang terlihat pada jendela itu. Wawan menurunkan wajah, beralih pada satpam yang terlihat merem-melek menikmati suguhan musik dangdut di tivi.
"Pak!"
Tak ada reaksi. Wawan memanggil lebih keras.
Satpam itu bergerak. Menoleh pada Wawan. "Belum pergi juga?"
Barangkali Putri sudah bangun, Pak! Bisa tolong...."
"Susah bicara sama orang dungu macam kamu. Dijelaskan nggak bakal mengerti."
Wawan mendegut ludah. Kalau tidak mengingat kondisi ibu yang makin kritis, sudah sedari tadi dia meninggalkan satpam sok jago dan tak punya perasaan itu.
Wawan terlonjak melihat ada bayangan pada jendela kamar Putri yang hanya tertutup tirai tipis itu.
"Put! Putri!" teriaknya sekuat suara.
"Hei, apa-apaan kamu!"
"Putri!!!" panggil Wawan dengan membuat kedua tangannya seperti corong di mulut, agar suara yang keluar lebih keras.
Tirai tipis pada jendela bergerak. Terlihat wajah Putri di sana. Tangan Wawan melambai.
Putri tersenyum. Lantas wajahnya menghilang. Pasti dia sedang turun ke bawah.

***

Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini.

"Kamu kenapa, Wan?"
"Tadi kehujanan. Jadi...."
"Kenapa tidak masuk?"
"Nggak diizinin sama satpam kamu," sahut Wawan melirik satpam berkumis runcing-runcing yang berdiri salah tingkah itu.
"Kenapa nggak dikasih masuk, Pak?"
"Atas pesan Nyonya, tidak sembarangan tamu bisa masuk."
"Wawan ini teman saya."
"Tapi...."
"Sudah. Cepat buka pintunya."
Tanpa protes lagi satpam itu membuka pintu pagar.
"Masuk, Wan!"
"Nggak usah, Put. Aku hanya perlu sebentar."
"Kita bicara di teras saja."
Ragu Wawan mengikuti langkah Putri.
"Kamu ada masalah?" tanya Putri pelan.
"Penyakit ibuku kambuh lagi."
"Sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Putri khawatir.
"Itulah makanya aku datang ke mari," sahut Wawan pelan. "Aku... nggak ada biaya."
"Ya ampun, Wawan! Kamu bagaimana, sih? Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Seperti biasa Putri mengambil sedikit uang dari tumpukan uang dari lemari pakaiannya. Bahkan kali ini Putri berbaik hati membawa Ibu Wawan ke rumah sakit.

***

"Temani aku beli buku."
"Aku nggak bisa."
"Lagi?"
Wawan mengelak dari tatapan Tia. "Mengertilah," desisnya pelan.
"Berapa lama lagi aku ngertiin kamu? Sementara kamu tak pernah menjelaskan ada apa sebenarnya."
"Tak ada apa-apa. Aku hanya sibuk. Jadi tak ada waktu."
"Kesibukan apa hingga kamu selalu tak punya waktu?"
"Tolong, jangan desak aku."
"Aku akan terus bertanya sampai kamu jelaskan semuanya padaku."
"Kamu memaksa?" suara Wawan mulai tidak enak.
"Aku punya hak untuk itu!"
Wawan menarik napas. Menatap gadis yang duduk di sampingnya. Tia pacarnya. Hampir setahun mereka menjalin cinta. Mereka berbeda sekolah, tapi masih bertetangga. Tia sama dengannya. Sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu.
"Aku sibuk, Tia. Harus ngerjain PR, beresin rumah, masak buat ibu. Kondisi Ibu kurang fit. Jadi harus aku yang mengerjakan semuanya," ujar Wawan dengan kepala menunduk.
"Perlu bantuan?" suara Tia melunak.
"Nggak usah. Aku bisa kerjakan sendiri."
Diam-diam Wawan menarik napas lega. Andai saja Tia tahu kalau dia tengah berbohong. Tak ada PR yang harus ia kerjakan. Ia juga tidak harus membersihkan dan memasak buat ibu karena semuanya sudah dikerjakan ibu. Malah ibu sudah mulai berjualan sayuran di pasar. Mulai hari ini dan seterusnya ia harus menjaga jarak dengan Tia. Jika Wawan merasa waktunya sudah tepat, ia akan memutuskan tali cintanya.
Bukan karena ia tidak lagi mencintai Tia. Tapi ada hal lain yang harus dia kedepankan ketimbang urusan itu.

***

"Capek?"
Gadis berkulit putih itu menggeleng. Peluh mulai bermunculan di sekitar dahinya yang mulus.
"Biar aku saja yang menyelesaikan. Jangan terlalu kamu paksakan."
"Tinggal sedikit lagi, kok."
Wawan membantu Putri mengatur letak kursi-kursi itu. Akan ada seminar 'Bahaya Narkoba bagi Remaja' di sekolah mereka. Kebetulan mereka berdua masuk sebagai anggota seksi repot.
"Sudah, istirahat saja, Put."
"Aduh, Wan. Jangan kuatir begitu, ah. Kesannya kamu ngeremehin aku."
"Tapi kamu nggak biasa kerja beginian."
"Mulai hari ini aku harus biasakan. Siapa tahu dapat jodoh...."
Wawan mengerti arah ucapan Putri. Makanya ia biarkan Putri ikut mengatur tata letak kursi itu. Bahkan ia hanya geleng kepala melihat Putri menyapu halaman aula sekolah. Bagi Wawan tidak sulit melakuan semua itu. Tapi tidak bagi seorang Putri. Putri anak konglomerat. Pembantu di rumahnya saja mungkin ada lusinan.
Wawan menghela napas panjang. Ia tahu untuk apa Putri mau bersusah payah begitu. Ia juga tahu apa yang harus ia lakukan agar Putri tidak kecewa. Karena Putri teramat berjasa baginya, juga ibunya.
"Besok sore kamu datang, kan?"
"Pasti, dong! Aku kan panitia juga. Lagipula sangat penting bagi remaja seperti kita untuk mengetahui apa saja efek negatif yang ditimbulkan narkoba. Memangnya kenapa?"
"Tunggu aku di rumah. Aku akan jemput kamu."
"Nggak usah, Put. Aku naik angkot saja."
"Jangan menolak kebaikan orang. Lagian, aku senang bisa nolong kamu."
Wawan diam. Di kepalanya muncul Tia. Bisa berabe kalau Tia melihat Putri.

***

"Kata Ibu, tadi kamu datang ke rumah."
Tia tersenyum, lantas mengangguk. Ia ajak Wawan duduk di teras rumahnya.
"Ada apa?"
"Besok sore teman sekolahku ada yang ulangtahun. Aku mau ngajak kamu."
Wawan mendegut ludah. Perubahan wajahnya membuat perasaan Tia tidak nyaman.
"Besok sore ada acara di sekolah."
"Kamu nggak bisa?"
Wawan mengangguk. "Maaf!"
"Akhir-akhir ini perasaan aku nggak enak, Wan. Sikap kamu lain sama aku. Kamu seperti menghindar dan menjaga jarak."
"Benar aku ada acara di sekolah. Seminar tentang narkoba. Aku termasuk salah seorang panitia. Jadi nggak mungkin aku nggak datang."
"Bukan cuma kali ini. Tapi selalu kamu menolak ajakanku. Bahkan kamu nggak pernah lagi datang kemari."
"Aku...."
"Ada orang ketiga?'
"Maksudmu?"
"Kamu punya cewek lain?"
"Kamu menuduhku selingkuh?"
"Sikapmu menjurus ke arah itu."
Walau berat, Wawan menghela napas panjang. Belum saatnya. Yah, belum saatnya ia bicara jujur kalau dalam hidupnya memang ada cewek lain. Wawan tidak mau Tia terluka. Terlebih lagi, perasaannya pada Tia tidak pernah berubah meski telah ada Putri.

***

"Ayo, Put!"
"Nggak pamit dulu sama ibu kamu?"
"Tadi udah, kok!"
Wawan menarik tangan Putri. Mereka harus cepat pergi. Jangan sampai Tia melihat Putri datang menjemputnya. Bisa gawat nanti.
Begitu keluar dari rumah, Wawan berdiri kaku di samping Putri. Di depan mereka berdiri Tia dengan tampang mirip serigala marah.
"Jadi cewek gendut ini yang membuat sikapmu berubah sama aku?" sengit suara Tia, tangannya menunjuk Putri.
"Tia, jaga mulutmu!"
"Jangan muna, deh! Sudah jelas kamu berduaan sama cewek jelek ini. Nggak sangka, mata kamu bisa silau karena mobil mengkilapnya itu."
"Tia!" bentak Wawan.
"Apa?!" Tia melotot dengan sikap menantang.
Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini.
"Putri, tunggu!"
Mobil melaju. Putri tak acuhkan panggilan Wawan.
"Puas kamu?!" desis Wawan tajam, sebelum meninggalkan Tia.
"Wan, tunggu!"
Wawan mengibaskan tangan tanpa menoleh. Ia banting pintu depan sekuat tangan.
Ia tidak mau bicara untuk saat ini.

***

"Kalau kamu jujur sama Tia, nggak bakal dia menghina aku seperti kemarin. Aku memang jelek dan gendut. Cuma punya uang. Tapi nggak pantas dia menghina aku begitu."
"Maafkan aku, Put!"
"Aku juga nolong kamu dengan tulus. Bukan karena aku ingin jadi pacar kamu. Bukan, Wan!"
Wawan menatap wajah Putri. Ia malu pada dirinya sendiri. Selama ini ia berpikir segala kebaikan Putri padanya bagai ada udang di balik batu. Ia pikir Putri jatuh cinta padanya. Makanya ia rahasikan Putri dari Tia, begitu juga sebaliknya.
"Besok aku akan minta Tia untuk minta maaf sama kamu."
"Nggak perlu, Wan. Bilang saja sama dia, aku bukan cewek perusak hubungan orang."
Wawan mengangguk.
Ah, Putri! Hatimu memang seribu kali lebih cantik dari rupamu, bisik Wawan dalam hati. ©



BIODATA PENULIS

T. Sandi Situmorang, lahir di Hutaraja, Sumatera Utara, 10 Desember 1978. Cerpen pertamanya dimuat di majalah Anita Cemerlang pada tahun 1994. Lebih dari seratus cerpen telah dipublikasikan pada sejumlah media, di antaranya: Anita Cemerlang, Aneka Yess!, Kawanku, Keren Beken, Ceria Remaja, Kompas Anak, Suara Pembaruan, Teen, dan lain-lain. Bukunya yang sudah diterbitkan berjudul Cewek Matre (Penerbit Andi, 2007). Sebuah cerpennya termuat dalam Antologi Cerpen Koran Medan (Dewan Kesenian Medan, 2006), dan sebuah cerpen remajanya juga termuat dalam buku Bahasa Indonesia untuk kelas dua SMP, Penerbit Erlangga.