Tampilkan postingan dengan label Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Desember 2010

putihnya hati putri


Satpam berkumis runcing itu menatapnya lekat, dari atas kepala hingga kaki. Lalu beralih lagi pada wajahnya. "Kamu siapa?"
"Wawan, Pak. Teman sekolahnya."
"Sudah buat janji?"
"Belum."
"Kalau begitu tidak bisa. Non Putri sedang tidur siang. Nanti saja kembali lagi. Sorean dikit, atau malam. Atau buat janji lebih dulu," ujarnya dingin. Sedingin udara lembab sehabis hujan.
"Tapi, Pak...."
Satpam yang di bajunya tertulis besar-besar nama SAMURI itu menggeleng tegas. Membungkam kata yang akan terucap dari bibir Wawan.
"Saya harus ketemu sekarang, Pak. Ada hal penting yang akan saya bicarakan."
"Kamu mengerti bahasa Indonesia tidak?" ketus suaranya.
"Tolong saya, Pak. Atau biarkan saya saja yang membangunkan Putri."
Satpam itu menatapnya tajam. Lalu tanpa kata dia tinggalkan Wawan, kembali duduk di pos. Kini matanya tertancap pada tivi 14 inch di depannya.
Wawan mendegut ludah. Tangannya berpegang erat pada terali besi pagar. Tubuhnya mulai menggigil. Akibat tersiram hujan lebat. Sebelum meninggalkan rumah, memang mendung telah menggayut. Tapi Wawan tidak peduli. Kesehatan Ibu lebih penting daripada sekadar hujan. Akibat tak ada ongkos, terpaksa ia menempuh jarak sejauh empat kilometer dengan kaki.
Di tengah perjalan hujan deras mengguyur. Begitu sampai di depan rumah Putri, hujan telah reda. Hanya meninggalkan angin lembab dan basah.
Kepala Wawan mendongak. Jendela paling ujung di lantai dua itulah kamar Putri. Mudah-mudahan saja Putri melihatnya berdiri di sini.
Semenit, dua menit, tiga menit. Tak ada wajah yang terlihat pada jendela itu. Wawan menurunkan wajah, beralih pada satpam yang terlihat merem-melek menikmati suguhan musik dangdut di tivi.
"Pak!"
Tak ada reaksi. Wawan memanggil lebih keras.
Satpam itu bergerak. Menoleh pada Wawan. "Belum pergi juga?"
Barangkali Putri sudah bangun, Pak! Bisa tolong...."
"Susah bicara sama orang dungu macam kamu. Dijelaskan nggak bakal mengerti."
Wawan mendegut ludah. Kalau tidak mengingat kondisi ibu yang makin kritis, sudah sedari tadi dia meninggalkan satpam sok jago dan tak punya perasaan itu.
Wawan terlonjak melihat ada bayangan pada jendela kamar Putri yang hanya tertutup tirai tipis itu.
"Put! Putri!" teriaknya sekuat suara.
"Hei, apa-apaan kamu!"
"Putri!!!" panggil Wawan dengan membuat kedua tangannya seperti corong di mulut, agar suara yang keluar lebih keras.
Tirai tipis pada jendela bergerak. Terlihat wajah Putri di sana. Tangan Wawan melambai.
Putri tersenyum. Lantas wajahnya menghilang. Pasti dia sedang turun ke bawah.

***

Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini.

"Kamu kenapa, Wan?"
"Tadi kehujanan. Jadi...."
"Kenapa tidak masuk?"
"Nggak diizinin sama satpam kamu," sahut Wawan melirik satpam berkumis runcing-runcing yang berdiri salah tingkah itu.
"Kenapa nggak dikasih masuk, Pak?"
"Atas pesan Nyonya, tidak sembarangan tamu bisa masuk."
"Wawan ini teman saya."
"Tapi...."
"Sudah. Cepat buka pintunya."
Tanpa protes lagi satpam itu membuka pintu pagar.
"Masuk, Wan!"
"Nggak usah, Put. Aku hanya perlu sebentar."
"Kita bicara di teras saja."
Ragu Wawan mengikuti langkah Putri.
"Kamu ada masalah?" tanya Putri pelan.
"Penyakit ibuku kambuh lagi."
"Sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Putri khawatir.
"Itulah makanya aku datang ke mari," sahut Wawan pelan. "Aku... nggak ada biaya."
"Ya ampun, Wawan! Kamu bagaimana, sih? Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Seperti biasa Putri mengambil sedikit uang dari tumpukan uang dari lemari pakaiannya. Bahkan kali ini Putri berbaik hati membawa Ibu Wawan ke rumah sakit.

***

"Temani aku beli buku."
"Aku nggak bisa."
"Lagi?"
Wawan mengelak dari tatapan Tia. "Mengertilah," desisnya pelan.
"Berapa lama lagi aku ngertiin kamu? Sementara kamu tak pernah menjelaskan ada apa sebenarnya."
"Tak ada apa-apa. Aku hanya sibuk. Jadi tak ada waktu."
"Kesibukan apa hingga kamu selalu tak punya waktu?"
"Tolong, jangan desak aku."
"Aku akan terus bertanya sampai kamu jelaskan semuanya padaku."
"Kamu memaksa?" suara Wawan mulai tidak enak.
"Aku punya hak untuk itu!"
Wawan menarik napas. Menatap gadis yang duduk di sampingnya. Tia pacarnya. Hampir setahun mereka menjalin cinta. Mereka berbeda sekolah, tapi masih bertetangga. Tia sama dengannya. Sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu.
"Aku sibuk, Tia. Harus ngerjain PR, beresin rumah, masak buat ibu. Kondisi Ibu kurang fit. Jadi harus aku yang mengerjakan semuanya," ujar Wawan dengan kepala menunduk.
"Perlu bantuan?" suara Tia melunak.
"Nggak usah. Aku bisa kerjakan sendiri."
Diam-diam Wawan menarik napas lega. Andai saja Tia tahu kalau dia tengah berbohong. Tak ada PR yang harus ia kerjakan. Ia juga tidak harus membersihkan dan memasak buat ibu karena semuanya sudah dikerjakan ibu. Malah ibu sudah mulai berjualan sayuran di pasar. Mulai hari ini dan seterusnya ia harus menjaga jarak dengan Tia. Jika Wawan merasa waktunya sudah tepat, ia akan memutuskan tali cintanya.
Bukan karena ia tidak lagi mencintai Tia. Tapi ada hal lain yang harus dia kedepankan ketimbang urusan itu.

***

"Capek?"
Gadis berkulit putih itu menggeleng. Peluh mulai bermunculan di sekitar dahinya yang mulus.
"Biar aku saja yang menyelesaikan. Jangan terlalu kamu paksakan."
"Tinggal sedikit lagi, kok."
Wawan membantu Putri mengatur letak kursi-kursi itu. Akan ada seminar 'Bahaya Narkoba bagi Remaja' di sekolah mereka. Kebetulan mereka berdua masuk sebagai anggota seksi repot.
"Sudah, istirahat saja, Put."
"Aduh, Wan. Jangan kuatir begitu, ah. Kesannya kamu ngeremehin aku."
"Tapi kamu nggak biasa kerja beginian."
"Mulai hari ini aku harus biasakan. Siapa tahu dapat jodoh...."
Wawan mengerti arah ucapan Putri. Makanya ia biarkan Putri ikut mengatur tata letak kursi itu. Bahkan ia hanya geleng kepala melihat Putri menyapu halaman aula sekolah. Bagi Wawan tidak sulit melakuan semua itu. Tapi tidak bagi seorang Putri. Putri anak konglomerat. Pembantu di rumahnya saja mungkin ada lusinan.
Wawan menghela napas panjang. Ia tahu untuk apa Putri mau bersusah payah begitu. Ia juga tahu apa yang harus ia lakukan agar Putri tidak kecewa. Karena Putri teramat berjasa baginya, juga ibunya.
"Besok sore kamu datang, kan?"
"Pasti, dong! Aku kan panitia juga. Lagipula sangat penting bagi remaja seperti kita untuk mengetahui apa saja efek negatif yang ditimbulkan narkoba. Memangnya kenapa?"
"Tunggu aku di rumah. Aku akan jemput kamu."
"Nggak usah, Put. Aku naik angkot saja."
"Jangan menolak kebaikan orang. Lagian, aku senang bisa nolong kamu."
Wawan diam. Di kepalanya muncul Tia. Bisa berabe kalau Tia melihat Putri.

***

"Kata Ibu, tadi kamu datang ke rumah."
Tia tersenyum, lantas mengangguk. Ia ajak Wawan duduk di teras rumahnya.
"Ada apa?"
"Besok sore teman sekolahku ada yang ulangtahun. Aku mau ngajak kamu."
Wawan mendegut ludah. Perubahan wajahnya membuat perasaan Tia tidak nyaman.
"Besok sore ada acara di sekolah."
"Kamu nggak bisa?"
Wawan mengangguk. "Maaf!"
"Akhir-akhir ini perasaan aku nggak enak, Wan. Sikap kamu lain sama aku. Kamu seperti menghindar dan menjaga jarak."
"Benar aku ada acara di sekolah. Seminar tentang narkoba. Aku termasuk salah seorang panitia. Jadi nggak mungkin aku nggak datang."
"Bukan cuma kali ini. Tapi selalu kamu menolak ajakanku. Bahkan kamu nggak pernah lagi datang kemari."
"Aku...."
"Ada orang ketiga?'
"Maksudmu?"
"Kamu punya cewek lain?"
"Kamu menuduhku selingkuh?"
"Sikapmu menjurus ke arah itu."
Walau berat, Wawan menghela napas panjang. Belum saatnya. Yah, belum saatnya ia bicara jujur kalau dalam hidupnya memang ada cewek lain. Wawan tidak mau Tia terluka. Terlebih lagi, perasaannya pada Tia tidak pernah berubah meski telah ada Putri.

***

"Ayo, Put!"
"Nggak pamit dulu sama ibu kamu?"
"Tadi udah, kok!"
Wawan menarik tangan Putri. Mereka harus cepat pergi. Jangan sampai Tia melihat Putri datang menjemputnya. Bisa gawat nanti.
Begitu keluar dari rumah, Wawan berdiri kaku di samping Putri. Di depan mereka berdiri Tia dengan tampang mirip serigala marah.
"Jadi cewek gendut ini yang membuat sikapmu berubah sama aku?" sengit suara Tia, tangannya menunjuk Putri.
"Tia, jaga mulutmu!"
"Jangan muna, deh! Sudah jelas kamu berduaan sama cewek jelek ini. Nggak sangka, mata kamu bisa silau karena mobil mengkilapnya itu."
"Tia!" bentak Wawan.
"Apa?!" Tia melotot dengan sikap menantang.
Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini.
"Putri, tunggu!"
Mobil melaju. Putri tak acuhkan panggilan Wawan.
"Puas kamu?!" desis Wawan tajam, sebelum meninggalkan Tia.
"Wan, tunggu!"
Wawan mengibaskan tangan tanpa menoleh. Ia banting pintu depan sekuat tangan.
Ia tidak mau bicara untuk saat ini.

***

"Kalau kamu jujur sama Tia, nggak bakal dia menghina aku seperti kemarin. Aku memang jelek dan gendut. Cuma punya uang. Tapi nggak pantas dia menghina aku begitu."
"Maafkan aku, Put!"
"Aku juga nolong kamu dengan tulus. Bukan karena aku ingin jadi pacar kamu. Bukan, Wan!"
Wawan menatap wajah Putri. Ia malu pada dirinya sendiri. Selama ini ia berpikir segala kebaikan Putri padanya bagai ada udang di balik batu. Ia pikir Putri jatuh cinta padanya. Makanya ia rahasikan Putri dari Tia, begitu juga sebaliknya.
"Besok aku akan minta Tia untuk minta maaf sama kamu."
"Nggak perlu, Wan. Bilang saja sama dia, aku bukan cewek perusak hubungan orang."
Wawan mengangguk.
Ah, Putri! Hatimu memang seribu kali lebih cantik dari rupamu, bisik Wawan dalam hati. ©



BIODATA PENULIS

T. Sandi Situmorang, lahir di Hutaraja, Sumatera Utara, 10 Desember 1978. Cerpen pertamanya dimuat di majalah Anita Cemerlang pada tahun 1994. Lebih dari seratus cerpen telah dipublikasikan pada sejumlah media, di antaranya: Anita Cemerlang, Aneka Yess!, Kawanku, Keren Beken, Ceria Remaja, Kompas Anak, Suara Pembaruan, Teen, dan lain-lain. Bukunya yang sudah diterbitkan berjudul Cewek Matre (Penerbit Andi, 2007). Sebuah cerpennya termuat dalam Antologi Cerpen Koran Medan (Dewan Kesenian Medan, 2006), dan sebuah cerpen remajanya juga termuat dalam buku Bahasa Indonesia untuk kelas dua SMP, Penerbit Erlangga.

Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya


Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Lelaki yang duduk tepekur di atas kursi malas yang diletakkan di kebun bunga dengan halaman tertutup rerumputan hijau lembut itu adalah seorang pemburu yang terkenal mahir menggunakan senapannya. Tak ada suara anak-anak di rumah itu sebab mereka semuanya, kecuali si bungsu, sudah pergi meninggalkannya mencari rezeki di kota-kota yang jauh, bahkan di sebuah pengeboran minyak lepas pantai di wilayah Ceram.

Mereka adalah anak-anak yang dulunya sangat rajin belajar dan berhasil menyelesaikan studi mereka di universitas-universitas terkenal. Putut, yang tertua, yang dulunya bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, sekarang bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan asing berukuran raksasa, dan dia tidak pernah tinggal di satu kota besar dalam tempo yang lama. Kegiatannya berterbangan dari satu bandara ke bandara internasional yang lain, memberikan konsultasi yang mahal harganya, beristirahat akhir pekan di pantai negeri jauh, dan hanya sekali-sekali singgah di Jakarta. Tidak ada waktu untuk pulang ke Bali mengikuti berbagai upacara adat yang mengalir tak kering-keringnya dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Anggota keluarganya di desa selalu membicarakannya sebagai seorang sosok yang sangat dibanggakan oleh seluruh keluarga di kampung. Warga desa yang berhasil, seorang local genius yang sudah go international.

Bilamana mereka berkumpul di pura desa untuk sebuah upacara besar, sebuah piodalan , maka ketidakhadirannya dapat dimaafkan, sedangkan warga desa yang sudah merantau ke Denpasar atau bahkan ke Surabaya, bilamana tidak menghadiri upacara itu selalu dibicarakan.

"Berapa jauhkah Surabaya? Banyak bus malam yang melintasi desa kita, tetapi kenapa dia tak datang? Bukankah dia dapat menyisihkan waktu barang dua malam untuk pulang?"

Mungkin yang paling rajin pulang untuk menghadiri piodalan di desa maupun di sanggah keluarga adalah Dek Gung yang bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Malang. Ada Bus Simpatik yang melayani penumpang dari Malang ke Singaraja, dan bilamana pulang, Dek Gung selalu menumpang bus itu, atau membawa mobil sendiri, datang dengan istri dan anak-anaknya. Dek Gung-lah yang paling mendapat pujian dari penduduk desa maupun dari keluarga, apalagi lelaki yang semasa mudanya itu aktif dalam kegiatan Teruna-Teruni di Banjar Bali di kota Singaraja sekarang sering memberikan dana punia untuk pembangunan desa maupun pura desa.

Mang Yul adalah anak ketiga, satu-satunya anak yang paling cantik dalam keluarganya sebab dialah anak perempuan satu-satunya. Adatnya santun sebagaimana diteladankan oleh ibunya. Dia sudah hidup bersama suaminya di Jakarta, dengan demikian tak banyak dibicarakan oleh orang sedesa karena dia sudah mengikuti keluarga suaminya yang berasal dari Badung.

Tut Sur adalah si bungsu, dan setelah itu tak ada lagi anak kelima. Bukan sebab lelaki itu mengikuti prinsip KB cara Bali, yakni beranak maksimum empat sebagaimana ditunjukkan oleh sistem penamaan anak-anak, tetapi karena Tut Sur membawa serta berita duka menyertai kelahirannya. Tut Sur-lah yang masih tinggal bersama lelaki tua yang dulu terkenal sebagai seorang pemburu yang mahir menggunakan senapannya itu, tetapi lelaki itu jarang berada di rumah walaupun tinggal bersama ayahnya.

Di rumah itu hanya tinggal tiga orang, lelaki itu bersama anaknya, seorang pembantu perempuan yang usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, dan seekor anjing yang bertugas menjaga rumah di malam hari.

Ketika istrinya hamil anak keempat itu, permintaan yang mudah dikabulkan adalah seekor babi guling yang lezat, harus dimasak sendiri, dan harus berasal dari seekor babi hutan yang masih muda.
"Kalau itu urusan kecil," kata lelaki itu.

Maka dia pun berangkat sendirian ke arah hutan lindung di Bali Barat, perbatasan antara wilayah Buleleng dan Jembrana, namun dia tidak berburu di sana. Di mulut hutan dia berbelok ke kanan menuju arah pantai. Di situlah tempat sebaik-baiknya berburu babi hutan sebagaimana teman-temannya sesama pemburu pernah katakan. Di sana dia mungkin akan bertemu sesama pemburu dan akan mengadakan perburuan bersama. Di hutan lindung, di wilayah dekat Desa Cekik, menurut teman-temannya tidak aman. Bukan lantaran polisi hutan sering berkeliaran, tetapi lantaran penjaga hutan dari alam gaib tidak selalu ramah pada orang yang datang memasuki wilayah ini. Banyak sekali pantangan yang harus dipatuhi bilamana orang memasuki wilayah ini. Yang pertama, tentu, hati mereka tidak boleh kotor. Lalu, mereka tidak diperkenankan membawa daging sapi. Lalu, tidak boleh mengucapkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan penjaga hutan di situ.

Pernah terjadi serombongan siswa SMA berkemah di wilayah itu bersama beberapa guru pembimbing. Sebelum berangkat, kepala sekolah sudah memberi pesan agar mereka berhati-hati berada di wilayah itu, tidak berbuat yang tak senonoh, berkata kotor, berpikiran kotor, dan tidak membawa bekal yang berasal dari daging sapi. Tidak boleh ada dendeng sapi, abon daging sapi, atau apa pun.

Salah seorang gurunya berasal dari Jawa dan tidak terlalu percaya pada hal-hal yang dianggapnya tahyul. Celakanya, ketika berada di wilayah itu dia ungkapkan ketidakpercayaan itu dalam kata-kata.

Tidak terjadi apa-apa, dan bapak guru itu semakin berani dengan mengatakan, "Bapak kan boleh makan abon, ya?" Lalu dengan enaknya dia menyantap abon yang dibawanya dari rumah dengan nasi bungkus yang disediakan panitia.

Tidak terjadi apa-apa, dan yakinlah dia bahwa apa yang dikatakan orang tentang semua larangan itu hanyalah tahyul belaka.

Ketika jam tidur datang, anak lelaki berkumpul dengan anak lelaki, dan siswa perempuan berkumpul dengan siswa perempuan dalam kemah mereka sendiri. Mula-mula terdengar teriakan dari kemah siswa perempuan.
"Ada yang bebainan ," teriak seorang siswa.

Ternyata bukan hanya seorang siswi yang bebainan, tetapi dua, tiga, lima. Sejumlah guru perempuan mencoba menolong, lalu guru lelaki ikut datang, lalu datang pula guru yang berbekal abon daging sapi itu, tergopoh hendak memberikan pertolongan.
"Aduh!" teriak lelaki itu, jatuh terkapar ke tanah, badannya kejang-kejang.
"Pak Man bebainan juga!" teriak para siswa panik.

Begitulah kisah teman-teman pemburu tentang Pak Man yang jatuh terkapar, dan ketika dicarikan dukun yang pandai, nyawanya ditebus dengan nasi kuning, bunga-bunga, dan sebaris doa.
"Kalau tidak, dia pasti mati. Nyawanya diminta oleh penjaga hutan."

Itu cuma salah satu kisah yang dapat ditimba dari wilayah itu. Masih banyak kisah lain yang terjadi tetapi tak tercatat. Misalnya tentang berpuluh mahasiswa yang tiba-tiba sakit perut.
"Lebih baik kita berburu di wilayah yang aman," kata pemburu itu.

Di langit tak ada bulan, hanya bintang yang bertebaran sampai memayungi laut. Dia menunggu dengan sabar sementara dari tadi dia tak bertemu seorang pun. Tiba-tiba dia mendengar suara semak-semak yang diterjang gerakan tubuh.
Dia pun bersiap-siap dengan senapannya.
"Ini pasti babi hutan," pikirnya.

Dan ketika suara semak belukar yang bergerak itu makin keras maka meletuslah senapannya dan terdengar tubuh yang rebah ke tanah.

"Ah, babi hutan besar yang terkena tembakanku," keluhnya, sementara istrinya minta seekor babi yang masih muda. Pelahan dia berjalan ke semak-semak itu, dan ketika dia menyorkan senternya ke arah bunyi rebah itu, dia tertegun tak berkata apa, tak bergerak.
"Tidak!!!"
Mematung beberapa saat lamanya, akhirnya dia lari meninggalkan tempat itu.
Kepada istrinya disampaikan warta bahwa semalaman tak dijumpainya babi hutan seekor pun.
"Mungkin mereka berpindah ke arah barat, tapi aku tak berani menginjak wilayah tenget itu," katanya.

Menjelang pagi istrinya mengeluh lantaran kandungannya terasa sakit. Dengan sepeda motor dia melarikan istrinya langsung ke rumah sakit. Ketika fajar tiba istrinya melahirkan anak mereka yang keempat, Tut Sur, Ketut Surya yang lahir ketika surya telah terbit. Ibunya meninggal saat melahirkan bayi yang sehat itu.

Lelaki itu menangis, dan seminggu kemudian dia menyembunyikan tangis yang lain dan menuai was-was yang makin bertunas, ketika dia membaca berita di harian Bali Post tentang mayat seorang lelaki dengan luka tembakan di jidatnya, ditemukan sudah membusuk di tengah hutan di wilayah pantai ujung barat Pulau Bali.

Tut Sur yang jarang tinggal di rumah itu ternyata dari jam ke jam berada di sudut kota, bicara dengan banyak orang yang tak terlalu mempedulikannya. Kadang dia bicara pada rembulan, kadang pada jembatan beton Kampung Tinggi yang kokoh. Pada suatu sore dia kembali ke rumah, bau badannya tak terlukiskan dan pakaiannya kotor. Pemburu itu masih duduk tepekur di kursi malas di tengah kebun bunga halaman rumahnya.

Tut Sur tiba-tiba menubruk lelaki itu, bersimpuh di pangkuannya dengan pertanyaan seorang anak yang haus akan jawaban:
"Ayah, ayah, kenapa ada luka di jidatku ini?"
Luka itu sudah ada sejak dia dilahirkan, tetapi kenapa dia baru bertanya sekarang?

Lelaki pemburu itu memegang kepala anaknya dengan kedua belah tangan dan dikecupnya bekas luka di jidat anak itu seolah dia ingin menghisapnya supaya tertelan ke dalam perutnya.
"Ya, Hyang Widhi. Kenapa tidak kau lubangi saja kepalaku agar anakku ini tidak menjalani siksa seumur hidupnya?"

"Ayah, ayah, kenapa ada bekas luka di jidatku? Apakah aku anak durhaka? Apakah aku Prabu Watugunung yang durhaka? Atau, apakah aku putera Dayang Sumbi?"
"Ah, siapakah yang mendongeng padamu, anakku? Ibumu bukan?" ***